Idul Fitri, Kemenangan Atau Keterpurukan?

oleh

Oleh Masdawi Dahlan
(Wartawan DutaIndonesia.com Biro Pamekasan)

 

BEBERAPA hari lagi umat Islam segera merayakan Idul Fitri 1446 H setelah tuntas melaksanakan puasa Ramadhan. Idul Fitri adalah hari yang sangat dinantikan oleh kaum muslimin. Idul Fitri artinya hari raya kesucian. Umat Islam yang melaksanakan puasa penuh satu bulan dan mendapatkan ampunan Allah atas dosa-dosanya, maka dia dinamakan manusia fitri.

Idul Fitri juga disebut hari kemenangan. Maknanya kaum muslimin melaksanakan ibadah puasa telah berhasil mengalahkan nafsu negatif yang ada dalam dirinya. Sehingga pasca Ramadhan tampil dengan perilaku keseharian berakhlakul karimah.

Kepribadian ini berlaku bagi segenap aspek kehidupan kaum muslimin dalam tugas jabatan dan segala stratafikasinya. Termasuk dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Sebagai mayoritas di Indonesia, harus diakui umat Islam belum maksimal bisa menyumbangkan hikmah nilai positif puasa Ramadhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal, tiap tahun kaum muslimin berpuasa dan merayakan hari kemenangan. Kemenangan seperti apa bila realitas persoalan bangsa ternyata bertambah parah. Korupsi makin merajalela dan pelakunya makin beragam dan brutal.

Penegakan hukum berjalan tidak adil, demokrasi makin rusak, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan ekonomi masih buram, masyarakat dihantui rasa kecemasan akan masa depannya, karena para pemimpin mengelola negara ini secara “amatiran”, penuh nafsu serakah, mengutamakan kepentingan diri dan kelompoknya.

Kaum muslimin juga banyak yang tak peduli akan nasib negerinya, karena mereka disibukkan dengan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Misalnya pendidikan jauh tertinggal sehingga mudah dibodohi secara politik dan ekonomi oleh bangsa lain maupun oleh oknum pemimpin pengkhianat dari bangsanya sendiri.

Lalu di mana letak kemenangan itu? Yang terjadi sejatinya kecelakaan sebab perilaku hidup hari demi hari justru lebih buruk dibandingkan hari sebelumnya. Dalam sebuah haditsnya Nabi Muhammad SAW mengatakan, jika perilaku seseorang hari ini lebih baik dari hari sebelumnya maka itulah keberuntungan.

Jika sama adalah kerugian. Jika kehidupan hari ini lebih buruk dari sebelumnya itu adalah kecelakaan, yang sangat mungkin berakhir kepada kehancuran. Dalam bidang ekonomi, politik dan demokrasi, pendidikan dan moralitas, secara kualitatif Indonesia terus mengalami keterpurukan.

Lalu apakah kaum muslimin menyadari hal itu? Jawabannya harus! Maka, Idul Fitri harus kembali dijadikan momentum untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki total kekurangan dan kesalahan masa lalu bangsa dan negara ini.

Semua elemen harus berjuang keras menjadikan Idul Fitri sebagai momentum perbaikan secara menyeluruh pada aspek kehidupannya. Selama ini Idul Fitri dimaknai sebagai hari kemenangan tidak lebih dari sebuah retorika saja.

Rasulullah Muhammad SAW meminta agar umatnya menjauhi banyak retorika atau permainan kata- kata karena hal itu bisa menjadi jalan sebuah kebohongan. Dalam sebuah hadits diriwayatkan Haitsami, dia berkata:

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan segala sesuatu di hadapanNya dan di belakangNya. Sungguh sebagian dari retorika itu adalah sihir (kebohongan).

Hal itu karena dalam praktiknya perilaku kaum muslimin banyak menjadikan Idul Fitri hanya momentum hura-hura, pamer harta, perhiasan, pamer kesuksesan anggota keluarga.

Menyambut Idul Fitri harus mengeluarkan dana besar untuk makan yang enak, pakaian dan perhiasan yang mahal, bertamasya ke tempat wisata yang elite dan memukau. Memang ada silaturrahmi tapi bukan untuk menjalankan sunnah Rasul, tak lebih dari perilaku pamer keberhasilan.

Padahal seharusnya pasca Ramadan kaum muslimin bisa mewujudkan dirinya menjadi manusia yang bisa membangun hubungan baik dengan tuhannya maupun dengan sesamanya. Manusia yang cinta tanah air dengan aktif membangun bangsa. Bukan malah sebaliknya menghancurkan negerinya dengan berbagai perilaku korupsi dan perbuatan lain yang merusak bangsa.

Ibadah puasa ibarat proses metamorfosis seekor ulat yang kemudian menjadi seekor kupu-kupu cantik. Ulat yang menjijikkan berubah jadi kupu- kupu yang sangat indah dan menawan. Orang berpuasa semula banyak dosa menjijikkan tapi setelah berpuasa Ramadhan penuh dia menjadi suci.

Beriman bertaqwa berakhlakul karimah karena mendapat ampunan Allah SWT. Manusia semacam inilah yang mendapat kemenangan itu. Dan bangsa serta negara dengan manusia semacam inilah yang akan menjadi maju rakyatnya makmur sejahtera. Semoga! (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.