WASHINGTON DC| DutaIndonesia.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan sudah angkat tangan. Dia mengaku ingin bertemu pemimpin tertinggi Iran. Ini aneh sebab Trump baru saja membunuh keluarga pemimpin tertinggi Iran itu.
Presiden Trump mengatakan ingin sekali bertemu pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. Kabar lainnya, Trump juga mengakui bahwa ia membentak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam sambungan telepon beberapa hari lalu. Trump stres dengan perang yang sangat menguras energi Amerika ini.
Mojtaba Khamenei, yang menggantikan mendiang ayahnya Ayatollah Ali Khamenei, diyakini mengalami luka-luka akibat serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu. “Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan,” kata Trump dalam sebuah wawancara, seperti dikutip AFP
Bukan hanya itu keanehannya, sebab Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio secara sepihak mengaku bahwa perang melawan Iran telah berakhir. Padahal serangan masih berlanjut.
Rubio menyatakan AS tidak lagi melakukan serangan berkelanjutan ke wilayah Iran karena operasi militer yang disebut Washington sebagai Operation Epic Fury itu telah selesai. “Kami tidak lagi melakukan serangan berkelanjutan di dalam Iran untuk melemahkan militer mereka, karena Epic Fury sudah berakhir,” kata Rubio saat memberikan keterangan di hadapan Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Rabu (3/6/2026).
Rubio juga menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mencapai kemenangan dalam konflik tersebut. Padahal AS belum mampu menaklukkan wilayah apa pun dari Iran kecuali membunuh banyak warga sipil. Bahkan, anggota parlemen AS dari Partai Demokrat menyebut perang masih berlangsung.
Perang antara AS dan Israel melawan Iran, yang oleh Washington disebut sebagai Operation Epic Fury, telah meluas ke kawasan Timur Tengah sejak serangan pertama terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan menyerang sekutu-sekutu AS di kawasan dan secara efektif memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Rubio mendefinisikan kemenangan AS sebagai keberhasilan menghancurkan kemampuan industri pertahanan Iran, mengurangi jumlah peluncur rudal, serta menekan persediaan drone milik Teheran. “Kami mendefinisikan kemenangan dengan menghancurkan basis industri pertahanan mereka, secara signifikan mengurangi jumlah peluncur rudal yang mereka miliki, secara signifikan mengurangi persediaan drone mereka,” ujar Rubio.
Namun Demokrat bantah perang telah berakhir. Pernyataan Rubio mendapat perlawanan dari anggota Demokrat di Kongres AS. Mereka menilai konflik masih berlangsung, terutama setelah Iran melancarkan serangan terbaru ke wilayah sekutu Washington. Iran menyerang bandara Kuwait pada Rabu, menewaskan satu orang dan melukai 63 lainnya dalam eskalasi besar konflik. Bahrain, yang juga menjadi lokasi keberadaan militer AS dalam jumlah besar, turut mengalami serangan drone Iran pada malam sebelumnya.
Anggota DPR AS dari California, Sara Jacobs, mengkritik klaim Rubio tersebut. “Anda bisa mengubah nama operasinya. Itu tidak mengubah fakta bahwa Selat masih ditutup, dan para anggota dinas saya, serta seluruh anggota dinas kita, masih berada dalam bahaya,” kata Jacobs. (ap/jok)














