Di Balik Tour Dakwah Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag di London (1): Keputusan Berangkat Pada Saat Darurat

oleh
Keluarga besar mengantar Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag dan istri di Bandara Juanda. (foto: Dokumenrasi}

“Izinkan saya mengutip kembali tulisan itu, sebab catatan tersebut tanpa saya duga telah membuat sejumlah suami, termasuk para ustad yang sedang membimbing umrah di Makkah, merangkul istrinya…..”

Oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag

DUA bulan menjelang Ramadhan 1444 H/2023, pengurus PMIL (Pengajian Muslim Indonesia London) dan sekitarnya meminta saya melalui telepon untuk menjadi imam dan pengisi kajian Islam di London, Inggris.

Permintaan itu dengan senang hati saya terima. Sebab, saya telah lama rindu bersafari dakwah kembali di kota global yang terunggul dalam bidang seni, bisnis, pendidikan, penelitian, dan kesehatan itu setelah safarai dakwah yang sama pada tahun 2005, yang laporannya telah saya tulis beberapa seri di harian Jawa Pos.

“Pak, saya minta waktu sepekan. Saya minta izin terlebih dahulu kepada Pak Rektor. Jika diizinkan, saya berangkat memenuhi undangan teman-teman,” kata saya kepada Ustad Jamalul Lail.

Saya masih ingat betul ustad paruh baya ini. 17 tahun silam, saya tinggal di rumahnya di London selama Ramadhan dengan nuansa sangat agamis melebihi rumah saya. Saat itu, mata saya berkaca-kaca, karena haru dan kagum menyaksikan ia merayu dua anaknya yang masih sekolah SD untuk makan sahur, lalu dengan sabar menyuapinya sendok demi sendok dengan iringan doa. Dan, anaknya juga mau.

Padahal, guru dan teman-teman sekelasnya melarangnya berpuasa seharian, apalagi sebulan penuh. Mereka takut kesehatan anak-anak yang amat memerlukan gizi dan protein pada masa-masa pertumbuhan seusia itu.

“Jika di Arab atau Indonesia, pemandangan ini biasa. Tapi, ini di negara sekuler,” kata saya dalam hati sambil menghabiskan segelas susu yang dihidangkan.

Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag dan istri. (Foto: Dokumentasi)

Itu kisah 17 tahun silam. Sekarang, semua anak itu telah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja di sebuah perusahaan. Mereka ikut membantu sebisanya syiar Islam bersama sang ayah.

Setelah mendapat izin Rektor UIN Sunan Ampel, Prof Ah Muzakki, MAg, DipSEA, MPhil, PHD, dan saya menyatakan kesediaan berangkat, tiba-tiba usai berkhutbah Jumat di Bapenda Jawa Timur, saya memuntahkan darah segar dan gumpalan hitam.

Ketika keadaan membaik setelah dirawat di Rumah Sakit Islam Surabaya Jemursari selama empat hari dan berpindah ke RS Airlangga selama tiga hari, saya bertanya kepada dokter yang menangani saya, dr Tri Asih Imroati, SpPd-KGEH, apakah saya memungkinkan untuk tugas dakwah selama Ramadhan di Inggris.

“Oh tidak apa. Lakukan Prof, asalkan teratur minum obat sesuai resep. Jangan khawatir, sebab beberapa saluran yang pecah penyebab darah keluar sudah saya ikat,” jawab dokter meyakinkan.

“Alhamdulillah,” sahut anak-anak saya dan istri yang sedang memijit ringan kaki saya.

Ketika sampai di rumah, saya sempatkan menulis pengalaman ruhani singkat melalui handphone dengan judul “Pulang Sekolah” dan telah saya kirim ke sejumlah teman terdekat.

Izinkan saya mengutip kembali tulisan itu, sebab catatan tersebut tanpa saya duga telah membuat sejumlah suami, termasuk para ustad yang sedang membimbing umrah di Makkah, merangkul istrinya dengan linangan air mata, meminta maaf atas kurangnya penghargaan kepada istri selama ini.

Pulang Sekolah

Inilah hari ketujuh sakit saya, dan sekarang sudah pulang dari RS dengan selusin pelajaran berharga. “Ada ratusan pesan Tuhan dalam setiap kejadian,” kata Jalaluddin Rumi.

Setiap kali saya mengeluarkan kotoran bercampur darah hitam lewat belakang, saya merasakan sakit yang luar biasa dengan linangan air mata dan keringat dingin.

“Anak-anakku tercinta, semoga engkau tidak sakit. Biar ayah saja. Saya lebih sakit melihat engkau sakit daripada sakit saya sendiri,” pesan saya kepada anak yang mengusap air mata dan keringat dingin di dahi.

Kata itu saya kutip dari istri saya yang sering berkata, “Aku melahirkan tujuh anak. Luar biasa sakitnya. Tapi seratus kali lebih sakit aku melihat putriku melahirkan anaknya.”

Baca Juga Berita Terkait:

  1. Di Balik Tour Dakwah Prof Dr Moh. Ali Aziz M.Ag di London (2): Terdengar “I Am Sorry” Setiap Mengaji
  2. Di Balik Tour Dakwah Prof Dr Moh. Ali Aziz M.Ag di London (3): Keindahan Jamaah Aneka Etnis di Masjid London

Saat sakit itulah, aku merindukan, benar-benar rindu ibuku almarhumah yang melahirkan saya.

Saat itu pula, saya lebih dan lebih mencintai istri saya, sebagai pahlawan. Ia telah melahirkan tujuh anak dan mengenalkan mereka semua nama-nama Allah dan Rasul-Nya.

Mengeluarkan kotoran najis saja sesakit itu, apalagi mengelarkan manusia suci penerus risalah Nabi.

Saudaraku, rindulah ibunda dengan sejuta doa. Lupakan kekurangan istri, dan cintai serta kagumilah ia sebagai “pahlawan agama tanpa tanda jasa.” (02-02-2023).

Persoalan kedua menyangkut keberangkatan ke London muncul. Mungkinkah panitia mengizinkan saya didampingi istri selama di Inggris, meskipun saya yakinkan, semua biaya perjalanan dan akomodasi saya tanggung secara pribadi. Ternyata, panitia memahami alasan saya dan mengizinkannya.

Persoalan lain masih ada. Mungkinkah saya mendapatkan visa dari Kedutaan Inggris di Jakarta, mengingat biasanya pengajuan harus enam bulan keberangkatan, sedangkan waktu yang tersisa hanya sebulan. Dua pekan sebelum Ramadhan, hanya visa istri saya yang keluar.

“Ajaib. Biasanya sulit. Sekarang mudah dan cepat,” kata travel agent yang menangani pengurusan visa dan asuransi.

Ketika anak saya yang tertua, Advan Navis Zubaidi mendoakan, “Semoga visa ayah segera keluar,” saya menjawabnya, “Bagi saya, berpasrah kepada Allah jauh lebih baik. Jika Allah meridai kepergian saya, visa pasti keluar. Jika harus Ramadhan di Indonesia, juga pasti lebih baik menurut Allah, sebab sudah banyak kegiatan Ramadhan yang telah terjadwal di Surabaya.”

Bagi saya, hidup ini akan lebih menyenangkan dengan membiarkan Allah membuat keputusan-Nya, daripada saya intervensi terhadap keputusan-Nya. Sebab, segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, dan semua kehendak-Nya pasti lebih baik daripada kehendak saya. Bisa saja, kita meminta sesuatu, padahal Allah menghendaki sesuatu yang lain yang jauh lebih baik.

Saya yakin, tidak semua pembaca setuju dengan keyakinan saya. Tapi, inilah prinsip hidup yang membahagiakan saya. Tidak berarti saya tidak mau berusaha dan berdoa, sebab Allah amat membenci orang yang tak mau berdoa.

Hanya saja, saya ucapkan doa dengan sedikit porsi, sedangkan 90% sisanya untuk mengagungkan Allah dan berpasrah kepada-Nya. Al Qur’an lebih banyak berisi perintah menyanjung keagungan Allah dan berpasrah kepada-Nya daripada perintah meminta kepada-Nya.

Sekali lagi, inilah keyakinan yang paling membuat fresh otak saya dan paling besar dampaknya dalam kebahagiaan saya.

Dengan cara ini, saya akan terbebas dari risiko kekecewaan jika suatu keinginan tidak tercapai.

Alhamdulillah, semua kendala keberangkatan safari dakwah terlalui atas kehendak Allah. Saya dan istri yang mendampingi dan mengontrol kesehatan saya, berangkat melalui Bandara Juanda- Singapore- London. (Bersambung)

Catatan: Naskah ini sudah dimuat di duta.co. Pemuatan di media ini seizin Prof Dr KH M. Ali Azis.

No More Posts Available.

No more pages to load.