Oleh Ulul Albab
Warga NU sejak dalam kandungan
Mantan Ketua ICMI Jatim 2021-2026
Rektor Unitomo 2007-2013
NAMANYA KH Abdul Hakim Mahfudz. Warga Nahdlatul Ulama lebih akrab memanggilnya Gus Kikin. Senin pagi, 31 Agustus 2026, sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi secara mufakat menetapkannya sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Keputusan itu tidak terlalu mengejutkan.
Dalam penjaringan calon ketua umum, Gus Kikin memperoleh 472 suara, jauh meninggalkan empat nama lain yang dibawa ke meja musyawarah AHWA. Namun, terpilihnya Gus Kikin tetap menarik. Bukan hanya karena ia cicit pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, tetapi juga karena perjalanan hidupnya mempertemukan dunia pesantren, pelayaran, bisnis, dan organisasi.
Gus Kikin lahir dari keluarga dengan akar keilmuan yang kuat. Ayahnya, KH Mahfudz Anwar, dikenal sebagai ulama ahli fikih, tafsir, bahasa Arab, dan ilmu falak. Dari garis ibu, Nyai Hj Abidah Ma’shum, ia merupakan keturunan Nyai Khoiriyah Hasyim dan KH Ma’shum Ali, pengarang kitab “Amtsilah at-Tashrifiyah” yang sangat dikenal di pesantren.
Namun, Gus Kikin tidak menempuh jalan yang lazim dilalui oleh putra-putra kiai. Setelah memperoleh pendidikan agama di lingkungan pesantren, ia memilih belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta. Ia kemudian menjalani praktik pelayaran, bergabung dengan PT Djakarta Lloyd, dan dipercaya menjadi kepala cabang perusahaan tersebut di Cilegon.
Dari laut, Gus Kikin memasuki dunia usaha. Bisnisnya berkembang dari sektor pelayaran ke berbagai bidang, termasuk minyak dan gas. Salah satu perusahaan yang disebut dalam sejumlah pemberitaan adalah PT Energi Mineral Langgeng, yang bergerak di sektor migas dan mengelola South East Madura Block. Kini, orang yang pernah mengurus kapal niaga itu memperoleh amanah menakhodai kapal yang jauh lebih besar: Nahdlatul Ulama.
Garis keturunan memang memberinya modal simbolik. Ia bukan hanya pengasuh Pesantren Tebuireng, tetapi juga bagian dari keluarga besar pendiri NU. Namun, silsilah saja tidak cukup menjelaskan dukungan besar yang diperolehnya.
Gus Kikin pernah berkhidmah sebagai salah seorang Ketua di PBNU, kemudian terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmah 2024–2029.
Pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU pun merupakan penugasan PWNU Jawa Timur yang memperoleh dukungan 45 PCNU se-Jawa Timur.
Kekuatan Gus Kikin terletak pada tiga modal: legitimasi pesantren, pengalaman organisasi, dan kemandirian ekonomi. Ia dipandang tidak datang ke NU untuk mencari kehidupan, tetapi membawa kemampuan dan sumber daya untuk menghidupkan organisasi.
Namun, di sinilah ujiannya dimulai. NU bukan perusahaan dan jamaah bukan konsumen. Perusahaan memerlukan keputusan cepat dan garis komando yang tegas.
NU tumbuh melalui musyawarah, kewibawaan kiai, keragaman pesantren, serta kesediaan merawat perbedaan. Perusahaan dapat dipimpin melalui kepemilikan saham. NU hanya dapat dipimpin melalui kepercayaan.
Pengalaman bisnis dapat menjadi modal untuk membangun kemandirian ekonomi NU. Besarnya jumlah warga NU belum sepenuhnya menjelma menjadi kekuatan ekonomi yang terorganisasi.
Gus Kikin dapat membawa disiplin manajemen, kemampuan membaca peluang, dan keberanian mengambil keputusan. Namun, aktivitas bisnisnya juga menuntut transparansi lebih tinggi. Harus terdapat batas yang tegas antara kepentingan perusahaan, keluarga, dan organisasi.
Karena dikenal sebagai pengusaha, Gus Kikin mempunyai kesempatan membangun standar baru mengenai pencegahan konflik kepentingan di lingkungan PBNU. Nama besar NU tidak boleh digunakan untuk memperluas kepentingan bisnis pribadi.
Salah satu gagasan utama Gus Kikin adalah menghidupkan kembali Qanun Asasi karya KH Hasyim Asy’ari. Gagasan itu tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah. Qanun Asasi harus diterjemahkan menjadi keberanian menjaga kemandirian NU, menegakkan etika kepemimpinan, memperkuat otoritas ulama, memberdayakan jamaah, serta mencegah organisasi menjadi kendaraan politik atau ekonomi segelintir orang.
Menghidupkan kembali warisan Hadratussyekh bukan sekadar mencetak ulang kitabnya, melainkan menghidupkan kembali watak perjuangannya.
Gus Kikin mewarisi PBNU setelah periode yang diwarnai ketegangan internal. Karena itu, tugas pertamanya bukan memperbesar organisasi, melainkan menyatukannya. Ia harus membangun hubungan yang sehat antara Syuriyah dan Tanfidziyah, merangkul kelompok yang berbeda pilihan, serta memastikan kepengurusan baru tidak menjadi arena pembalasan.
Sebuah kapal besar tidak cukup hanya memiliki nakhoda yang berani. Ia membutuhkan kompas, peta, awak yang solid, pembagian tugas yang jelas, dan kemampuan membaca perubahan cuaca. Bagi NU, Qanun Asasi adalah kompas moral, pesantren merupakan jangkar kebudayaan, sedangkan jamaah menjadi alasan kapal itu harus terus berlayar.
Gus Kikin datang dengan silsilah terhormat, pengalaman manajemen, jaringan usaha, dan dukungan organisasi yang kuat. Semua itu merupakan modal, bukan jaminan keberhasilan.
Gus Kikin pernah mengurus kapal niaga. Kini ia memimpin kapal besar bernama NU. Tantangannya bukan hanya membuat kapal itu bergerak lebih cepat, tetapi memastikan kapal tersebut tidak kehilangan arah dan tetap berlayar menuju kemaslahatan umat. (*)










