SURABAYA| DutaIndonesia.com –
Pernahkah kalian membayangkan, memiliki kemampuan, seperti yang dimiliki Rasulullah, tubuh dan panca indera kita menerima dan memancarkan cahaya, meski tak sebesar cahaya yang dimiliki Rasulullah?
Pertanyaan ini disampaikan Prof DR KH Asep Syaifuddin Chalim MA, pada para santrinya saat pengajian kitab kuning di Ponpes Amanatul Ummah, Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya, Rabu (22/7/2026).
Para santri tanpa dikomando menjawab; mauuuu…!
Dijelaskan Kiai Asep, yakni dengan mengamalkan do’a pemintaan ‘cahaya’ kepada Allah.
Kemudian Kiai Asep mensitir sebuah hadist shahih (Bukhori Muslimim) dari Rasulullah untuk kita amalkan.
Dan doa ini pun yang sering dipanjatkan Rasulullah pada Allah SWT, agar seluruh anggota tubuhnya, hati dan kehidupannya dipenuhi petunjuk (Taufik) dan Rahmat dari Allah SWT.
Dengan do’a ini, kita akan mendapatkan ketenangan jiwa, kebaikan, dan kemudahan dalam menghadapi kehidupan.
Lafad do’anya adalah; “Allahummaj’al fii qolbii nuuraa, wa fii lisaanii nuuraa, waj’al fii sam’ii nuuraa, waj’al fii Bashori nuuraa, waj’al min kholfii nuuraa, wa min amaamii nuuraa, waj’al min fawqii nuuraa, wa min tahtii nuuraa, Allahummal a’thinii nuuraa.”
Artinya:”Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, dan cahaya di penglihatanku. Jadikanlah cahaya di belakangku, cahaya di depanku, cahaya di atasku, dan cahaya di bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya.”
Bila do’a tersebut diijabah Allah maka tanpa kita sadari, dari tubuh dan jiwa raga kita memancarkan cahaya.
Menyerap Cahaya
Dengan cahaya tersebut, kita bisa melihat Taufik (pilihan jalan) dan Hidayah (petunjuk) yang kita terima dari Allah dengan jelas, sehingga selalu mendapatkan jalan keluar pada setiap masalah yang kita hadapi.
Dengan cahaya tersebut, kita mudah menerima ilmu, menerima kebaikan.
Pancarkan Cahaya Hikmah
Dengan cahaya tersebut setiap pandangan kita, pendengaran kita, gerak kita, lisan kita (tutur kata kita) memancarkan cahaya hikmah pada orang lain.
Gerak kita dihiasi dengan adab yang tinggi, -akhlakul karimah. Setiap kata yang keluar dari mulut kita, memakai pilihan kata yang baik, yang positif, yang menyejukkan. Tidak menyakitkan lawan bicara.
Setiap kalimat kita, memancarkan cahaya ilmu, cahaya kebijaksanaa.
Pendek kata, dengan cahaya tersebut, kita bisa melihat segala sesuatu dengan jelas dan transparan. Baik yang datang pada kita, mau pun yang keluar dari kita. Baik yang membawa kebaikan (kebahagiaan) mau pun yang membawa ancaman
Taufik dan Hidayah
Pada kesempatan tersebut Kiai Asep juga menjelaskan pengertian Taufik dan Hidayah.
Dalam ajaran Islam, hidayah adalah petunjuk atau penjelasan mengenai jalan yang benar, sedangkan taufik adalah kemampuan, kemudahan, atau pertolongan dari Allah SWT yang menggerakkan hati seseorang untuk benar-benar mengamalkan dan mengikuti petunjuk tersebut.
Secara mudah, jika hidayah adalah rambu atau peta penunjuk jalan, taufik adalah kendaraan dan dorongan yang membuat Anda bisa sampai ke tujuan dengan selamat. (Moch Nuruddin)













