Hujan di Puncak Musim Kemarau: Petani Tembakau Tak Terpengaruh, di Pamekasan Lahan Makin Luas

oleh
Petani tembakau Pamekasan tidak khawatir hujan turun di musim kemarau akhir-akhir ini karena relatif kecil.
Petani tembakau Pamekasan tidak khawatir hujan turun di musim kemarau akhir-akhir ini karena relatif kecil.

 

PAMEKASAN| DutaIndonesia.com- Hujan masih mengguyur sejumlah daerah di puncak musim kemarau ini. Bahkan, sebagian daerah mengalami banjir. Badan Meteorologi dan Geo Fisika (BMKG) Stasiun Juanda membenarkan musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali tapi curah hujannya berkurang.

“Definisi musim kemarau itu sendiri apabila dalam suatu zona musim jumlah curah hujan kurang dari 50 mm selama 3 dasarian berturut-turut. Sedang bila sekarang cuaca seperti tidak menentu, di Jawa Timur memang dinamika atmosfer hariannya cukup kompleks. Hal ini mempengaruhi perubahan cuaca juga. Seperti terjadi pada seminggu awal Juli ini. Terjadi peningkatan curah hujan. Sesuai dengan press release yang telah kami keluarkan pada 1 Juli lalu, utamanya karena aktifnya gelombang MJO yang melintas di wilayah Jawa Timur,” kata prakirawati, Siska Anggraeni, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (10/7/2024).

Dia menegaskan cuaca tiap lokasi sangat kompleks dan dinamis apalagi karena dampak perubahan iklim juga. Mau tidak mau setiap sektor tentu juga diharapkan bisa melakukan adaptasi.

“Untuk BMKG sendiri selalu menyediakan update informasi curah hujan/iklim yang terus diperbarui tiap bulan, mingguan, harian, terkini (berupa peringatan dini cuaca ekstrem) yang kami sebarluaskan melalui website resmi (stamet-juanda.bmkg.go.id) dan media sosial (@infobmkgjuanda). Masyarakat juga bisa mengakses radar cuaca Jawa Timur untuk mengetahui kondisi cuaca realtime di wilayah Jawa Timur,” katanya.

Karena itu, kata dia, masyarakat, khususnya petani, harus pula menguasai teknologi agar bisa mengakses informasi kondisi cuaca terbaru tersebut. “Kami mengharapkan peran aktif masyarakat khususnya petani untuk rutin mengakses informasi cuaca terkini yang selalu kami perbarui dan sebarluaskan baik melalui website maupun media sosial sehingga bisa segera merespon/ menyiapkan untuk mitigasinya,” katanya.

Namun hujan yang melanda wilayah Kabupaten Pamekasan beberapa hari ini tidak mempengaruhi pertumbuhan maupun kualitas tembakau. Sebab curah hujan kecil dan terjadi parsial. Artinya hanya terjadi di sebagian kecil kecamatan saja.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan, Nolo Garjito, mengatakan, hujan yang terjadi beberapa hari lalu itu hanya terjadi di wilayah kecamatan yang tidak begitu padat lahan tembakaunya. Yakni Kecamatan Tlanakan, Pakong dan Kecamatan Kota Pamekasan.
Tidak mempengaruhi pertumbuhan tembakau sama sema sekali. Itu hujan kecil saja. Dan itu hanya terjadi di tiga kecamatan yakni Kecamatan Tlanakan, Kota Pamekasan dan Kecamatan Pakong, ungkap Nolo Garjito, Rabu (10/7/2024).

Seorang petani tembakau di Desa Panguraian Kecamatan Proppo saat dihubungi DutaIndonesia.com dan Global News Rabu (10/7/2024) mengatakan curah hujan yang terjadi beberapa hari lalu kecil sehingga tidak berpengaruh apa pun pada pertumbuhan tembakau. Para petani tetap tenang seperti biasa merawat tembakaunya. “Tidak apa-apa,” ujarnya.

Saat ini, kata Nolo Garjito, tembakau di Pamekasan rata-rata masih berusia satu bulan. Karena itu ketika terkena hujan asal tembakaunya tidak mati, maka pertumbuhan tembakau akan tetap baik kembali dan akan sehat sebagaimana biasa.

Dia memperkirakan musim panen tembakau tahun ini akan terjadi pada akhir September 2024 medatang. Jika tidak ada hujan lagi, maka pertumbuhan tembakau akan tetap sehat dan baik.

Karena itu, kata Nolo, pihak DKPP Pamekasan saat ini terus memberikan penyuluhan kepada petani melalui para penyuluh BPP di lapangan agar para petani berusaha memelihara kualitas tembakau dengan cara cocok tanam yang benar, pemupukan yang benar, perawatan dan penanganan saat panen dengan baik dan tepat waktu.

Lahan Makin Luas

Terkait jumlah lahan yang ditanami tembakau pada musim tanam tahun ini, Nolo mengaku luasnya makin meningkat dibanding tahun lalu. Kalau pada musim tanam tahun lalu luas lahan yang ditanami tembakau sekitar 23 ribu hektare, tahun ini naik menjadi 30 ribu hektare lebih.

Kenaikan ini terjadi terkait atau dipengaruhi oleh mahalnya harga tembakau pada musim tanam tahun 2023 lalu. Sehingga petani banyak yang tergiur untuk menanam tembakau dengan jumlah lahan yang luas melebihi luas lahan pada tahun 2023 lalu, ungkapnya.

Luas areal lahan yang layak ditanami tembakau di Pamekasan sebenarnya hanya sekitar 18 ribu hektare. Dengan rincian 7 ribu hektare lebih lahan irigasi, 10 ribu hektare lebih lahan sawah atau tadah hujan. Sekalipun ada lahan lain yang masih luas, lahan itu tidak cocok untuk tanaman tembakau.

Namun yang terjadi sekarang lahan yang ditanami tembakau sudah mencapai 30 ribu hektare lebih. Artinya banyak lahan yang tidak cocok untuk ditanami tembakau namun oleh petani ditanami tembakau karena tergiur oleh harga mahal pada musim panen tahun 2023 lalu, yang harganya mencapai Rp 70 hingga Rp 80 ribui perkilo, punkasnya. (mas/gas)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.