KETUA DPRD Jawa Timur, Musyafak Rouf, sudah mengumumkan Gubernur-Wakil Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak dalam rapat paripurna di Gedung DPRD Jatim Jalan Indrapura Surabaya, Sabtu (8/2/2025). Pasangan Khofifah-Emil Dardak sudah pula diusulkan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dilantik oleh Presiden RI pada tanggal 20 Februari 2025 mendatang di Jakarta.
Kita semua tentu mengucapkan selamat kepada pasangan Khofifah-Emil sekaligus berharap agar Jatim semakin maju berkembang dengan masyarakatnya semakin makmur sejahtera, baik secara ekonomi maupun dalam hal peningkatan akhlak, moral keagamaan, pendidikan, sosial-budaya, hingga ilmu pengetahuan dan teknologi.
Duet Khofifah-Emil tentu saja akan melanjutkan program yang sudah berhasil dilaksanakan dalam kepemimpinannya pada periode sebelumnya. Pada periode lima tahun mendatang, Khofifah-Emil juga akan fokus pada program pembangunan dan memajukan sumber daya manusia (SDM) masyarakat Jatim sebagai kunci untuk memajukan wilayah Jatim.
Dalam bidang pertanian, misalnya, Jatim sebagai lumbung pangan nasional harus menjadi motor penggerak utama mempercepat keberhasilan program unggulan Presiden Prabowo Subianto, khususnya mewujudkan swasembada, ketahanan, dan kedaulatan pangan yang dicapai 2028. Apalagi program swasembada pangan juga bertujuan mendukung program unggulan lain yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa dan ibu hamil yang sudah berjalan. MBG juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM sejak dini.
Begitu pula dalam hal kedaulatan energi, khususnya energi baru terbarukan (EBT) yang menjadi tren global, sehingga untuk kedua bidang vital itu Indonesia tidak lagi mengimpornya dari luar negeri. Kebutuhan bahan baku program unggulan Presiden Prabowo itu sangat besar, sehingga menjadi ironis bila harus mengandalkan dari impor. Apalagi kekayaan alam Jatim sangat melimpah. Termasuk kekayaan pertanian dan perikanan serta sumber energi. Tinggal bagaimana mengelolanya secara baik dan benar melibatkan SDM yang mumpuni.
Untuk itu Khofifah – Emil harus bisa mengoptimalkan kolaborasi antara Pemda, swasta, dan perguruan tinggi guna tujuan bersama memakmurkan masyarakat Jatim. Salah satu kuncinya adalah SDM mumpuni dan inovasi. Ekosistem riset perlu didukung penuh, khususnya yang dilakukan oleh perguruan tinggi. Selanjutnya, mengelaborasi hasil riset inovatif di perguruan tinggi hingga link and match dengan kebutuhan industri, kebutuhan petani dan nelayan, serta masyarakat lainnya.
Riset dalam bidang medis dan farmasi juga perlu digencarkan melibatkan perguruan tinggi dan swasta mengingat Presiden Prabowo mencanangkan program cek kesehatan gratis (CKG). Pasalnya, kelak bukan hanya orang sakit saja yang harus ditangani di poliklinik, puskesmas atau rumah sakit, tapi tindakan preventif perlu dilakukan untuk mencegah sejak dini agar masyarakat tidak sampai sakit. Masyarakat selalu sehat hingga usia tua. CKG untuk meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Jatim.
Semua itu baru bisa dicapai bila semua yang terlibat di dalamnya kompak memberi pelayanan maksimal untuk masyarakat. Warga mudah dan murah dalam mengakses semua layanan yang diberikan oleh Pemerintah. Warga mendapat semua kebutuhan pokoknya dengan mudah dan murah.
Tidak ada lagi birokrasi berbelit, apalagi sampai terjadi pungutan liar dan korupsi. Khofifah-Emil harus kompak mewujudkan birokrasi dalam semua tingkatan dan semua sektor bersih dari pungli dan korupsi. Kompak juga menjadi kunci keberhasilan pasangan kepala daerah dalam memajukan daerahnya mengingat selama ini banyak pasangan pemenang pilkada “bulan madu”-nya hanya singkat saja. Selebihnya pecah kongsi untuk tujuan berkuasa di periode selanjutnya. Semoga ini tidak terjadi di Jatim mengingat duet Khofifah-Emil sudah menjadi teladan yang baik. (*)














