Grup Gamelan Dadali Rusia: Bule Rusia Nayaga Gamelan Ingin Tampil di Indonesia

oleh
gamelan dadali rusia

KBRI Moskow gencar mempromosikan seni-budaya Indonesia di Rusia. Salah satunya melalui grup musik tradisional Gamelan Dadali. Yang menarik, personel nayaga (penabuh) Gamelan Dadali hampir semua bule Rusia. Berikut wawancara wartawan DutaIndonesia.com Gatot Susanto dengan Tri Koyo, staf KBRI Moskow yang memimpin grup gamelan ini.

Bagaimana sejarah grup gamelan ini di Rusia?

Awal mula ada gamelan di Rusia adalah karena pada tahun 2017 saat Duta Besar yang menjabat adalah Bapak Wahid Supriyadi. Beliau berharap bisa mendatangkan guru gamelan dan mengenalkan gamelan serta wayang di Rusia. Bapak Duta Besar berfokus terhadap pengenalan budaya karena melalui budaya hubungan kerja sama Indonesia – Rusia dapat tercipta dan meningkat. Dari situlah saya mendapat kesempatan ke Moskow untuk mengajar gamelan di KBRI dengan mengikuti berbagai seleksi dari banyak kandidat.

Bagaimana mengenalkan kesenian ini ke bule Rusia.

Cara mengenalkan gamelan pertama kali metode yang saya terapkan adalah memberikan informasi mengenai musik gamelan secara umum, selanjutnya adalah memberikan ruang kepada para murid untuk praktik bebas gamelan agar dapat memahami bentuk, suara dan hal lainnnya.

Respon awal mereka seperti apa?

Respon awal warga Rusia mengenai gamelan adalah mengganggap seperti suara lonceng di gereja. Respon selanjutnya mereka sangat tertarik dengan gamelan karena menganggap gamelan berbeda dengan alat musik pada umumnya. Suara yang khas, bentuk alat yang unik serta terbuat dari perungggu memunculkan kesan tersendiri bagi warga Rusia.

Lalu bagaimana Pak Tri bisa dengan telaten melatih mereka…

Ketelatenan dalam mengajar adalah memberikan kelas selama 3 kali dalam seminggu serta memberikan informasi mengenai budaya dan tradisi dalam gamelan Jawa baik melalui pertemuan langsung maupun melalui diskusi melalui pesan di chat. Latar belakang yang berbeda dari murid gamelan menjadi tantangan tersendiri.
Kesibukan warga Rusia juga menjadi catatan penting kapan memilih maktu yang tepat untuk mengajarkan gamelan. Kendala bahasa merupakan masalah terbesar yang menjadi tantangan, akan tetapi seiring berjalannnya waktu kendala tersebut dapat teratasi.

Siapa bule pertama yang tertarik dan dia belajar alat musik apa? Selanjutnya siapa saja?

Rata-rata yang belajar gamelan pertama kali adalah orang Rusia yang merupakan Indonesianis, Alumni Darmasiswa serta murid kelas Bahasa Indonesia. Yang pertama belajar gamelan di antaranya adalah Ekaterina Makanina, Julia Ryzhaya, Irina Lapidus, Ilya Konin, Lubov Ponomarenko, Aleksandra Zolkina, Anastasia Ogureeva dan Ekaterina Kamilova.

Mereka pertama kali belajar mengenai iringan wayang kulit. Hal ini karena sebelum saya berada di Moskow, sudah pernah ada pertunjukan wayang kulit pada tahun 2017 dengan dalang dari Indonesia yaitu Prof Andrik Purwasito. Setelah kedatangan saya (Tri Koyo) jumlah murid terus bertambah dan berganti silih berganti.

Setelah tahun 2017 mulai bergabung murid baru di antaranya Ekaterina Mednikova, Larisa Lazareva, Anna Mamedova, Natalia Rudik, Vladimir Fomenko, Elizaveta Moskvina, Nikita Serdyuk, Anna Dyurina, Anna Trubina, Ekaterina Kiriy, Valeriya Sveshnikova, Anna Zhikhareva, Evgenia Pothyskaya, Anastasia Khorina, Gleb Zaharov, Aleksandra Fedorova, Vidya Intoyo, Anthony Chicherin, Ulyana Klimenko, Daria Mikhailovna, Anton, Elena Govorova, Artyom Eniseev.

Pak Tri sendiri asal mana di Indonesia dan mulai kapan kerja di KBRI. Apa Pak Tri memang musisi gamelan sejak di Indonesia?

Saya Tri Koyo berasal dari Purworejo, Jawa Tengah dan mulai mengajar gamelan di Moskow Rusia sejak tanggal 18 April 2017. Saya lulusan dari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta dan melanjutkan studi Jurusan Seni Karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sebelum mengajar di Moskow Rusia, telah mengajar gamelan di beberapa sekolah dan instansi di Yogyakarta di antaranya mengajar gamelan di Kejaksaan Tinggi Yogyakarta, Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMTI) Yogyakarta, SMA 9 Yogyakarta, Unit Kegiatan Mahasiswa Gamelan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, serta berkecimpung di pertunjukan wayang dan gamelan di acara-aacara seni di Yogyakarta dan kota lainnya.

Gamelan Dadali, mengapa memilih nama ini, prosesnya bagaimana?

Untuk pembentukan grup awalnya murni inisiasi dari teman-teman Rusia yang belajar gamelan. Grup terbentuk pada tanggal 21 Juli 2017. Banyak nama grup yang saya tawarkan tetapi teman Rusia lebih memilih nama Dadali karena mudah dilafalkan oleh orang Rusia.

Nama Dadali sendiri memiliki arti Burung Garuda, dari sini kami memiliki harapan ke depannnya gamelan Dadali dapat menjadi simbol keberadaaan budaya Indonesia (gamelan) di Rusia. Dibentuknya Dadali karena teman Rusia ingin memiliki grup gamelan seperti grup-grup gamelan di Europa dań Amerika. Sebagai informasi jika Gamelan Dadali merupakan grup gamelan satu-satunya di Rusia.

Sudah tampil di mana saja? Apa sudah tampil di Indonesia juga?

Karena telah berdiri sejak tahun 2017, kami pernah tampil di berbagai acara budaya di antaranya di kota Kazan, Saint Petersburg, Suzdal, Ivanovo, Minsk (Belarus) dan Moscow.

Grup Dadali belum pernah tampil di Indonesia. Harapan kami dapat tampil di tanah asli dari musik gamelan mengingat banyak murid gamelan yang belum pernah ke Indonesia. Nanti bila boleh, minta profil masing-masing perosonel Dadali….

Personel Aktif :

Ekaterina Makanina : Staf KBRI
Anastasia Sycheva : Staf KBRI
Ekaterina Mednikova : Staf Perusahaan
Anastasia Khorina : Staf Perusahaaan
Ulyana Klimenko : Indonesianis, Mahasiswa
Daria Mikhailova : EO
Julia Rhyzhaya : Staf Perusahaan
Vidya Intoyo : Diaspora
Gleb Zaharov : Indonesianis
Aleksandra Fedorova : Indonesiens/ Alumni beasiswa BSBI
Anthony Chicherin : Diaspora, Mahasiswa
Elena Govorova : Staf Perusahaan
Anna Zhikhareva : Seniman
Evgenia Potynskaya : Staf Perusahaan
Artyom Eniseev: Mahasiswa

No More Posts Available.

No more pages to load.