Terdampak Lockdown di Malaysia, Sejumlah TKI Minta Kiriman Uang

oleh
PCI Muslimat Malaysia menggalang bantuan untuk TKI terdampak lockdown di negeri jiran.

Terhambat Politik

Malaysia lagi-lagi mencetak rekor terbaru untuk tambahan kasus harian virus Corona (COVID-19) tertinggi di wilayahnya. Lebih dari 19.000 kasus Corona tercatat di negara ini dalam 24 jam terakhir.

Seperti dilansir The Star dan Channel News Asia, Rabu (4/8/2021), Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan 19.819 kasus Corona terdeteksi dalam 24 jam terakhir. Angka ini tercatat sebagai tambahan kasus harian tertinggi sejak awal pandemi merebak tahun lalu.

Dari angka tersebut, area Klang Valley menyumbang lebih dari separuh kasus baru, sedangkan wilayah Selangor menyumbang 8.377 kasus dan Kuala Lumpur menyumbang 2.467 kasus baru. Wilayah Johor, Kedah dan Kelantan masing-masing melaporkan tambahan di atas 1.000 kasus dalam sehari.

Rekor terbaru untuk tambahan kasus harian tertinggi ini tercatat selang dua hari setelah Malaysia mencetak rekor kematian harian tertinggi, dengan 219 kematian dilaporkan dalam sehari pada Senin (2/8/2021) waktu setempat.
Jumlah kasus Corona di Malaysia meningkat dengan cepat dalam beberapa pekan terakhir. Beban kasus harian di negara ini bahkan mencetak rekor tertinggi selama 10 hari berturut-turut pada Juli lalu.

Sejak 12 Juli, jumlah kasus baru Corona di Malaysia tidak pernah turun dari angka 10.000 kasus setiap harinya.
Laporan Kementerian Kesehatan Malaysia menyatakan negara dengan total 32 juta jiwa penduduk ini dilaporkan telah menyuntikkan lebih dari 22 juta dosis vaksin Corona, dengan lebih dari 7,4 juta orang telah divaksinasi sepenuhnya — menerima dua dosis — hingga 3 Agustus.

Sebelumnya per Minggu (1/8/2021) kasus corona negeri jiran tercatat 17.150. Hal itu merupakan kasus harian tertinggi keempat di negeri itu hingga saat ini. “Ini membuat perhitungan nasional (total) corona menjadi 1.130.422,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah, dikutip Channel News Asia (CNA), kemarin.

Selangor masih menjadi negara bagian dengan kasus terbanyak, lebih dari 6.000 infeksi. Lalu Kuala Lumpur 2.086 dan Kedah 1.511. Malaysia mencatat ada 160 kematian baru karena Covid-19 kemarin. Sehingga total kematian negara itu menjadi 9.184.

Sebelumnya rekor tertinggi sempat dilaporkan Sabtu (31/7/2021). Malaysia mencatat 17.786 kasus harian. Beberapa analis menilai bahwa tingginya kasus Covid ini disebabkan oleh respon penanganan wabah yang kurang baik dan tanggap. Meski sudah lockdown berkali-kali, dinamika politik menjadi sebuah momok bagi penanganan pandemi.
“Respons Malaysia terhambat oleh pemerintahan yang kacau dan pertikaian politik yang terus-menerus,” ujar Joshua Kurlantzick, peneliti Asia Tenggara di lembaga think tank Council on Foreign Relations.

Malaysia sendiri memang sedang dalam konflik politik internal yang tajam. Banyak pihak yang mengecam dan meminta Perdana Menteri (PM) Muhyiddin Yassin untuk mundur akibat manuvernya yang meminta keadaan darurat nasional dilakukan dan pembatasan pergerakan publik secara sepihak.

Bahkan, langkah ini membuat pihak partai koalisi pendukungnya saat ini semakin menipis. Terakhir kontroversi juga muncul saat salah satu menteri menyebut status darurat akan dicabut meski Raja Malaysia menyebut tak ada pembicaraan soal itu.

Sementara itu, akhir pekan pengunjuk rasa berkumpul di pusat Kuala Lumpur menyatakan ketidakpuasan penanganan pandemi oleh pemerintah. Bahkan massa menyerukan agar Perdana Menteri Muhyiddin untuk mundur. Mereka membawa bendera hitam dan membawa poster “Kerajaan Gagal”. Ini menjadi tagar populer di Malaysia seiring lockdown yang dilakukan dan kenaikan kasus Covid-19.

Ini menjadi demo pertama warga secara fisik di Malaysia. Sebelumnya banyak yang enggan turun ke jalan karena pembatasan dan takut infeksi Covid-19. Malaysia menerapkan status darurat sejak Januari hingga 1 Agustus kemarin. Lockdown melalui aturan kontrol pergerakan (MCO) juga diterapkan secara nasional sejak awal Juli 2021. (fan/gas/cnbci)