SURABAYA| DutaIndonesia.com – “Terkadang Allah SWT, menguatkan (menolong) agamanya, melalui orang-orang pendosa,” kata Prof DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, saat memberikan pengajian kitab kuning kepada para santrinya, Rabu, 17 Oktober 2026 di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya.
Pernyataan Kiai Asep ini sempat memunculkan banyak pertanyaan di benak para santri. “Mungkin pada saat itu, sudah tidak ada orang muslim yan mampu untuk menolong agama Allah,” bisik seorang santriwati.
Pernyataan Kiai Asep tersebut di atas, bersumber dari hadist sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘Alaih) yang bunyinya; “Sesungguhnya Allah benar-benar menguatkan (menolong) agama ini dengan lelaki yang fajir (pendosa/jahat).” (HR. Bukhari no. 3062 & Muslim no. 111).
Dijelaskan Kiai Asep, hadis ini diucapkan Rasulullah pada saat Perang Khaibar. Ketika itu, ada seorang lelaki yang mengaku muslim ikut berperang bersama kaum muslimin. Lelaki ini bertempur dengan sangat berani dan luar biasa hebat hingga membuat para sahabat kagum.
Namun, Rasulullah justru bersabda, “Orang ini termasuk ahli neraka.”
Di tengah pertempuran, lelaki tersebut terluka parah. Karena tidak tahan menahan sakitnya luka, ia memutuskan untuk bunuh diri menggunakan anak panahnya.
Melihat akhir hidup orang tersebut, Rasulullah kemudian memerintahkan Bilal untuk menyerukan kepada manusia bahwa tidak ada yang masuk surga kecuali jiwa yang Muslim, dan setelah itu beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan lelaki yang fajir.”
Dari kisah hasbabul wurut tersebut, Kiai Asep menjelaskan hikmah dari hadis ini, yang memiliki beberapa pelajaran mendalam:
Pertama, Allah tidak bergantung pada makhluk: Maksudnya, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Untuk memenangkan Islam, Allah bisa menggerakkan siapa saja, bahkan orang jahat, fasik, atau kafir sekalipun untuk menguntungkan kaum Muslimin.
Kedua, niat yang keliru dalam berjuang: Seseorang bisa saja melakukan pembelaan yang besar terhadap Islam atau kaum Muslimin, namun tujuannya bukan karena Allah. Lelaki dalam hadis tersebut ikut berperang mungkin demi membela kaumnya, mencari ketenaran (riya), atau fanatisme golongan, bukan karena keikhlasan. Di akhirat, ia tidak mendapatkan pahala.
Ketiga, Jangan Tertipu dengan Amalan Lahiriah: Hadis ini menjadi peringatan keras agar seorang Muslim tidak bersikap ujub (sombong) atau merasa paling berjasa terhadap agama. Seseorang bisa saja terlihat seperti pahlawan di mata manusia, namun memiliki akhir hidup yang buruk (su’ul khatimah) karena rusaknya niat di hatinya.
Keempat, Keberfungsian yang Tidak Menyelamatkan: Seseorang bisa saja membawa manfaat besar bagi dakwah atau umat Islam melalui harta, kekuasaan, atau tenaganya, tetapi kontribusi tersebut tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri di hadapan Allah jika ia tetap terkubur dalam kemaksiatan atau kekufuran.
Jadi dari hikmah tersebut di atas, Kiai Asep mewanti-wanti pada para santrinya, bahwa hadis ini mengonfirmasi kekuasaan Allah yang mutlak dalam menjaga agama-Nya, sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua agar senantiasa menjaga keikhlasan serta kelurusan niat dalam membela kebenaran.(Moch. Nuruddin)













