
Lalu soal dangdut? Menurut dia, sebelum dirinya bertugas di Amerika sejatinya sudah ada “Dangdut in America” (DIA) di Delaware–sekitar tiga jam perjalanan dari New York via darat. DIA mempunyai studio rekaman dan sudah melahirkan banyak album lagu-lagu dangdut yang dibawakan oleh penyanyi asli Amerika. Bahkan baru-baru ini salah seorang musisi dan penyanyi dangdut Amerika itu melakukan syuting video clip album ‘Dangdut in America’ dengan latar belakang budaya Minang.
“Saya sangat mendukung misi promosi dangdut di Amerika Serikat karena dangdut musik asli Indonesia yang patut kita kenalkan dan promosikan. Terinspirasi oleh K-Pop Korea, saya bermimpi Indonesia dengan I-Pop atau Indo-Pop-nya bisa mendunia seperti K-Pop,” katanya.
Melalui penetrasi musik, kata dia, bisa dilanjutkan dengan penetrasi produk ekspor ke mancanegara. Atas dasar mimpi itu, saat ber-IG Live dengan artis dangdut Fitri Carlina, tercetuslah obrolan tentang perlunya membumikan dangdut di AS melalui pendirian Cafe Dangdut di New York.
Dan ternyata obrolan santai tersebut saat ini sudah akan membuahkan hasil berupa peluncuran Coffee Truck Cafe Dangdut dan Coffee shop Cafe Dangdut di New York. Kenapa memilih New York sebagai basis pendirian Cafe Dangdut?
“Kami bermimpi, melalui New York, Cafe Dangdut akan lebih bisa diterima kehadirannya saat buka cabang di kota-kota lain di dunia karena ada brand kota New York sebagai jaminan mutunya. Cafe Dangdut nanti mirip gerai coffee shop seperti starbuck cuma bedanya ada live musicnya (dangdut). Plus jualan merchandise bikinan UMKM kita. Jadi sambilan jualan kopi, merchandise dan kudapan Indonesia sembari mengenalkan dangdut. Jadi tagline Cafe Dangdut: dari Indonesia, oleh Indonesia, untuk dunia,” kata diplomat yang rajin baca buku ini.
Dan kafe dangdut juga menjadi salah satu cara agar music berirama Melayu ini bisa mendapat pengakuan sebagai warisan dunia asal Indonesia dari UNESCO.














