Cuaca ekstrem melanda Amerika Serikat (AS)–dan sejumlah negara di Eropa. Setelah beberapa bulan lalu dikepung badai salju yang sangat dingin, kini sebaliknya. Negeri Paman Sam kembali dilanda cuaca ekstrem badai panas yang mematikan. Kombinasi gelombang panas berkepanjangan dan badai hebat yang menerjang sejumlah wilayah telah menewaskan sedikitnya 25 orang dalam sepekan terakhir.
Oleh Gatot Susanto
SARIF SYAIFULLOH, diaspora asal Indonesia di Kota Philadelphia, Negara Bagian Pensylvania, Amerika Serikat (AS), merasakan betul dampak suhu panas yang terjadi sejak beberapa minggu lalu. Bahkan, saking panasnya suhu udara, acara Parade Ulang Tahun Amerika Serikat ke-250 di Philadelphia terpaksa dibatalkan demi keselamatan warga.
“Ya, acara parade yang biasanya selalu meriah itu terpaksa di-cancel atau dibatalkan. Parade itu sendiri paling ditunggu-tunggu oleh para pengunjung di Philadelphia dan sangat meriah. Pengunjung datang dari berbagai daerah, mereka sengaja datang untuk menyaksikan parade, yang mestinya tahun ini adalah parade yang sangat istimewa,” kata Syarif Syaifulloh, akrab disapa Pak Tani Philadelphia karena hobi menanam tanaman organik di halaman rumahnya, kepada DutaIndonesia.com, Rabu (8/7/2026).
Para peserta yang ikut parade banyak dari berbagai state/provinsi. Mereka terlibat memeriahkan acara tahunan itu.
“Saat saya datang sekitar jam 10.30 pagi, suhu sudah mencapai 107 Fahrenheit. Udara sangat panas, dan saat jalan pun keringat bercucuran di muka saya. Ibarat masakan, saya seperti di-oven, hehehee,” ujarnya.
Syarif tidak sekadar datang untuk ikut memeriahkan acara parade, tapi juga liputan untuk medianya. Saat itu darurat kesehatan suhu panas di Philadelphia diperpanjang hingga Minggu pukul 20.00 malam. Karena itu Parade HUT ke-250 AS atau Salute to Independence pun dibatalkan. Begitu pula acara-acara lainnya.
“Suhu panas memaksa panitia membatalkan acara parade, meski banyak peserta sudah siap. Parade Salute to Independence dibatalkan hanya beberapa jam sebelum waktu mulai yang direncanakan pukul 11.00 pagi karena panas yang berlebihan,” katanya. Michael DelBene, CEO Welcome America, Inc., mengatakan, pihaknya sangat sedih harus membatalkan parade itu.
“Sungguh menyedihkan. Tim telah merencanakannya selama lebih dari dua tahun,” katanya.
DelBene mengatakan hampir 10.000 orang datang ke Philadelphia untuk ikut long march di parade tahun ini. Penyelenggara menghabiskan malam untuk mencari cara agar parade bisa tetap berlangsung dengan aman di tengah suhu panas yang “membakar”. “Parade, dengan hampir 10.000 peserta, akan membutuhkan sesuatu seperti Convention Center. Tapi kamu tahu, untuk menggunakan Convention Center kamu harus mengatur itu beberapa bulan sebelumnya,” katanya.
Bukan hanya di Philadelphia. Gelombang suhu panas juga melanda wilayah lain di Amerika. Korban jiwa tercatat di Negara Bagian New Jersey sebanyak 22 orang tewas yang diduga berkaitan langsung dengan suhu ekstrem. Satu korban dilaporkan di Illinois dan dua lainnya di Mississippi.
Badan Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat (NWS) juga mengeluarkan peringatan potensi badai petir yang dapat memicu banjir bandang, angin kencang, serta hujan es di kawasan Pantai Timur, termasuk wilayah metropolitan New York.
Mengutip laporan Al-Jazeera, gelombang panas yang menyelimuti wilayah timur, tenggara, hingga barat daya AS sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Lebih dari 40 juta warga masih berada dalam status peringatan panas ekstrem, dengan indeks panas di sejumlah kota besar seperti Philadelphia, Washington DC, Baltimore, Raleigh, Charleston, dan Jacksonville diperkirakan mencapai antara 37 hingga lebih dari 40 derajat Celsius.
Gelombang panas ekstrem juga melanda Eropa. Setidaknya menewaskan 3.700 orang di Prancis, Belgia, dan Belanda. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena data yang dirilis pemerintah setempat masih bersifat sementara.
Data lain di Prancis mencatat lonjakan korban jiwa saat gelombang panas besar melanda negara itu pada akhir Juni 2026. Data awal Institut Statistik dan Studi Ekonomi Nasional (INSEE) yang dikutip BFM TV menunjukkan ada 2.025 kematian tambahan, sementara hampir 9.000 kematian tercatat secara digital dalam periode 22 hingga 28 Juni 2026. (*)














