Muslim di Rusia kembali menunaikan ibadah puasa Ramadhan di tengah musim dingin. Tapi tahun 2026/1447 H ini durasi puasa lebih pendek dibanding tahun lalu di mana muslim Rusia saat itu harus menjalani Ramadhan dengan durasi puasa mencapai 17 jam pada suhu ekstrem hingga -30 derajat Celsius. Sama dengan di Indonesia, muslim Rusia menjalankan ibadah puasa Ramadhan mulai Kamis (19/2/2026).
Oleh Gatot Susanto
TRI KOYO, staf KBRI Moskow, menceritakan tantangan utama puasa Ramadhan di negeri Beruang Putih ini memang cuaca dan durasi. Namun, puasa Ramadhan tahun ini sedikit lebih pendek waktunya sehingga lebih ringan.
“Imsak pukul 05.51 dan buka puasa pukul 17.40 waktu Moskow. Kami puasa mulai Kamis,” kata Tri Koyo kepada DutaIndonesia.com, Kamis (20/2/2026). Bisa disebut lebih pendek durasinya dibanding dengan Surabaya sebab Imsak di Kota Pahlawan pukul 04.07 dan Maghrib pukul 17.55.
“Puasa di Rusia saat musim dingin lebih menyenangkan, karena waktu yang pendek. Untuk buka puasa dan sahur, di Rusia sudah banyak ditemukan kafe-kafe dan restoran halal, sehingga produk halal mudah sekali dijumpai di sini. Tapi kalau bisa ya lebih enak masak sendiri,” katanya.
Pemimpin grup gamelan Dadali binaan KBRI Moskow yang anggotanya mayoritas warga Rusia ini, menjelaskan, bahwa tantangan puasa di musim dingin tentu saja karena udara sangat dingin sehingga makan sahur harus benar-benar menunya yang sehat. Tujuannya agar badan tidak lemas saat beraktivitas dalam kondisi berpuasa di siang hari. “Itu yang paling penting untuk kita di sini,” katanya.
Sementara untuk kegiatan selama Ramadhan, kata dia, KBRI Moskow bersama Himpunan Persaudaraan Islam Indonesia (HPII) di ibukota ini, serta WNI di Rusia, menyelenggarakan sholat Tarawih dan acara buka puasa bersama di musala KBRI. “Ini rutin, seperti tahun sebelumnya,” katanya.
Puasa menyenangkan di Rusia, kata dia, juga saat warga Indonesia berkumpul untuk buka puasa dan Tarawih bersama. ”Nuansa Indonesia sangat terasa dan bisa untuk menghilangkan rasa kangen terhadap bulan puasa di tanah air,” ujarnya.
Secara umum, kata Tri Koyo, seperti muslim di seluruh dunia,umat Islam berusaha menghidupkan masjid selama Ramadhan. “Untuk kegiatan umat muslim Moskow, ada Tarawih dan buka puasa bersama setiap hari di masjid Kota Moskow. Salah satunya di Masjid Park Pobedy,” katanya.
Masjid Memorial Park Pobedy di Moskow adalah masjid kecil yang menawan dan tenang. Lokasinya terletak di kawasan Park Pobedy (Taman Kemenangan) dekat Poklonnaya Hill, Moskow. Dibangun sebagai bentuk penghormatan atas kemenangan Rusia, masjid ini berada di sisi barat taman, dekat dengan pameran alat perang dan museum. Arsitekurnya yang indah menawarkan suasana santai dengan interior putih bermotif bunga.
Selain itu, tantangan puasa di Rusia saat ini juga karena situasi geopolitik yang masih belum stabil sehingga akses komunikasi untuk warga dibatasi. Seperti kebutuhan komunikasi dengan keluarga di Indonesia.
Misalnya, internet. Penggunaan WhatsApp (WA) dibatasi. Selanjutnya, menyusul Telegram. Seperti diketahui, Rusia saat ini masih berperang melawan Ukraina.
Tri Koyo sendiri berasal dari Purworejo, Jawa Tengah, dan mulai mengajar gamelan di Moskow Rusia sejak tanggal 18 April 2017. “Saya lulusan dari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta dan melanjutkan studi Jurusan Seni Karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta,” katanya.
Sebelum mengajar di Moskow Rusia, dia telah mengajar gamelan di beberapa sekolah dan instansi di Yogyakarta di antaranya mengajar gamelan di Kejaksaan Tinggi Yogyakarta, Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMTI) Yogyakarta, SMA 9 Yogyakarta, Unit Kegiatan Mahasiswa Gamelan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, serta berkecimpung di pertunjukan wayang dan gamelan di acara-acara seni di Yogyakarta dan kota lainnya.
“Awal mula ada gamelan di Rusia adalah karena pada tahun 2017 saat Duta Besar yang menjabat adalah Bapak Wahid Supriyadi. Beliau berharap bisa mendatangkan guru gamelan dan mengenalkan gamelan serta wayang di Rusia. Bapak Duta Besar berfokus terhadap pengenalan budaya karena melalui budaya hubungan kerja sama Indonesia – Rusia dapat tercipta dan meningkat. Dari situlah saya mendapat kesempatan ke Moskow untuk mengajar gamelan di KBRI dengan mengikuti berbagai seleksi dari banyak kandidat,” katanya.
Dandi Efendi, Staf Peneliti di Pusat Studi Mekatronika dan Otomatisasi (PSMO) Universitas Bandar Lampung (UBL), juga menjalani Ramadhan pertamanya di Rusia tahun 2025 lalu. Saat itu durasi puasa mencapai 17 jam dengan suhu ekstrem hingga -30 derajat Celsius.
Saat ini, Dandi tengah menempuh pendidikan Magister (S2) Mekatronika dan Robotika di Ural Federal University, Rusia, bersama dua rekannya dari Lab Teknik Mesin UBL, Ilham Miranto dan Putra Saheri. Sebelum memasuki perkuliahan utama, dia mengikuti kelas persiapan di Tyumen Industrial University, Kota Tyumen.
Di Rusia, lamanya waktu puasa sangat bervariasi tergantung wilayah. Di Moskow, umat Muslim harus berpuasa sekitar 17-18 jam– meski untuk tahun ini dapat “bonus keringanan” sebab lama puasa lebih pendek–, sementara di daerah utara seperti Murmansk, durasinya bisa lebih dari 20 jam. Meski begitu, bagi Dandi, tantangan terbesar bukan hanya lamanya puasa, tetapi juga suhu dingin yang ekstrem.
“Meskipun sudah masuk musim semi, suhu masih bisa mencapai -30 derajat Celsius, dan salju masih ada di mana-mana. Bedanya dengan musim dingin hanya langit yang lebih cerah dan durasi siang yang lebih panjang,” ujarnya.(*)














