Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki*
Di hari-hari ini, jutaan Muslim bergerak menuju Tanah Haram untuk menunaikan rukun Islam kelima. Dari sekitar 2 juta jamaah itu, tak sedikit yang berangkat untuk kesekian kalinya. Padahal kewajiban haji hanya sekali seumur hidup bagi yang mampu.
Demi berangkat haji, banyak yang menghabiskan ratusan juta rupiah. Tak jarang pula mereka menjual aset penting penopang hidup keluarga. Akibatnya, sebagian justru jatuh miskin dan menjadi beban sosial sekembali dari haji.
Ironisnya lagi, kemiskinan masih merajalela di sekitar kita. Banyak saudara seiman yang bahkan tak mampu mencukupi kebutuhan dasar. Sebagian terpaksa menggadaikan kehormatan demi sesuap nasi.
Realitas ini memunculkan pertanyaan: Di tengah maraknya kemiskinan, apakah wajar seseorang berhaji berkali-kali? Bukankah dana besar itu lebih utama disalurkan untuk mengangkat kaum mustadh’afin yang termarjinalkan?
Kisah Tukang Semir Sepatu yang Hajinya Mabrur
Pertanyaan itu terjawab dalam kisah yang diriwayatkan ulama besar Makkah, Abu Abdurrahman Abdullah bin Al-Mubarak Al-Hanzhali Al-Marwazi, atau lebih populer dengan Ibnu Mubarak.
Suatu hari, usai menunaikan salah satu rangkaian haji, Ibnu Mubarak tertidur lelap. Dalam mimpinya, ia melihat dua malaikat turun dari langit dan berdialog:
“Berapa jamaah haji tahun ini?” tanya yang satu.
“Tujuh ratus ribu lebih,” jawab lainnya.
“Berapa yang hajinya diterima?”
“Tidak satu pun.”
Mendengar itu, Ibnu Mubarak gemetar. Dalam hatinya ia merintih: “Mereka datang dari pelosok bumi, menempuh perjalanan berat dan melelahkan, melintasi padang pasir, namun semua sia-sia?”
Dialog kedua Malaikat itu pun berlanjut: “Tetapi ada seorang yang tidak berhaji, namun hajinya diterima. Karena dialah Allah menerima haji semua yang lain”, kata malaikat yang satu.
“Siapa dia?”, tanya malaikat yang satu lagi.
“Sa’id bin Muhafah, tukang semir sepatu di Damaskus.”, jawab yang lain.
Ibnu Mubarak terbangun dari tidurnya dengan hati gelisah. Usai menuntaskan seluruh manasik, ia tidak langsung pulang ke rumah ya. Ia malah berangkat ke Damaskus mencari Sa’id Ibnu Muhafah, tukang semir sepatu yang disebut malaikat hajinya mabrur.
Setelah bertanya ke banyak tukang semir di kota Damaskus, ia menemukan Sa’id di pinggir kota, seorang yang sangat sederhana dengan pakaian lusuh.
“Benarkah Anda Sa’id bin Muhafah?” tanya Ibnu Mubarak.
“Benar, Tuan. Anda siapa?”
“Saya Abdullah bin Mubarak.”
Sa’id terkejut karena dia telah lama mendengar nama Ibnu Mubarak, sang ulama terkenal. “Ulama besar datang menemui saya? Ada apa, Tuan?”
Ibnu Mubarak pun menceritakan mimpinya, lalu bertanya: “Amal apa yang Anda lakukan hingga meraih pahala haji mabrur?”
“Saya tidak tahu, Tuan,” jawab Sa’id. “Ceritakan hidup Anda,” pinta Ibnu Mubarak.
Sa’id pun berkisah: “Setiap musim haji saya mendengar gema talbiah: Labbaik Allahumma labbaik. Setiap kali itu saya menangis, ‘Ya Allah, aku rindu Makkah. Izinkan hamba-Mu datang.’ Selama puluhan tahun saya menyisihkan upah menyemir sepatu. Tahun ini terkumpul 350 dirham, cukup untuk berangkat.”
“Tapi Anda batal?” tanya Ibnu Mubarak.
“Benar,” jawab Said.
Dia kemudian bercerita: “Istri saya hamil dan ngidam berat. Suatu hari ia mencium aroma masakan sedap dari rumah tetangga. Maka ia meminta saya untuk memintakan sedikit dari makanan yang baunya lezat itu.”
Lanjut cerita, Said mendatangi gubuk tetangganya: seorang janda dengan enam anak. Gubuknya nyaris roboh.
“Bisakah saya membeli sedikit masakan itu untuk istri saya?” pinta Sa’id.
Janda itu menatapnya, lalu berkata pelan, “Tidak bisa, Tuan.”
“Berapapun saya bayar,” desak Sa’id.
“Makanan ini tidak dijual,” jawabnya sambil berlinang air mata. “Daging ini halal bagi kami, haram bagi Tuan”, sambungnya lagi.
Sa’id bingung. “Mengapa?”
Janda itu menangis dan berkata: “Sudah berhari-hari kami tidak makan. Hari ini kami menemukan bangkai keledai. Kami ambil dagingnya agar tidak mati kelaparan. Bagi kami ini darurat dan halal. Tapi bagi Tuan ini haram.”
Mendengar itu Sa’id pulang sambil menangis. Ia ceritakan pada istrinya. Mereka pun memasak makanan layak, mengantarkannya ke rumah janda itu, dan menyerahkan seluruh 350 dirham tabungan hajinya.
Sambil menyerahkan semua uangnya ke sang janda, dalam hatinya Sa’id berucap: “Ya Allah, inilah hajiku. Ya Allah, inilah Makkahku.”
Ibnu Mubarak menangis, sambil memeluk Sa’id, dan berkata: “Selamat saudaraku. Hajimu diterima sebagai haji mabrur.” Ia lalu membacakan sabda Nabi: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” [Bukhari Muslim]
Kisah ini menegaskan bahwa haji mabrur bukan sekadar amalan ritual semata. Haji mabrur adalah gabungan dua kebaikan: pengabdian vertikal kepada Allah dan pelayanan horizontal kepada sesama.
Apalah arti haji bahkan berkali-kali jika kita abai pada penderitaan sesama di sekeliling kita? Lebih parah lagi bila haji hanya dijadikan simbol prestise sosial. Seolah dengan gelar hajinya ia lebih terhormat dan mulia.
Haji mengajarkan pengorbanan. Dan pengorbanan tertinggi kadang bukan di Padang Arafah dan tanah haram, tetapi ketika kita memastikan memenuhi perut lapar tetangga di atas dorongan egistik sendiri, bahkan dalam ibadah ritual sekalipun.
Makassar, 17 Mei 2026
*Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation, New York, Amerika Serikat











