Islam sesungguhnya telah memberikan acuannya dalam menilai sesuatu atau seseorang. Apakah menilai diri sendiri atau orang lain.
Islam tidak menafikan adanya “fadhail” (kelebihan-kelebihan) tertentu pada masing-masing orang. Ada yang dilebihkan pada aspek fisikal (ganteng atau cantik). Ada pula pada aspek harta (kaya). Juga pada aspek sosial (terkenal dan dihormati).
Dan tentunya ragam lainnya dalam kehidupan dunia ini.
Pada aspek-aspek itu Allah menegaskan “dan Allah melebihkan sebagian di antara kalian di atas sebagian yang lain”.
Ini menjadi sunnatullah yang dengannya terjadi “tansiiq” (interkoneksi) dalam kehidupan. Yang miskin perlu yang kaya. Dan yang kaya juga perlu yang miskin. Yang bodoh perlu yang pintar. Dan yang pintar juga perlu yang bodoh.










