Istimewakah Lailatul Qadar dengan Kebaikan 1000 Bulan?

oleh
Imam Amrusi Jailani
Imam Amrusi Jailani

Oleh Imam Amrozi Jailani
(Dosen IAIN Madura)

SALAH satu momen yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di bulan Ramadan adalah Lailatul Qadar, di mana dalam pandangan umat Islam malam ini sebagai malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Malam ini bukan hanya dinanti-nanti oleh umat Islam, malah justru sering diburu untuk diraih pahalanya yang lebih dari 1000 bulan itu.

Apalagi Rasulullah SAW memang menganjurkan kita untuk berburu Lailatul Qadar di 10 hari yang terakhir bulan Ramadan, pada setiap malam-malam ganjil. Dengan adanya stimulus yang begitu tinggi dari Rasulullah agar umat Islam berburu Lailatul Qadar, maka sebagian umat Islam merespon hal tersebut dengan respon yang begitu tinggi pula.

Tidak jarang dari mereka yang sengaja meluangkan waktunya di 10 hari yang terakhir bulan Ramadan itu untuk memilih tempat-tempat tertentu, tentunya pada malam-malam ganjil, untuk dikhususkan bermunajat di suatu tempat yang dipandang lebih besar potensinya untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar. Ada yang mengkhususkan waktunya untuk berburu lailatul qadar dengan cara umroh ke Makkah dan Madinah.

Mereka sengaja memilih program umroh Ramadan untuk bermunajat di Masjidil Haram dan Masjidil Nabawi sebagai tempat untuk I’tikaf monyongsong datangnya Lailatul Qadar. Apalagi ada yang berpandangan bahwa umroh di Bulan Ramadhan pahalanya disamakan dengan pahala haji. Berarti orientasi mereka adalah meraih pahala yang sebanyak-banyaknya.

Sebagian umat Islam di Indonesia memilih masjid-masjid tertentu untuk dijadikan sebagai batu loncatan meraih berkah Lailatul Qadar, seperti Masjid Istiqlal di Jakarta pada 10 hari yang terakhir banyak sekali didatangi umat Islam dari berbagai penjuru di tanah air. Demikian pula dengan masjid-masjid yang lainnya seperti Masjid Raya Baiturrahman di Aceh, Masjid Al Markas di Makassar, Masjid Al-Akbar di Surabaya, Masjid Ampel di Surabaya, dan banyak lagi masjid yang lainnya.

Lantas apakah hanya kebaikan yang melebihi 1000 bulan yang dapat diraih dalam waktu semalam dan menjadi pemicu utama untuk mereka memperoleh berkah Lailatul Qadar?

Mungkin bagi kebanyakan orang yang notabene kalangan awam, besarnya pahala itu sangat menjanjikan. Bayangkan saja pahala 1000 bulan hanya diraih dengan satu malam saja, padahal umur kita saja belum tentu sampai 1000 bulan lamanya. Sehingga ada yang mengatakan bahwa keutamaan atau keistimewaan lailatul qadar itu terletak pada besarnya pahala yang disiapkan oleh Allah bagi siapa yang beribadah atau berbuat kebaikan bersamaan dengan datangnya lailatul qadar itu sendiri.

Kemudian terdapat persoalan yang krusial berkaitan dengan berkah lailatul qadar itu sendiri, yakni mengenai siapa saja yang bisa mendapatkan berkah itu sehingga harus berburu, sementara orang yang tidak berburu disangsikan untuk bisa memperoleh berkah Lailatul Qadar itu. Sebagian kalangan mempercayai bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kedekatan dengan Allah yang bisa memperoleh berkah Lailatul Qadar.

Mereka itu ya mungkin para wali Allah, para ulama, kalangan orang-orang soleh, dan lain sebagainya. Sementara kalangan yang lain berpandangan bahwa kemurahan Allah itu diberikan kepada semua hamba-Nya yang beribadah di malam al qadr itu tanpa pandang bulu apakah dia itu wali, ulama, kyai, atau yang dianggap memiliki kedekatan dengan Allah.

Kalangan yang mempercayai bahwa lailatul qadar keberkahannya hanya bisa diraih oleh orang-orang tertentu, biasanya menyediakan waktunya di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan untuk bermunajat sepenuh malam kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan harapan mereka dapat berkah Lailatul Qadar. Sementara yang lain ada yang berpandangan siapapun asalkan hamba Allah yang beriman yang beribadah pada malam ganjil tersebut, semua amalnya akan disetarakan dengan kebaikan 1000 bulan. Apalagi bagi kalangan tertentu pada level khawasil khawas, mereka yang sudah mengetahui rahasianya seakan-akan ibadahnya biasa-biasa saja, akan tetapi dalam kealiman mereka yang tabahhur mengetahui rahasia-rahasia ibadah tertentu.

Seperti yang tertuang dalam sabda Nabi SAW bahwa salat Isya’ berjamaah pahalanya disamakan dengan ibadah setengah malam. Kemudian ibadah Subuh berjamaah disetarakan dengan ibadah semalam suntuk. Dengan berpatokan kepada rahasia dari ibadah kedua salat tersebut, maka sebagian memandang bahwa ibadah mereka pada level shalat Isya’ dan Subuh berjemaah sudah disamakan dengan beribadah semalam suntuk.

Jadi, walaupun mereka tidak menyediakan waktunya semalaman suntuk, namun amal mereka yang disetarakan dengan ibadah semalam suntuk itu sudah di cover oleh para malaikat dan sangat besar potensinya untuk dilipatgandakan dengan nilai ibadah 1000 bulan.

Bagi kalangan tertentu pahala kebaikan 1000 bulan tidak hanya dimiliki oleh Lailatul Qadar, seperti pandangan Syeikh Abdul Qodir Jaelani yang mengatakan bahwa pahala menuntut ilmu itu disamakan dengan ibadah 83 tahun lebih, yang artinya paralel atau sama dengan ibadah di malam al-Qadar.

Jadi keistimewaan 1000 bulan itu juga ada pada ibadah-ibadah yang lain, seperti menuntut ilmu. Demikianlah menurut Syeikh Abdul Qodir Jaelani dalam kitabnya Al Fathur Rabbani wa Faydhur Rahmani. Hal senada juga diungkapkan oleh Syeikh Nawawi Al Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad bahwa pahala menuntut ilmu itu lebih besar dari pahala ibadah 80 tahun lamanya.

Diungkapkan pula oleh Jalaluddin as-Sayuthi dalam kitab Lubabul Hadits bahwa pahala menuntut ilmu itu disetarakan dengan ibadah puluhan tahun bahkan 100 tahun. Dengan begitu 1000 bulan yang disediakan pada malam al-qadr itu tidak lagi menjadi sesuatu yang an sich istimewanya bagi kalangan tertentu. Lantas dimana letak keistimewaan Lailatul Qadar lainnya jika bukan terletak kepada kebaikan 1000 bulan itu?

Ada beberapa hal yang mengindikasikan keistimewaannya itu melebihi kebaikan 1000 bulan, dan ekspektasi itu diungkapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala setelah mengungkapkan disediakannya kebaikan 1000 bulan. Di antaranya adalah kebersamaan umat beriman dengan para malaikat yang jumlahnya miliaran, itu jauh melampaui ekspektasi pahala kebaikan 1000 bulan, karena malaikat itu aktivitasnya selalu bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan selalu memohonkan maghfirah bagi orang-orang yang beriman.

Adanya ampunan yang disediakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala itu merupakan sesuatu yang amat berharga dan bagi sebagian kalangan hal itu mungkin akan menjadi sesuatu yang lebih berharga ketimbang pahala kebaikan 1000 bulan. Kapan lagi kita bisa bersama-sama para malaikat, bergabung semuanya memenuhi alam raya ini, karena mereka semuanya turun berduyun-duyun dari langit dengan membawa jaminan keselamatan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk seluruh umat beriman.

Turunnya para malaikat itu atas seizin Allah dalam artian memang diperintah oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan itu berarti karena keridhaan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena keridhaan Allah itulah yang dianggap segala-galanya oleh sebagian ulama, sehingga dengan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala, maka segala-galanya akan diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman.

Jangankan pahala kebaikan 1000 bulan, pahala kebaikan puluhan ribu tahun pun itu akan digelontorkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas nama keridhaan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Itulah mungkin keistimewaan yang sangat spektakuler dan ekspektasinya mungkin melampaui pahala kebaikan 1000 bulan yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian buah dari adanya keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada hambanya yang beriman itu adalah keselamatan yang dibawa oleh para malaikat untuk disematkan kepada seluruh hamba Allah yang beriman.

Jika tiket keselamatan sudah ada di tangan, di mana mereka dengan tiket tersebut akan mendapatkan keselamatan di dunia, lebih-lebih di akhirat akan mendiami Darussalam, negeri keselamatan, yaitu surga Allah subhanahu wa ta’ala, lantas apakah ada lagi yang lebih istimewa dari hal tersebut?

Selain menjadi penghuni Darussalam di mana semua kenikmatan disediakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan kenikmatan tertinggi selain dari menghuni surganya Allah subhanahu wa ta’ala ialah bisa melihat Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, apa yang dicari sebenarnya oleh kalangan yang mengerti rahasia lailatul qadar itu ialah keridhaan dan keselamatan yang disediakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada lailatul qadar.

Substansi dari lailatul qadar itu sebenarnya terletak pada kontinuitas, atau ketersambungan dan keberlangsungan kebaikan itu sendiri yang ajek selalu diraih seorang hamba. Dengan demikian jika keistimewaan dari lailatul qadar itu bersambung terus dalam kehidupan diri seorang hamba, maka lailatul qadar itu tidak hanya tersedia di bulan Ramadan saja, melainkan tersedia juga di pasca Ramadhan, pada bulan-bulan lainnya.

Itulah yang disampaikan oleh Buya Hamka dalam bukunya, Renungan Tasawuf. Atau bisa juga dimaknai bahwa berkah dari lailatul qadar itu akan selalu diraih oleh siapa pun dari hamba Allah, kapan pun, sekalipun di luar bulan Ramadhan. Hal ini dikarenakan begitu mulianya lailatul qadar itu sendiri, sehingga berkahnya selalu mengalir tanpa putus, tanpa berhenti, sehingga akan selalu tersambung relasi yang baik antara hamba dan Tuhannya.

Keberkahan Lailatul Qadar mungkin bisa dianalogikan dengan kemabruran haji, di mana kemabrurannya itu tidak dilihat pada waktu seseorang menunaikan ibadah haji, akan tetapi setelah pulang ke kampung halamannya.

Tatkala seseorang yang sudah menunaikan haji memperoleh keberkahan dalam kehidupan selanjutnya selalu diisi dengan kebaikan, maka itulah kemabruran haji melekat pada dirinya. Haji yang mabrur akan selalu mewarnai dalam kehidupan pasca haji dengan corak kebaikan yang selalu melekat dan berkesinambungan sebagai pancaran dari hajinya yang mabrur.

Itulah keagungan Lailatul Qadar, sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa seorang hamba Allah yang sudah menerima berkah dari lailutul Qadar akan selalu mengalir pada dirinya kebaikan-kebaikan hingga dirinya menghadap ke Sang Khaliq yang selalu dirindukannya.

Pertemuan dengan Sang Khaliq itulah yang menjadi poin plus bagi seorang yang menerima berkah Lailatul Qadar, karena tidak sembarang orang yang bisa menjumpai sang kekasih yang selalu dirindukannya dalam keadaan saling ridha antara yang mencintai dan dicintai. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.