Oleh: Ulul Albab
Ketua Bidang Litbang DPP AMPHURI
DULU, jika seseorang ingin membangun bisnis travel umrah, yang pertama kali dipikirkan adalah izin usaha, jaringan di Arab Saudi, kualitas pembimbing ibadah, pelayanan jamaah, dan pengalaman operasional.
Hari ini, ada hal baru yang sering kali dianggap tidak kalah penting, yaitu: Jumlah followers. Bahkan dalam beberapa kasus, jumlah followers bisa menjadi lebih menarik daripada jumlah cabang.
Memang kita sekarang ini sedang hidup di era yang unik. Di era ini, perhatian manusia telah berubah menjadi komoditas ekonomi yang sangat berharga. Semakin banyak orang memperhatikan seseorang, semakin besar pula pengaruh yang dimilikinya.
Karena itulah para ahli menyebut zaman sekarang sebagai era “attention economy” atau ekonomi perhatian. Yang diperebutkan bukan lagi hanya soal uang. Tapi perhatian.
Dan para influencer adalah pemilik perhatian itu. Mereka memiliki audiens. Mereka memiliki pengikut. Mereka memiliki kemampuan memengaruhi keputusan banyak orang dalam waktu yang sangat singkat.
Dalam konteks industri umrah, fenomena ini melahirkan perubahan besar. Dulu travel membangun pasar melalui kantor cabang, pengajian, majelis taklim, alumni jamaah, dan rekomendasi dari mulut ke mulut. Kini satu unggahan video yang viral kadang malah mampu menjangkau lebih banyak calon jamaah daripada berbagai kegiatan promosi konvensional selama berbulan-bulan.
Di sinilah followers berubah menjadi mata uang baru. Semakin besar jumlah pengikut, semakin tinggi nilai ekonominya. Semakin tinggi tingkat kepercayaan audiens, semakin besar pula daya pengaruhnya.
Namun seperti semua mata uang, followers juga memiliki sisi lain. Mereka dapat menciptakan peluang. Tetapi juga dapat menciptakan ilusi. Karena jumlah pengikut tidak selalu identik dengan kualitas informasi. Jumlah penonton tidak selalu identik dengan kompetensi. Dan jumlah “like” tidak selalu identik dengan kebenaran.
Bagi industri umrah, inilah tantangan yang perlu dipahami dengan jernih. Influencer tentu saja bukan musuh. Tetapi mereka juga bukan penyelamat. Mereka hanyalah salah satu aktor baru dalam ekosistem pemasaran digital yang sedang berkembang sangat cepat.
Karena itu pertanyaan pentingnya bukanlah bagaimana mendapatkan influencer yang paling terkenal. Tetapi bagaimana memastikan bahwa kepercayaan jamaah tetap dibangun di atas fondasi yang benar.
Sebab dalam industri umrah, yang paling berharga bukan followers. Tetapi amanah. Betul Nggak?… Insyaalloh betul. Dan inilah yang nanti pada Mukernas Amphuri di Palembang akhir juni 2026 insyaalloih akan menjadi diskusi menarik.
(Bersambung)












