Konye’ Ghunung, Perspektif Budaya dalam Pemerintahan: Sedekah Budaya Kadarisman dalam Tatakelola Birokrasi dan Pembangunan

oleh

Budaya Kontemporer

Menjadi makin kaya isi dalam bagian ini karena Kadarisman juga menyinggung tentang dinamika kontemporer masyarakat Madura, perempuan Madura dan paradigma kalangan remaja Madura tentang budaya, pemerintahan dan pembangunan.

Ada banyak tokoh yang ikut memberikan kata pengantar dalam buku ini. Di antaranya Prof Dr Amir Santoso, Guru Besar Ilmu Politik FISIP UI yang juga Rektor Universitas Jayabaya  Jakarta. Lalu Budayawan D. Zawawi Imron, hingga Dr Siti Marwiyah SH MH, Rektor Unitomo Surabaya.

Buku ini juga dilengkapi dengan testimoni dari para teman sejawat Kadarisman  antara lain Prof Dr A Syukur Ghazali, dosen Pasca Sarjana Universitas Malang, Drs Ernono mantan Bupati Trenggalek dan sejumlah tokoh dan penulis lainnya.

D Zawawi Imron dalam kata pengantar buku ini menuliskan buku karya Kadarisman ini menarik bukan karena penulisnya  adalah seorang penulis, namun karena dia adalah seorang mantan pejabat  karier yang panjang, yang dinilai mengetahui secara lebih luas dinamika teori dan praktik pemerintahan dan pelayanan birokrasi. 

Lebih dari itu, kata Zawawi , Kadarisman diakuinya sebagai figur yang sangat mencintai budaya Madura. Maka buku  yang ditulisnya menjadi temuan baru bagaimana hubungan  antara budaya dengan birokrasi dan pemerintahan menjadi satu kesatuan yang menghasilkan pembangunan nyata bagi masyarakat Madura.

Sementara itu Siti Marwiyah Rektor Unitomo Surabaya menilai Kadarisman telah melampaui tugasnya sebagai seorang birokrat sejati, sampai mencapai puncak karier  sebagai Wakil Bupati Pamekasan dua periode. Kadarisman  dinilai mampu berpartner dan bersinergi dengan baik untuk menjalankan roda pemerintahan sampai purna jabatan. 

Menurut Marwiyah, kondisi itu terjadi, karena terkait dengan kemampuan Kadarisman mengelaborasi budaya Madura dengan tugas pemerintahan dimana dia bertugas. Karena itu buku yang ditulisnya layak untuk dicermati isinya dan menjadi pijakan para pihak yang berkepentingan.

“Menjadi Wakil Bupati dua periode dan jabatan lain itu hasil proses Pilkada demokratis dengan pasangan yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa dia mampu menjadi partner dan bersinergi dengan baik untuk menjalankan roda pemerintahannya sehingga sampai purna tugas, dalam kondisi aman tidak ada gesekan dengan bupati yang didampinginya,” kata Marwiyah. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.