Oleh: Natarianto Indrawan, Ph.D.
(Former) Praktisi dan Peneliti National Energy Technology Laboratory (NETL), Departemen Energi, Amerika Serikat
INDUSTRI energi hidrogen di Amerika Serikat saat ini mengalami revolusi yang ditandai dengan dimulainya era kompetisi pembangunan hub hidrogen antar negara bagian. Program hub hidrogen diluncurkan pada akhir September lalu oleh Departemen Energi (DoE) Amerika Serikat dengan total pembiayaan sebesar 8 milyar dollar (~116 trilliun rupiah). Sebagaimana diketahui, hidrogen adalah senyawa paling melimpah di jagad raya termasuk di bumi dan dapat dihasilkan dari berbagai sumber daya domestik dan digunakan untuk berbagai keperluan (Gambar 1). Oleh karena itu, hidrogen merupakan energi primadona masa depan karena bebas emisi dan memiliki kinerja lebih baik dari berbagai jenis bahan bakar lainnya termasuk baterai (Gambar 2). Oleh karenanya, pengembangan industri energi hidrogen merupakan hal paling strategis untuk secara bertahap dapat menggantikan penggunaan energi fosil dalam mengurangi emisi karbon global.


Apa itu Hub Hidrogen?
Hub hidrogen adalah pembangunan ekosistem energi hidrogen berbasis front to end users dengan dukungan fasilitas produksi, keberadaan konsumen dan infrastruktur penunjang pada suatu wilayah tertentu (Gambar 3). Untuk membangun ekosistem hidrogen ini, penggunaan berbagai energi bersih, termasuk energi surya, energi angin, energi nuklir, dan berbagai sumber energi fosil yang dilengkapi dengan carbon capture dan storage (CCS), menjadi persyaratan utama. Setiap fasilitas produksi diharapkan berkapasitas sekurangnya 50 hingga 100 ton/hari, yang dapat dicapai baik melalui berbagai teknologi yang telah teruji pada tahap komersial, seperti steam methane reforming (SMR) dan gasifikasi dengan CCS dan elektrolisis, maupun teknologi baru lainnya yang potensi untuk dikembangkan dengan target biaya produksi sebesar $1.0 per kg hidrogen. Pada sektor transportasi, pembangunan jaringan pipa hidrogen, termasuk upgrading pipa yang ada juga termasuk dalam fokus pengembangan. Selain itu, pembangunan stasiun pengisian hidrogen, stasiun kompresi hidrogen, dan sistem penyimpanan hidrogen serta CCS akan diperbanyak. Sementara pada sisi konsumen, dapat mencakup sektor pembangkitan listrik, industri baja, industri bahan bakar sintetik, industri kimia, industri pengolahan bahan bakar, industri blending.

Inisiasi dan dasar hukum
Pada akhir Oktober 2021, Kongres AS menyepakati undang-undang baru yang dinamakan the bipartisan Infrastructure Investment and Jobs Act, yang kemudian ditandatangani oleh Presiden Jo Biden pada pertengahan November 2021. Undang-undang baru tersebut berisikan perlunya dibentuk koalisi pada wilayah untuk percepatan pembangunan hub hidrogen bersih yang akan menghubungkan produsen, konsumen, dan infrastruktur penunjang termasuk sistem penyimpanan dalam suatu wilayah. Sebagai implementasi dan pelaksana UU baru ini, DoE membentuk institusi program baru yang dinamakan Office of Clean Energy Demonstrations (OCED), sebagai institusi program ke-16.
Mengenal koalisi hub hidrogen bersih Amerika Serikat
Pembangunan ekosistem hidrogen disesuaikan dengan potensi yang ada di wilayah masing-masing, mulai dari potensi sumber daya alam, sumber daya manusia hingga ketersediaan fasilitas penunjang dan konsumen atau permintaan (demand). Berikut adalah koalisi hub hidrogen yang telah terbentuk khusus untuk merespon program DoE ini:






Lompatan terbesar perkembangan ekonomi hidrogen AS
Koalisi tersebut di atas menggambarkan lompatan terbesar perkembangan ekonomi hidrogen di AS, sekaligus sebagai ilustrasi sedemikian besar minat setiap negara bagian untuk dapat berpartisipasi. Adanya durasi proyek yang cukup (~8-12 tahun), serta peluang pendanaan yang terbesar dalam sejarah bidang energi hidrogen (400 juta hingga 1.25 milyar dollar untuk setiap hub hidrogen), maka kesempatan penciptaan lapangan kerja baru di sektor industri energi akan semakin besar. Selain itu, keterlibatan beragam pihak mulai dari industri, institusi pemerintah, dan perguruan tinggi di setiap wilayah, akan mewujudkan banyak terobosan teknologi dalam rangka mencapai target zero emission pada 2050 mendatang. Program hub hidrogen ini dapat menjadi model bagi pengembangan industri hidrogen di berbagai wilayah global lainnya.
Tentang penulis
Natarianto Indrawan, PhD. adalah salah satu tenaga ahli Departemen Energi AS pada bidang gasifikasi dan produksi hidrogen bersih sejak 2018. Sejak September lalu, Dr. Indrawan, terlibat pada pengembangan salah satu hub hidrogen dan diamanahkan untuk mengembangkan teknologi hidrogen bersih (berbasis natural gas, batubara dan sampah organik) pada wilayah tersebut, sebagai direktur teknologi sebuah perusahaan swasta. Dr. Indrawan adalah alumni penerima beasiswa LPDP 2014 dan sebagai advisor komunitas enterpreneur ILEC Energy LPDP.
SELENGKAPNYA BISA DISIMAK DI SINI:












