Di Balik Tour Dakwah Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag di London (3): Keindahan Jamaah Aneka Etnis di Masjid London

oleh
Prof. Dr. KH Moh. Ali Aziz M.Ag (kanan) dan Duber RI di Inggris, Desra Percaya.

“…Jadilah manusia viral di langit dengan banyak label kemuliaan: sebagai pengibadah, dermawan, apresiatif, pekerja keras dan cerdas, pemulia pasangan hidup, dan sebagainya.”

Oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag

JADWAL saya hari ketiga tour dakwah atau hari kedua puasa Ramadhan (24-3-2023) di London hanya dua: shalat Jumat di Masjid Sentral London dan ceramah singkat di KBRI menjelang berbuka puasa.

Setelah olahraga ringan pagi hari, saya diajak shalat Jumat di London Central Mosque and Islamic Cultural Center (ICC) oleh Mas Yopi, pekerja transportasi asal Sidoarjo yang sudah membasahi London dengan keringatnya selama 22 tahun. Jika ke masjid tidak berangkat dua jam sebelum masuk waktu, tidak akan ada tempat parkir.

“Apa jadi ke Regent’s Mosque pak,?” tanya Bu Sihati, asal Tulung Agung Jawa Timur, istri penjaga Wisma Caraka, tempat saya tinggal sambil membukakan pintu.

“Bukan bu, tapi ke Central Mosque,” jawab saya singkat.

Saya baru tahu kemudian, bahwa, nama lain Central Mosque adalah Regent’s Mosque, sesuai dengan alamat masjid itu, yaitu 146 Park Road, London NW8, 7RG, sebuah kawasan yang amat strategis.

Pria yang selalu berkopiah hitam bulat dan setelah berhaji berganti nama Mohamad Yafi Ni’am inilah yang mengantar saya dengan mobil Mercy besar terbaru menuju masjid dan mengelilingi semua sudut masjid.

“Mobil ini saya beli semata-mata agar pantas untuk mengantar tamu-tamu besar Indonesia yang berkunjung ke London, termasuk putra Pak Jokowi beberapa waktu yang lalu, pak,” kata pendiri perkumpulan driver itu dengan bangga dan syukur.

Hampir semua petugas di Masjid Sentral mengenalnya. Setelah menjawab salam para petugas, bos perkumpulan driver yang diberi nama “Yopi and Konco” itu langsung memeluknya, dan – yang amat mengagumkan saya – ia juga memasukkan lembaran poundsterling di saku mereka. Saya tidak tahu jumlahnya. Ada juga yang memanggilnya “Syekhul I’tikaf.” Sebab, ia selalu beritikaf di masjid selama tidak ada order, serta menjadi tenaga sukarela setiap menjelang Maghrib untuk menyiapkan dan membagikan makanan berbuka kepada ribuan jamaah.

Baca Berita Terkait:

  1. Di Balik Tour Dakwah Prof Dr M. Ali Azis di London (1): Keputusan Berangkat Pada Saat Darurat
  2. Di Balik Tour Dakwah Prof Dr M. Ali Azis di London (2): Terdengar “I Am Sorry” Setiap Mengaji

Sebelum memasuki masjid yang diinisiasi sejak tahun 1940 oleh Lord Headly, mualaf penduduk London, dan baru terwujud tahun 1978 ini, saya melihat beribu wajah etnis yang berasal dari berbagai negara dengan gaya rambut, pakaian dan tingkah laku yang beraneka. Duduk di sebelah saya, pria kekar dengan tato di sekujur tangannya. Di depan saya, pria tampan dengan rambut panjang yang diikat di atas kepala. Di bagian barisan depan agak jauh, saya juga melihat anak muda dengan wajah putih dengan rambut pirang sampai ke pundak dengan pakaian milenial.

Ketika khutbah berlangsung, saya juga lihat orang berkulit hitam pekat dengan jubah coklat yang agak kusut dan songkok Afrika, memaksa masuk menuju barisan terdepan yang sudah penuh sesak, lalu duduk seenaknya. Orang di sebelah kanan kirinya hanya geleng kepala menyikapinya, seperti pemandangan yang sering kita jumpai di Masjid Makkah dan Madinah.

Beberapa saat kemudian, ia bahkan berdiri mengarahkan handphone ke kanan, kiri dan belakang untuk mengambil gambar video. “Mengapa pelanggaran etika begini selalu kita jumpai di banyak masjid,” tanya saya dalam hati dengan prihatin.

Tapi uniknya, ketika berdesakan keluar masjid, semua jamaah itu dengan senyum, akrab dan saling menyapa, “Assalamu’alaikum, brother.”

Azan pertama dan kedua dikumandangkan oleh Syekh Raffat, lansia asal Maroko yang sudah mengabdi di masjid sentral selama 20 tahun. Suara dan lagunya datar-datar saja, tapi sentuhan di hati amat terasa karena keikhlasannya.

Setelah azan kedua, khatib naik mimbar. Anak muda dengan jubah kebesaran coklat keemasan itu memulai khutbah pertama dengan bahasa Arab. Sedangkan khutbah kedua dengan bahasa Inggris secara keseluruhan. Masing-masing khutbah berdurasi 10 menit.

Menyimak khutbah Jumat di London Central Mosque.

Sesuai dengan dugaan saya, isi khutbahnya adalah tentang puasa dan ketakwaan berdasar sepuluh ayat Al Quran dan tiga hadits Nabi. Logis, sebab inilah Jumat pertama Ramadhan. Saya ikut berdesakan keluar beberapa menit, sebab sesuai dengan janji, dua jam lagi saya harus sudah di ruang kerja Dubes RI.

Usai istirahat satu jam di Wisma Caraka, saya berangkat ke KBRI naik kereta bawah tanah bersama istri dan ibu Suhati. Wisma ini adalah guest house yang disewa KBRI untuk para tamu. KBRI memiliki sejumlah wisma yang lain, yaitu Wisma Nusantara untuk rumah Dinas Dubes, Wisma Samudra dan Wisma Tujuhbelas untuk beberapa atase, dan Wisma Merdeka untuk transit para pelajar Indonesia.

Dengan badan menggigil kedinginan (7 co) dan pakaian yang agak basah karena hujan sepanjang menuju dan keluar dari kereta api, saya memasuki kantor KBRI baru yang amat megah di jantung kota, juga destinasi utama para turis. “Bapak Jokowi meminta kita untuk mencari gedung yang tidak memalukan Indonesia sebagai negara besar dan di area yang strategis,” kata salah satu staf KBRI menirukan pesan presiden.

Saya amat terkesan dengan sambutan hangat Pak Dubes, Bapak Desra Percaya. Luar biasa akrabnya dengan bahasa Suroboyoan asli.

Beliau adalah alumni UNAIR seangkatan Prof. Dr. Kacung Marijan dan pernah berkunjung ke UINSA yang saat itu disambut oleh Ibu Dr Wahidah Siregar, MA. Juga akrab dengan Ibu Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jatim.

Sambutan Wakil Dubes, Bapak Khasan Ashari juga tidak kalah hangat. “Bagaimana kabar Prof Muzakki?,” tanyanya memulai percakapan.

Ternyata, beliau seangkatan dengan Rektor UINSA yang cerdas dan energik itu ketika sama-sama kuliah di Australia. Istri beliau bahkan menggandeng erat istri saya untuk menitip salam untuk istri pak rektor.

Dalam sambutan singkatnya, Bapak Dubes yang selama kuliah di UNAIR sekian puluh tahun silam amat menyukai lontong kupang dan es hijau, itu berpesan agar kita menjadi manusia yang mendekati kesempurnaan melalui ibadah Ramadhan. Berdasar pesan itu, saya memilih topik ceramah, “Menuju Manusia Sempurna Berbasis Nilai-nilai Surat Al Fatihah.”

Setelah mengapresiasi KBRI dan teman-teman panitia yang siap berdarah-darah mengadakan syiar Ramadhan di tengah krisis ekonomi yang masih terasa di Inggris, saya menyampaikan dua poin besar.

Pertama, jadilah manusia viral di langit dengan banyak label kemuliaan: sebagai pengibadah, dermawan, apresiatif, pekerja keras dan cerdas, pemulia pasangan hidup, dan sebagainya.

Itulah inspirasi yang diberikan Surat Al Fatihah. Inilah surat yang menyandang nama-nama mulia, yaitu sebagai induk Al Quran, penyembuh, penyelesai masalah, dan surat yang paling banyak disebut atau dibaca manusia, serta sebutan kemuliaan lainnya.

Kedua, raihlah kemuliaan melalui renungan ayat demi ayat dari tujuh ayat dalam surat Al Fatihah. Yaitu:

(1) Jangan melakukan apa pun kecuali sesuai dengan nama Allah dan sesuai hukum negara,

(2) Jadilah manusia paling happy dengan syukur dan apresiasi terhadap jasa orang, sekecil apa pun,

(3) Jangan merasa sendirian dalam menjalani hidup, di saat apa pun, sebab Allah amat menyayangi kita dan tidak akan membenci orang yang bersujud kepada-Nya. Juga cintailah pekerjaan, sebab pekerjaan yang dilakukan dengan cinta akan menyehatkan jiwa dan menghasilkan karya yang mengesankan manusia,

(4) Berpikirlah dua kali sebelum berucap dan bertindak, sebab semuanya ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Di dunia, orang bisa lolos dari tangkap tangan KPK, tapi ia tak bisa lolos dari pengadilan Allah SWT.

(5) Jadilah manusia yang lebih banyak give daripada take, lebih mengedepankan kewajiban daripada hak. Orang yang mengedepankan take daripada give pasti kehilangan kewibawaan dalam lingkungan di mana pun ia berada,

(6) Jangan lewatkan hari tanpa meminta petunjuk Allah. Bangunlah kebersamaan untuk meraih cita-cita kemulian bersama mengikuti petunjuk itu. Tak mungkin kesuksesan dan kemuliaan besar diraih tanpa support orang lain, dan

(7) Belajarlah sejarah. Ikutilah jalan hidup orang-orang mulia yang terdahulu, dan jauhilah jalan hidup orang- orang terdahulu yang sesat dan hina.

Setelah shalat Maghrib berjamaah, semua hadirin berbaris rapi dan tertib untuk antre mengambil aneka masakan Indonesia yang tersedia di atas meja memanjang, tak peduli apa pun jabatannya. Tapi, saya tidak antre.

Mengapa? Ha ha, karena hidangan untuk saya telah disiapkan di meja khusus bersama Pak Dubes, Wakil Dubes, dua dosen ITB yang sedang meneliti komunikasi tercanggih melalui kecepatan cahaya, dan Atase Pendidikan dan Budaya KBRI, Prof Dr Khairul Munadi, pengagum Prof Dr Muhammad Nuh, dosen yang mengajarnya di ITS.

“Salam takdhim untuk Prof Nuh, ” bisiknya ketika saya berpamit kembali ke Wisma Caraka untuk persiapan acara “Pelatihan Terapi Shalat Bahagia” esok harinya di tempat yang sama. (Bersambung)

Foto-foto: Dokumentasi Prof Dr KH M. Ali Azis

Catatan: Tulisan ini juga dimuat di duta.co. Pemuatan di media ini seizin Prof Dr KH M. Ali Azis.

No More Posts Available.

No more pages to load.