FIFA dan Eksposur Rasisme Dunia

oleh
Imam Shamsi Ali

Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki*

SAAT ini, perhatian dunia tertuju pada perhelatan sepak bola terbesar yang digelar di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Setelah melewati babak penyisihan yang sengit, turnamen kini memasuki perempat final. Delapan tim terbaik akan bersaing memperebutkan tiket semifinal, hingga akhirnya mencapai final untuk menentukan juara dunia.

Saya tidak akan mengulas kelebihan dan kelemahan tiap tim. Itu adalah ranah komentator sepak bola, mereka hidup dari analisis itu. Yang ingin saya soroti justru sisi sosial dan politik dari ajang olahraga paling heboh di dunia ini. Piala Dunia kali ini sarat muatan sosial-politik yang sedikit banyak memengaruhi performa, bahkan hasil pertandingan di lapangan.

Wajah Ganda FIFA

Sudah lama FIFA dikritik karena lemahnya independensi. Kebijakannya sering dianggap sarat kepentingan politik tertentu. Contoh yang paling disorot: FIFA memboikot Rusia dari Piala Dunia karena dianggap melanggar hukum internasional di Ukraina. Namun di sisi lain, FIFA tetap mengizinkan Israel, negara yang sejak 1948 dituduh melanggar hukum internasional, HAM, dan melakukan genosida di Gaza dan Palestina, untuk berpartisipasi di berbagai ajang sepak bola dunia.

Apapun pembenarannya, dunia tahu FIFA seolah menutup mata. Tidak heran jika FIFA kerap dijuluki organisasi berstandar ganda.

Perlakuan Buruk Akibat Tekanan Politik

Borok FIFA lainnya adalah perlakuan diskriminatif terhadap tim dan perangkat pertandingan tertentu. Bukan hanya pemain, wasit pun mendapat perlakuan tidak semestinya akibat tekanan negara kuat, terutama Amerika Serikat.

Beberapa tim dari Afrika dan Asia diperlakukan tidak etis di bandara. Pemeriksaan berlebihan dan merendahkan martabat membuat mereka seolah dianggap kriminal.

Contoh paling nyata adalah Republik Islam Iran. Meski lolos ke Piala Dunia, mereka tidak diizinkan menetap di AS selama turnamen berlangsung. Padahal beberapa pertandingan wajib digelar di wilayah AS. Akibatnya, tim Iran harus tinggal di Meksiko dan bolak-balik setiap kali bertanding. Tentu ini menguras waktu, tenaga, dan mengganggu persiapan tim.

Selain pemain, wasit terbaik Afrika, Omar Abdulkadir Artan, juga gagal bertugas. Ia dideportasi setibanya di AS karena berpaspor Somalia dan dituduh memiliki kaitan dengan organisasi yang dicap teroris, tanpa bukti yang jelas.

Diskriminasi dan Keberpihakan FIFA

Saya pribadi adalah penggemar berat sepak bola. Meski tidak mahir bermain, saya selalu menikmati olahraga ini. Ada daya tarik khusus yang membuat saya menjadi “big fan”.

Sayangnya, semakin saya mengamati penyelenggaraan Piala Dunia tahun ini, semakin hilang minat saya. Bukan karena tim favorit saya, Maroko, kalah dari Prancis. Saya justru bangga dengan permainan Maroko yang “highly skillful”, dan Prancis bermain dengan integritas dan profesional.

Yang membuat saya gerah adalah ketidakberesan yang terjadi secara terbuka. Salah satunya saat Senegal hampir mengalahkan Inggris. Beberapa pelanggaran Senegal dipermasalahkan, sementara kesalahan Inggris dibiarkan begitu saja.

Manipulasi yang paling telanjang terlihat saat Mesir melawan Argentina, juara bertahan. Mesir adalah “rising star”!Afrika dengan permainan memukau. Laga berlangsung sengit. Mesir sempat unggul 2-0, lalu 3-1. Namun gol ketiga dianulir wasit dengan alasan pelanggaran.

Argentina kemudian menyamakan 2-2 di menit akhir, lalu mencetak gol kemenangan 3-2. Publik di media sosial ramai membicarakan keputusan wasit yang dinilai tidak adil. Banyak kesalahan Mesir dihukum, sementara pelanggaran Argentina diabaikan. Ketika pelatih Mesir protes, asistennya diganjar kartu merah dan pelatih utama mendapat kartu kuning.

Yang memperkuat dugaan keberpihakan: saat Argentina menang, para petinggi FIFA terlihat merayakan dengan gembira, seolah jagoan mereka yang menang.

Saya curiga FIFA memang digandeng kepentingan politik dan rasial. Dari deportasi wasit terbaiknya, diskriminasi terhadap tim Iran, hingga tersingkirnya tiga tim kuat Afrika: Maroko, Senegal, dan Mesir, semua mengarah pada dugaan rasisme. Apapun alasannya yang berusaha dipakai untuk membenarkan manipulasi yang ada, penyelenggaraan Piala Dunia tahun ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah. Seharusnya Presiden FIFA mengundurkan diri secara “disgraced” (tidak terhormat). (*)

Jamaica Hills, 11 Juli 2026

*Pecinta Sepak Bola dari Kajang

No More Posts Available.

No more pages to load.