Haji Soeharto dan Musibah Haji Kolombo: Satu-satunya yang Masih Hidup dari 262 Korban

oleh

 
Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At Taghaabun – ayat 11)

Oleh: Djoko Pitono

 
TIDAK ada ibadah agama apapun yang bisa menyamai keunikan dan masifnya jumlah orang yang mengikutinya seperti ibadah haji bagi kaum muslimin di Mekkah (dan Madinah). Siapa pun rasanya akan merasa heran, bagaimana tahun 2023 ini lebih 1,8 juta juta orang dari seluruh dunia bisa berkumpul di satu tempat untuk menghadap Tuhannya.

Di tengah terik matahari lebih dari 40 derajad Celsius pula. Suatu pembalikan jumlah jemaah haji, setelah tahun 2021 hanya 58.000 jemaah haji diijinkan oleh Pemerintah Arab Saudi karena Pandemi Covid 19. Kebanyakan adalah warga negara Arab Saudi sendiri dan penduduk mukim setempat.

Tahun ini, jumlah jemaah haji Indonesia lebih dari 221 000 orang, tetap terbesar di dunia. Seperti Anda sudah ketahui, 9 negara terbesar pengirim jemaah haji setelah Indonesia adalah Pakistan (179.210), India (175.025), Bangladesh (127.198), Nigeria (95.000), Iran (87.550), Turki (79.000), Mesir (78.000), Aljazair (41.300), dan Sudan (32.000).

Buku Sujud Syukur Seorang Jurnalis: Keajaiban di Balik Tragedi Pesawat Haji di Kolombo 1978 yang diulas ini sebenarnya berkisah tentang pengalaman H. Soeharto, seorang veteran jurnalis di Surabaya, yang selamat saat pesawat yang ditumpanginya jatuh di Kolombo pada 1978. Memang, sebenarnya ritual haji itu sendiri adalah peristiwa keajaiban.

Sejak dari awal sejarahnya, entah berapa ribu bahkan juta orang mengalami keajaiban secara pribadi atau diketahui publik. Tetapi tetap kisah H. Soeharto yang diulas di sini sangat unik. Lain daripada yang lain.

Soeharto mengatakan, saat musibah pesawat haji Kolombo terjadi pada tahun 1978, terdapat korban tewas sebanyak 183 penumpang dari 262 orang jemaah haji dan awak pesawat. Sejak tahun itu, satu persatu orang yang selamat meninggal dari tahun ke tahun.

“Tahun 2023 ini, saya mendapat informasi bahwa saya adalah satu-satunya korban selamat dari musibah haji tersebut yang masih hidup hingga kini. Alhamdulillah. Apa lagi yang akan saya hadapi,” kata Soeharto.

Soeharto menambahkan, yang jelas dirinya tentu tambah bersyukur kepada Allah SWT. “Bersyukur atas nikmat yang saya terima sejak saya mengalami musibah pada 1978 tersebut,” katanya pula.

Soeharto seolah meminta pengulas buku ini untuk membuka buku yang telah ditulisnya terdahulu.

Pada umumnya, jemaah haji adalah orang yang secara lahir dan bathin telah menyiapkan diri beberapa waktu lamanya untuk melaksanakan ibadah tersebut. Mereka mempersiapkan dana yang cukup. Mereka juga mengikuti pelatihan menasik haji pada seorang ustadz atau kiai tertentu agar ibadahnya berjalan baik dan bahkan sempurna.

Menjelang keberangkatan, seorang jemaah haji biasanya juga mengundang kerabat dan para tetangganya dalam acara “pamitan dan mohon doa restu”.

Tergantung kemampuan ekonomi dan ketokohan tentu saja. Ada yang bahkan menyembelih beberapa ekor sapi. Undangan pun bisa ratusan orang.
Saat berangkat, sang calon jemaah haji biasanya juga diantar ke Asrama Haji atau tempat penampungan tertentu oleh puluhan orang, menggunakan banyak kendaraan. Para pengantar tersebut biasanya menyalami jemaah haji itu, juga minta didoakan di Mekkah untuk bisa berhaji seperti sang jemaah haji.

Tetapi apa yang dialami Soeharto ini sangat lain. Meskipun seorang muslimin, seorang penganut Islam, dia mengaku sebagai “Islam KTP”. Dia tidak pernah menjalankan salat lima waktu, nyaris tak pernah ke mushala atau masjid, kecuali di Hari Raya Idul Fitri. Tetapi dia bisa naik haji dalam arti sebenarnya. Dia pergi ke Mekkah dan Madinah, berkat undangan Kantor Imigrasi Surabaya, sekaligus untuk meliput pelayanan pemerintah terkait ritual haji tersebut.

Dari awal keberangkatannya naik haji, kisah H. Soeharto sudah sangat menarik. Ketika berangkat dari rumah, Soeharto hanya berangkat sendiri dari rumah dengan naik becak ke Kantor Imigrasi Surabaya, tempat anggota rombongannya berkumpul.
Semua dituturkan secara lugu alias polos, tidak ada upaya untuk menutupi kekurangannya sebagai seorang muslim. Ketika melihat Kakbah pertama kali, misalnya, Soeharto juga tidak bergetar hatinya. Dia enak saja berkomentar di depan temannya, “Oh, ini to Kakbah yang jadi kiblat salat orang-orang Islam.”

Menariknya lagi, dalam perjalanan pulang dari Tanah Suci, pesawat yang ditumpanginnya mengalami kecelakaan, jatuh di Kolombo, Sri Lanka. Sebagian besar penumpangnya, seperti Anda telah ketahui,  tewas dalam kecelakaan tersebut. Dan Subhanallah, Soeharto termasuk satu di antara sebagian penumpang yang selamat. Dia pun sehat hingga kini, satu-satunya orang tahun 2023 ini.
Kehidupan Haji Soeharto kemudian sungguh pula menarik untuk diikuti.

Karier jurnalisnya terus melesat, antara lain dengan memperoleh penugasan untuk meliput berbagai acara di berbagai negara, praktis di semua benua. Sudah keliling dunia. Termasuk ke Vatikan, “kiblat” orang Kristen sedunia. Veteran jurnalis yang sebelumnya mengaku sebagai “Islam KTP” ini sekarang menjadi seorang muslim yang taat.

Salat lima waktu tak pernah ditinggalkan. Sering pula tiap Subuh dia mengikuti salat berjamaah di masjid-masjid yang berbeda di Surabaya, meskipun tempatnya jauh dari rumahnya. Rumah-rumah yatim pun sering disambanginya, ingat anak-anak yang jadi penghuninya. Dia pun beberapa kali lagi pergi haji dan umrah bersama istrinya, Ibu Naniek, yang baru meninggal dunia beberapa bulan lalu.

Setelah beralih profesi, pindah kerja dari Surabaya Post ke PT Maspion, sebuah perusahaan konglomerasi barang-barang rumahtangga, Soeharto juga berhasil menumbuhkan iklim beribadah di perusahaan tersebut.

Sebagai Asisten Direksi, dia melobi pimpinan untuk membenahi mushala-mushala yang ada di masing-masing unit pabrik Maspion. Selain bertambah luas, mushala-mushala tersebut juga lebih bersih dan nyaman.
Berkali-kali Soeharto mendapat beragam kenikmatan. Tak bisa menghitung. Soeharto mengatakan, dirinya pernah terserang stroke. Dengan upaya keras untuk sembuh, Soeharto kembali sehat. Bisa menyetir mobil sendiri meskipun usianya di kisaran 80 tahun.

Keajaiban yang juga dipandangnya kenikmatan adalah pertemuannya dengan putri penumpang di sebelahnya di dalam pesawat haji Kolombo, Mayor Syarif, yang jadi korban tewas. Putri tentara itu, Erna Fahriati SH, seorang notaris di Singkawang, sampai mengundangnya bersilaturahmi ke Singkawang setelah membaca buku karya Soeharto. Hal itu terjadi 40 tahun setelah musibah yang merenggut nyawa Mayor Syarif.

Soeharto pun mengulangi, dia benar-benar menyukuri nikmat yang telah dilimpahkan Allah pada diri dan keluarganya.
Sekarang Soeharto mengatakan, dirinya sedang menunggu nikmat berikutnya. Sampai ajal menjemputnya.

Orang-orang mengatakan, itulah tanda bahwa ibadah haji Soeharto adalah mabrur. (*)
 

  • Djoko Pitono, veteran jurnalis dan editor buku.

No More Posts Available.

No more pages to load.