Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Dorong Inovasi Kakao Sehat dan Halal di Desa Bodag, Madiun

oleh
Tim dari Unair dan peserta program PTTI dari Desa Bodag
Tim dari Unair dan peserta program PTTI dari Desa Bodag

MADIUN| DutaIndonesia.com— Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) melalui Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Inovasi Produk Kakao Sehat dan Halal sebagai Penggerak Ekonomi Desa melalui Rumah Cokelat Bodag.”

Kegiatan ini diketuai oleh Prof. Dr. apt. Juni Ekowati, M.S., Apt., dan diadakan di Rumah Cokelat Bodag, Desa Bodag, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Program ini merupakan bentuk nyata komitmen Unair dalam mengimplementasikan hasil riset dan teknologi ke tengah masyarakat, khususnya untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Desa Bodag, yang selama ini dikenal sebagai penghasil kakao, dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan produk turunan kakao sehat, halal, dan berdaya saing tinggi.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa bersama, dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desa Bodag, perwakilan Rumah Cokelat Bodag, dan Ketua Tim Pengmas Fakultas Farmasi Unair. Kepala Desa Bodag menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim Unair yang dinilai membawa semangat baru bagi masyarakat.

“Kami berterima kasih kepada Unair, karena pelatihan ini membuka peluang besar bagi warga kami untuk mengembangkan produk kakao yang bernilai jual lebih tinggi,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Prof. Juni Ekowati menegaskan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi wadah penerapan ilmu farmasi dalam konteks ekonomi kerakyatan.

“Program ini tidak hanya melatih masyarakat dalam membuat produk, tetapi juga mengajarkan bagaimana inovasi dapat diterapkan untuk mendukung ekonomi desa secara berkelanjutan,” jelas Prof. Juni.

Sebagai pemateri utama, Prof. Juni membawakan materi bertema “Peluang Ekonomi Pengolahan Limbah Cokelat dan Aspek Mutu serta Keamanannya.” Beliau menjelaskan bahwa kulit ari kakao yang selama ini dianggap limbah sebenarnya masih mengandung senyawa aktif seperti polifenol dan flavonoid yang bermanfaat bagi kesehatan.

Dengan pengolahan tepat, bahan ini dapat dijadikan bahan baku kosmetik alami, produk aromaterapi, hingga bahan pangan fungsional. Lebih lanjut, Prof. Juni juga menekankan pentingnya standar mutu dan jaminan halal dalam setiap tahap produksi agar produk dapat diterima pasar lebih luas.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Prof. apt. Rr. Retno Widyowati, Ph.D., yang memaparkan topik “Cara Pengolahan Limbah Kakao Menjadi Simplisia yang Terstandar.” Dalam pemaparannya, Prof. Retno menjelaskan pentingnya standarisasi bahan alam sebelum digunakan sebagai bahan baku industri farmasi maupun herbal, terutama untuk memastikan konsistensi kadar zat aktif dan keamanan produk.

Materi ketiga dibawakan oleh Prof. Dr. apt. Tristiana Erawati, M.Si., dengan topik “Pemanfaatan Kulit Ari Cokelat untuk Kosmetik.”

Dalam paparannya, beliau menjelaskan perbedaan grade bahan yang digunakan untuk produk kosmetik, terutama antara food grade dan non-food grade.

“Untuk produk seperti lip balm, bahan yang digunakan harus food grade karena ada kemungkinan produk masuk ke dalam mulut.” jelas Prof. Tristiana di hadapan peserta.

Materi ini mendapat perhatian besar dari masyarakat, khususnya kelompok wanita tani dan pelaku UMKM yang tertarik mengembangkan produk kosmetik alami berbasis cokelat.
Usai sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan dua pelatihan inovasi pengolahan limbah cokelat, yaitu pembuatan lip balm yang dipimpin oleh Apt. Andang Miatmoko, Ph.D. dan lilin aromaterapi yang dipimpin oleh Ibu Ersanda Nurma.

Pelatihan ini dipandu melalui pemutaran video tutorial dan demonstrasi langsung, yang kemudian akan dilanjutkan dengan praktik mandiri oleh masyarakat pada Sabtu, 8 November 2025. Tim pengmas juga memberikan arahan teknis agar masyarakat dapat mencoba kembali proses pembuatan dengan memanfaatkan bahan lokal yang tersedia di Desa Bodag.

Kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Peserta aktif bertanya dan berdiskusi mengenai cara penyimpanan bahan, keamanan produk, hingga potensi pemasaran. Salah satu peserta menyampaikan kesan positifnya terhadap kegiatan ini.

“Kegiatan ini membuka wawasan kami bahwa kulit ari cokelat bisa menjadi bahan bernilai tinggi. Kami bersemangat mencoba sendiri minggu depan,” ujar salah seorang peserta.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari program berkelanjutan yang akan terus dilaksanakan setiap minggu hingga akhir November 2025.

Melalui pendekatan bertahap, tim pengmas Fakultas Farmasi Universitas Airlangga menegaskan perannya sebagai pelopor pengembangan sains terapan berbasis masyarakat. Program ini tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membuka jalan bagi kolaborasi berkelanjutan antara akademisi dan masyarakat untuk membangun desa mandiri dan berdaya saing melalui inovasi produk kakao sehat dan halal.

“Kami berharap Rumah Cokelat Bodag menjadi contoh nyata bahwa inovasi dari kampus dapat tumbuh bersama masyarakat, menciptakan produk unggulan yang sehat, halal, dan bermakna ekonomi,” tutup Prof. Juni. (fan)

No More Posts Available.

No more pages to load.