40 Anggota KKM Ponorogo Studi Banding ke Ponpes Amanatul Ummah, Kiai Asep Beri Wejangan Wujudkan Cita-cita Besar

oleh
YouTube player
Video KKM Ponorogo saat studi banding ke Ponpes Amanatul Ummah Pacet.

MOJOKERTO|DutaIndonesia.com – Pondok Pesantren Amanatul Ummah kembali menerima tamu yang melakukan studi banding tentang sistem pembelajaran. Kali ini sebanyak 40 peserta dari 20 lembaga pendidikan yang tergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah (KKM) di Kabupaten Ponorogo melakukan studi banding ke Ponpes yang berlokasi di Desa Kembang Belor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto tersebut. Masing-masing lembaga pendidikan diwakili oleh kepala madrasah dan wakilnya.

Selama di Ponpes Amanatul Ummah, para peserta disambut hangat oleh tuan rumah. Selain itu juga melihat langsung sebagian kegiatan para santri, termasuk salat malam hingga salat Subuh serta taushiyah yang diberikan langsung pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MAg. Setelah itu mereka mendapat wejangan dan motivasi dari Kiai Asep tentang bagaimana mengembangkan sistem pendidikan, khususnya pendidikan madrasah dan pesantren, hingga berhasil.

Kepada rombongan yang dipimpin Ketua KKM Kab. Ponorogo, Nasta’in, S.Pd, M.Pd.I, itu Kiai Asep menjelaskan sejarah bagaimana Beliau membangun Ponpes Amanatul Ummah mulai dari nol. Bahkan Kiai Asep memberikan kiat-kiatnya. Para peserta pun antusias mengikutinya.

Saat sesi tanya jawab, ada peserta menanyakan bagaimana  banyak siswa Ponpes Amanatul Ummah bisa diterima di hampir semua perguruan tinggi negeri favorit di Tanah Air dan perguruan tinggi di luar negeri. Daftar ratusan siswa-siswi Ponpes Amanatul Ummah yang diterima di PTN dan perguruan tinggi di luar negeri itu dipampang dalam baliho berukuran besar di depan pintu gerbang pondok pesantren tersebut sehingga para tamu mengetahuinya. Mereka diterima antara lain di UI, ITB, Unair, Unbraw, UGM, dan PT favorit lain. Selain itu juga diterima di PT di China, Rusia, Inggris, Amerika, Jerman, Kanada, Maroko, Mesir, Arab Saudi, dan lain-lain. Selain itu ada pula peserta yang menanyakan soal bagaimana membiasakan diri para santri untuk salat malam.

Kiai Asep menjelaskan bahwa awalnya mencari sendiri perguruan tinggi tersebut. “Mereka kita bekali kemampuan. Yang penting dua hal, gurunya baik-baik, tentu dengan koordinator, kepala sekolahnya yang juga baik. Dan sistem pendidikan yang kompetitif. Salah satu sistem kita, panjenengan tiru boleh ndak ya ndak apa-apa, sekolah tiga tahun kurikulum itu diselesaikan dalam dua tahun. Yang terakhir tryout, Senin sampai Sabtu pembahasan tuntas. Remidi terus menerus dan efektif. Kedua, kebiasaan mereka melihat dan membaca soal ujian.   Sepandai apa pun, kalau dia tidak terbiasa melihat dan membaca soal ujian, ya tidak bisa,” katanya.

Kepada para pendidik itu, Kiai Asep juga meminta agar memiliki cita-cita yang tinggi. Sebab Allah SWT suka dengan umatnya yang memiliki cita-cita besar. Kiai Asep juga mengingatkan agar berdoa supaya diberi semangat dan kekuatan untuk mewujudkan cita-cita yang besar tersebut.

Kiai Asep memberi contoh dirinya yang  bercita-cita mendirikan Madrasah Bertaraf Internasional. Bahkan, setelah Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) yang sudah memiliki program S3,  sekarang beliau tengah membangun kampus berskala internasional. Semua itu awalnya dari cita-cita besar dan dengan semangat besar pula untuk mewujudkannya.

“Awal berdiri sekolah di Ponpes Amanatul Ummah ini di bawah terop bahkan menyewa rumah penduduk untuk kelas sekaligus pemondokan santri. Santri generasi pertama hanya berjumlah 48 orang, di mana 11 di antaranya berasal dari Banyuwangi dan 8 di antaranya lulus dapat beasiswa 3 di kedokteran Unair dan 1 di UGM,” kenangnya.

Sejak awal, Kiai Asep memang bercita-cita mendirikan Madrasah Bertaraf Internasional. Untuk itu Beliau mengingatkan bahwa faktor utamanya adalah mencari guru yang terbaik dan memiliki manajemen yang kompetitif.

Sedangkan output atau lulusan santri yang diharapkan, lanjut Kiai Asep, adalah menjadi pribadi yang berilmu dan bertanggungjawab, menjadi ulama kaliber internasional, menjadi konglomerat yang dermawan dan menjadi profesional, karena prinsip yang diterapkan adalah santri dinyatakan keluar (lulus) itu sampai diterima di perguruan tinggi yang diinginkan oleh santri.

Karena itu Ponpes Amanatul Ummah banyak mendapat penghargaan. Misalnya The Most Favourite School in Indonesia (Sekolah terfavorit di Indonesia). Tahun 2018 mendapat award sebagai The Best Tutoring System School in Indonesia (Sekolah terbaik sistem pendidikannya di Indonesia). Bahkan di tahun 2019 mendapat Award Pondok Pesantren Modern Inspiratif Nomor satu di Indonesia. Kompetitornya adalah Pondok Modern Gontor, Pondok Darun Najah Jakarta dan Pondok Al-Amin Perinduan Madura. “Tetapi yang nomor satu Ponpes Amanatul Ummah,” kata Kiai Asep.

Sementara itu, Ketua KKM Ponorogo Nasta’in yang juga Kepala MAN 2 Ponorogo mengaku senang bisa mendapat ilmu dari Kiai Asep dan para ustadz di Ponpes Amanatul Ummah.

“Kami membawa rombongan 40 pesera dari 20 lembaga, masing-masing diwakili kepala madrasah dan wakilnya sejak Kamis 15 September diawali ke Madrasah Ibtidaiyah Terpadu (MIT) Ar Roihan Kab. Malang. MIT Ar Roihan secara resmi menerapkan pendidikan inklusi sesuai  SK Pendidikan Inklusi No. 3211 Tahun 2016. Saat ini MIT Ar Roihan Lawang memiliki siswa Berkebutuhan Khusus (ABK) atau disabilitas terbanyak di Indonesia. Baru setelah itu dilanjutnya ke Ponpes Amanatul Ummah,” kata Nasta’in yang juga Kepala MAN 2 Ponorogo.

Dalam kesempatan itu semua peserta mendapat hadiah buku tentang Kiai Asep. Sebanyak 20 peserta mendapat buku berjudul Kiai Miliarder tapi Dermawan karya Mas’ud Adnan dan 20 peserta lain mendapat buku  Inspirasi dan Perjuangan Kiai Asep Saifuddin Chalim, Membangun Manusia Indonesia karya Muhammad Ismail Adnan. Salain dua buku itu, sebelumnya sudah ada buku tentang Kiai Asep berjudul Kiai Besar Bin Kiai Besar yang Berpikiran Besar karya Djoko Pitono dan Achmad Lazim Suadi, yang sekarang tengah diterbitkan dalam edisi Bahasa Inggris. (gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.