JAKARTA| DutaIndonesia.com – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengundurkan diri dari posisinya sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero). Surat pengunduran diri Ahok diserahkan pada 2 Februari 2024. Ahok mengumumkan mundurnya itu dalam akun media sosialnya. Setelah itu Manajemen PT Pertamina juga sudah mengkonfirmasi kebenaran kabar tersebut.
“Unggahan ini merupakan bukti tanda terima Surat Pengunduran Diri saya sebagai Komisaris Utama PT. Pertamina (Persero),” kata Ahok dalam keterangannya pada unggahan di media sosial dikutip Jumat (2/2/2024).
Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu mundur untuk membantu kampanye Ganjar Pranowo – Mahfud MD pada Pilpres 14 Februari 2024. Yang menarik, Ahok mengumumkan mundur sehari setelah pengunduran diri cawapres bernama lengkap Mohammad Mahfud Mahmodin dari jabatan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, pada Kamis (1/2/2024).
Ada kisah menarik soal Ahok yang pernah berkonflik hebat dengan Anies Baswedan dalam perebutan tahta gubernur saat Pilgub DKI Jakarta 2017. Saat itu Ahok didukung Partai Nasdem. Padahal sekarang Nasdem menjadi pengusung utama Anies dalam Pilpres 2024.
Nah Anies mengaku pernah ‘digebuki’ NasDem karena saat Pilgub DKI Jakarta 2017 silam Nasdem mendukung Ahok.
“Kalau saya ceritakan Partai NasDem yang pertama kali mendukung, menominasikan, saya bukan anggota NasDem. NasDem itu Pilkada DKI mendukung Pak Basuki. Dan bertahun-tahun saya digebukin terus sama partai dan televisinya,” kata Anies dalam pidatonya dalam acara Rakernas LDII di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Kamis (9/11/2023) lalu.
Ahok sempat pula ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama terkait surat Al Maidah. Saat itu, dia menjabat Gubernur DKI Jakarta, Ahok berpidato di hadapan masyarakat Kepulauan Seribu pada Rabu (28/9/2016). Dalam pidato itu, Ahok menyinggung surat Al Maidah ayat 51 dengan ucapan ‘dibohongin pakai Surat Al Maidah 51’. Saat itu, Ahok sebetulnya sedang bicara soal program untuk Kepulauan Seribu, namun dia mengaitkannya dengan Pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang pada intinya, program akan berjalan meski dia tidak lagi menjabat gubernur.
Dalam pidato itu, Ahok menyebut mereka yang tidak memilihnya mungkin karena dibohongi menggunakan Surat Al Maidah ayat 51. Ayat itu dalam Al Quran secara tekstual melarang umat Islam memilih pemimpin nonmuslim, meski ada pihak yang menafsirkan lain. Polemik hebat terjadi. Konflik ini menajam hingga hampir membelah warga bangsa. Ya itulah politik.
Kini Ahok mundur dari posisi di Pertamina untuk mendukung Ganjar-Mahfud, rival Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, pada pilpres nanti. Ahok akan menghadapi Nasdem yang dalam pertarungan ini menjadi kendaraan perang utama Anies-Cak Amin.
Yang menarik lagi, ada wacana koalisi kedua cawapres-cawapres ini sehingga Ahok bisa jadi akan mendukung Anies nantinya. Apakah itu mungkin? Kita tunggu proses Pilpres ini berlanjut. Ahok juga sempat diusulkan menjadi bakal cawapres untuk Anies di Pilpres 2024.
Tidak Amanah
Mundurnya Ahok mendapat kritikan dari Aktivis 1998, Rahmat Hidayat Pulungan. Dia mengkritik langkah Ahok yang baru memutuskan mundur dari Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina untuk ikut kampanye pasangan capres dan cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud Md, hanya beberapa hari sebelum coblosan Pilpres.
Rahmat menilai Ahok bersikap tidak amanah. “Ahok tidak amanah. Ya kalau tidak cocok dan sejalan dengan pemerintah, harusnya dari awal sejak pengumuman capres dan cawapres langsung mundur saja,” kata Rahmat kepada wartawan, Jumat (2/2/2024), dikutip dari detik.com.
Rahmat menyoroti momentum Ahok dalam pengunduran diri sebagai Komut PT Pertamina. Dia heran langkah itu baru diambil setelah proses pemilu mendekati pencoblosan pada 14 Februari mendatang.
“Masa mundur sudah 4 bulan proses kampanye. Mundurnya pas akhir bulan lagi, setelah gajian. Kritik orang nggak punya etika, lah dia sendiri sama saja kok,” katanya.
Dia menilai keputusan Ahok mundur dari Komut Pertamina tidak lebih dari manuver receh. Menurutnya, Ahok idealnya menyelesaikan tugasnya sebagai Komut Pertamina sampai selesai.
“Mundurnya Ahok menjelang pemilihan itu malah membenarkan persepsi masyarakat selama ini bahwa Ahok itu lebih sering buat gaduh, manuver receh, dan cari sensasi,” ujar Rahmat.
“Kita ini, kalau dikasih kepercayaan, ya kita tuntaskan saja sampai selesai. Kalau gitu, kan kesannya dia mau menang sendiri aja, hanya mikirin dirinya saja,” sambungnya.
Rahmat sendiri menjabat komisaris PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Sebelumnya sejak 2021 sampai 2023 dia menjabat sebagai Komisaris PT Kimia Farma Tbk. Pada 2017 sampai 2021 Rahmat menjabat sebagai Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero). Sebelumnya selama 2015 sampai 2017 dia menjabat Komisaris PT Rekayasa Industri (Rekind). Pada 2013 sampai 2015 menjadi Komisaris PT Berdikari.
Lulusan S1 Fakultas Ekonomi Manajemen Perbanas Institute Jakarta juga pernah menduduki jabatan komisaris di sejumlah perusahaan swasta. (wis/det)














