Laporan dari Jepang: Doutoku Kyouiku Bikin Siswi Negeri Sakura Kompak Lindungi Temannya Asal Indonesia yang Pingsan

oleh
Dr Miftakhul Huda bersama istri dan dua anaknya berbusana kimono.

Sungguh menyentuh pemandangan bernapas toleransi yang ditunjukkan para siswi sebuah sekolah di Jepang. Betapa tidak, seorang siswi berhijab asal Indonesia bernama Ria pingsan saat momen olahraga di sekolah,kemudian serempak siswi lain membuat pagar badan untuk menolongnya agar tak terlihat auratnya.

Oleh Gatot Susanto

DALAM video yang viral di media sosial, terlihat Ria dan teman-temannya berlomba lompat tali. Namun tiba-tiba gadis SMP berhijab hitam itu jatuh pingsan. Tanpa dikomando tim lompat tali yang didominasi murid wanita itu kompak bergegas mengitari tubuh Ria. Guru Ria saat itu harus melonggarkan hijab yang dikenakan gadis asal Indonesia itu. Takut aurat Ria terlihat murid pria di sana, teman-teman Ria pun kompak membuat barikade menusia mengelilinginya saat pingsan. Aksi mereka kini panen pujian dari masyarakat.

Video viral siswi asal Indonesia berhijab pingsan yang dilindungi barikade manusia di Jepang ini menjadi bukti indahnya toleransi di Negeri Sakura. Namun pemandangan itu bukan terbangun begitu saja. Sama dengan di Indonesia, sekolah di Jepang juga mengalami masa-masa pahit ketika di antara siswa terjadi intoleransi. Bahkan sering terjadi kasus bullying yang menimpa siswa.

Puncaknya adalah insiden bunuh diri gegara bullying siswa SMP tahun 2011 di Kota Otsu, Prefektur Shiga, yang kemudian menjadi salah satu alasan menjadikan moralitas sebagai mata pelajaran di sekolah.

Kasus bullying yang semakin serius dan kompleks itu mendorong kalangan pendidikan di Jepang meningkatkan pendidikan moral di sekolah. Mulai tahun 2018 “Mata Pelajaran Khusus Moralitas” pun dimulai di sekolah dasar.

“Di Jepang, pendidikan karakter merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pengembangan siswa. Melalui berbagai pendekatan, seperti doutoku kyouiku (pendidikan moral),” kata Pembina Pengurus Cabang Internasional Muslimat Nahdlatul Ulama (PCI MNU) Jepang, Hj. Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum (Gita) kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Kamis (20/7/2023) siang.

Gita, mantan Ketua PCI Muslimat NU Jepang, kemudian mencontohkan anaknya sendiri yang menjadi satu-satunya siswi muslim di SD-nya dan memakai jilbab di sekolah Jepang. Soal menu makan siang, misalnya. Sang putri membawa bento buatan sendiri dari rumah, sehingga berbeda dengan menu makan siang milik teman-temannya di sekolah. Hal itu tidak masalah sebab para siswa lain sudah diajarkan untuk memahami perbedaan, saling menghargai, tidak menyinggung, dan malah mendukung perbedaan tersebut. Semua itu ada pada pelajaran Doutoku Kyouiku atau pendidikan moral yang diintegrasikan dalam sistem pendidikan Jepang.

“Tujuannya adalah untuk membentuk karakter siswa dengan mengajarkan nilai-nilai moral dan etika yang kuat. Prinsip-prinsip seperti kesopanan, rasa tanggung jawab, kerjasama, dan harga diri dipromosikan melalui kurikulum sekolah dan kegiatan di luar kelas. Dengan pendekatan holistik, Jepang berusaha menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya fokus pada kecerdasan akademik, tetapi juga pada perkembangan karakter yang seimbang,” katanya.

Gita yang dikenal sebagai pemerhati masalah pendidikan ini lalu mengulang contoh sangat menarik mengenai kekuatan pendidikan karakter di Jepang yang dialami seorang siswi asal Indonesia berhijab tadi. Siswa ini, kata dia, mengalami pingsan saat sedang berada di sekolah. Dan dalam kondisi yang lemah, dia berniat melepas hijabnya.
Nah, saat itu sesama siswi di sekolah tersebut memberikan dukungan luar biasa. Mereka membentuk pagar badan di sekitarnya untuk melindunginya dari pandangan orang lain dan memberikan privasi yang dibutuhkannya.

“Tindakan solidaritas dari teman-temannya ini mencerminkan pendidikan karakter yang kuat di Jepang. Dalam situasi tersebut, nilai-nilai seperti empati, menghormati perbedaan, dan saling peduli menjadi dasar dari tindakan mereka. Melalui pendidikan moral yang ditanamkan di sekolah, siswa-siswi ini mampu menunjukkan kedewasaan dan sikap bijaksana yang melampaui batas-batas kepentingan pribadi,” katanya.

Pendidikan karakter yang kuat di Jepang memiliki dampak positif yang luas. Melalui doutoku kyouiku, siswa-siswi diajarkan untuk menjadi individu yang bertanggung jawab, memiliki sikap menghargai, dan dapat bekerja sama dengan baik. Hal ini tidak hanya memengaruhi lingkungan sekolah, tetapi juga berlanjut hingga ke kehidupan sosial dan profesional mereka di masa depan.

“Dengan pendidikan karakter yang kuat, Jepang telah berhasil membangun masyarakat yang diisi oleh individu-individu yang memiliki integritas, etika kerja yang tinggi, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Keberhasilan Jepang sebagai salah satu negara dengan indeks pembangunan manusia (HDI) tertinggi di dunia sebagian besar dapat diperoleh melalui pendidikan karakter yang diberikan kepada generasi muda,” ujarnya.

Dari Jepang, ada beberapa hal yang dapat dipelajari dan diterapkan di Indonesia dalam konteks pendidikan. Berikut adalah beberapa contohnya:

Disiplin dan Kedisiplinan

Jepang dikenal karena budaya disiplin yang kuat. Disiplin yang tinggi diterapkan di sekolah, mulai dari waktu tiba dan berangkat sekolah yang tepat, kerapihan seragam, hingga keteraturan dalam proses belajar-mengajar. Nilai ini dapat diterapkan di Indonesia untuk meningkatkan efisiensi dan kedisiplinan di sekolah.

Kualitas Guru

Jepang memberikan perhatian besar terhadap pengembangan kualitas guru. Guru-guru di Jepang mendapatkan pelatihan yang intensif dan berkelanjutan serta dihargai sebagai profesional. Indonesia dapat meningkatkan pelatihan dan pengembangan guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Pembelajaran Berbasis Proyek

Jepang menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis proyek di mana siswa diberikan tugas atau proyek untuk menyelesaikan masalah dunia nyata. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan praktis, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Penerapan pendekatan serupa di Indonesia dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.

Penghargaan terhadap Kerja Keras

Budaya Jepang mengajarkan nilai-nilai kerja keras, ketekunan, dan dedikasi. Penerapan penghargaan terhadap kerja keras di lingkungan pendidikan Indonesia dapat memotivasi siswa untuk berusaha lebih keras dan mengembangkan kualitas kerja yang baik.

Kemitraan Sekolah dan Industri

Jepang memiliki kemitraan erat antara sekolah dan industri. Hal ini memungkinkan siswa untuk terhubung dengan dunia kerja sejak dini melalui program magang, kunjungan industri, atau kolaborasi dalam pengembangan kurikulum. Indonesia dapat mengadopsi pendekatan ini untuk menghubungkan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

Tentang “merdeka belajar,” Anggita menilai, hal itu adalah konsep yang diperkenalkan dalam Kurikulum 2013 di Indonesia. Merdeka belajar bertujuan untuk memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengatur proses pembelajaran mereka sendiri, dengan memperhatikan minat dan kebutuhan masing-masing. Dalam penerapannya, ini dapat melibatkan pendekatan berbasis proyek, penekanan pada keterampilan hidup, dan penggunaan teknologi untuk memfasilitasi pembelajaran.

“Meskipun tantangan dalam menerapkannya, merdeka belajar dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, inisiatif, dan tanggung jawab dalam pembelajaran mereka. Dalam mengimplementasikan perubahan dalam sistem pendidikan, penting untuk mempertimbangkan konteks budaya, infrastruktur, dan tantangan yang unik di Indonesia. Pengambilan yang bijaksana dari pengalaman Jepang dan adaptasi yang tepat terhadap kebutuhan dan kekhasan Indonesia dapat membantu dalam memperbaiki sistem pendidikan di negara ini,” katanya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.