Fenomena menarik terjadi di Indonesia dan Jepang. Saat Pemerintah Negeri Sakura kelimpungan gegara kekurangan penduduk disebabkan warganya emoh memiliki anak, di Indonesia justru mulai marak childfree–sejumlah orang–khususnya kalangan artis– mengaku tidak mau memiliki anak. Lalu apakah Indonesia juga akan mengalami masalah seperti di Jepang? Berikut laporan Anggita Aninditya P. P. (Ketua I PCI Muslimat NU Jepang) tentang fenomena childfree di dua negara ini.
Laporan Anggita Aninditya P. P. (Ketua I PCI Muslimat NU Jepang)
ENTAH kebetulan, atau memang semacam warning (sunnatullah) dari Allah SWT. Saat Pemerintah Jepang sambat kekurangan penduduk gegara warganya malas memiliki anak, di Indonesia justru ramai soal childfree. Belajar dari Jepang, saat ini Negeri Sakura mengalami penurunan jumlah penduduk cukup signifikan karena banyak yang tidak ingin menikah dan memiliki anak. Data yang dikeluarkan Pemerintah Jepang, jumlah total kelahiran bayi di negeri itu pada 2022 diperkirakan di bawah rekor terendah tahun lalu yang hanya 811.000 bayi.
Menurut survei tahun 2017 oleh National Institute of Population and Social Security Research, sebanyak 27,6% pria lajang dan 22,6% wanita lajang tak tertarik menjalin hubungan dengan lawan jenis. Para peneliti kemudian menelisik gejala resesi seks yang menjalari Jepang.
“Sebanyak 41,6% lelaki di usia 20-an tahun tidak pernah berkencan dengan siapa pun,” kata Auumu Ochiai, seorang peneliti yang berbasis di Tokyo.
Bukan berarti mereka semua ingin tetap melajang. Ochiai mengatakan, penelitiannya menunjukkan bahwa hampir 90% orang lajang pada akhirnya ingin menikah. Akan tetapi mungkin ada halangan dari kondisi finansial atau permasalahan lain. Yang menarik, pasangan suami istri pun tidak sempat merencanakan punya anak sebab saat pulang ke rumah mereka kelelahan karena terlalu banyak bekerja.
Hal itu membuat Pemerintah Jepang gundah. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Hirokazu Matsuno, bahkan berjanji bahwa pemerintah akan menempuh langkah komprehensif untuk mendorong masyarakat menikah dan mempunyai anak.
Fenomena malas menikah dan emoh punya anak itu terjadi karena adanya perubahan nilai budaya di Jepang, terutama di kalangan anak muda. Pada masa sebelumnya, keluarga besar menjadi nilai yang penting dalam masyarakat Jepang.
Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi dan gaya hidup modern, muncul budaya childfree atau tidak ingin memiliki anak, yang semakin populer di kalangan muda Jepang.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya budaya childfree di Jepang. Pertama, biaya hidup di Jepang sangat tinggi. Maka, menikah serta memiliki anak dapat menjadi beban finansial yang berat bagi pasangan muda.
Kedua, banyak pekerjaan di Jepang yang menuntut karyawan bekerja lebih dari 8 jam sehari, sehingga pasangan muda sulit untuk mengurus anak mereka sendiri.
Ketiga, adanya perubahan nilai budaya yang mengutamakan individualisme, sehingga pasangan muda lebih memilih mengejar karier dan hobi pribadi daripada memiliki anak.
Dampak dari budaya childfree ini jika ditiru oleh penduduk Indonesia, terutama yang beragama Islam, dapat menjadi masalah yang serius. Di Indonesia, keluarga besar dan memiliki anak-anak adalah nilai yang sangat dihargai. Masyarakat Indonesia, terutama yang beragama Islam, menganggap memiliki anak sebagai kewajiban moral dan agama, serta sebagai penjaga keberlangsungan keturunan.
Jika budaya childfree ini menyebar di Indonesia, hal ini dapat mengganggu tatanan sosial dan agama. Oleh karena itu, cara untuk menanggulangi budaya childfree adalah dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya memiliki anak dan memperbaiki tata kelola kebijakan negara terkait dengan pernikahan dan keluarga.
Untuk itu negara harus memperhatikan kebutuhan keluarga, memberikan dukungan finansial dan non-finansial, seperti fasilitas pendidikan dan perawatan anak, cuti untuk perawatan anak, dan perumahan yang terjangkau untuk keluarga muda.
Selain itu, masyarakat juga harus lebih terbuka terhadap perubahan nilai budaya yang mengutamakan individu dan mempromosikan nilai-nilai keluarga dan kewajiban sosial.
Dalam hal ini, agama juga dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memiliki anak dan membangun keluarga yang bahagia. Pendidikan agama harus memperkuat nilai-nilai keluarga dan memberikan pemahaman yang benar tentang kewajiban agama dalam hal pernikahan dan keturunan.
Kebijakan Pemerintah
Saat ini budaya childfree di Jepang sudah menjadi masalah sangat serius. Jepang pun melakukan kebijakan mendorong masyarakat agar memiliki kesadaran akan pentingnya memiliki anak sekaligus memperbaiki tata kelola kebijakan negara terkait dengan pernikahan dan keluarga.
Pemerintah Jepang telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan pertumbuhan penduduknya. Misalnya memberikan insentif keuangan dan non-keuangan kepada pasangan yang menikah dan memiliki anak. Pemerintah Jepang telah memberikan berbagai jenis insentif kepada pasangan yang menikah dan memiliki anak, seperti pembebasan pajak, beasiswa pendidikan, bantuan perumahan, dan program perawatan anak.
Selain itu mendorong perusahaan untuk memberikan dukungan pada karyawan yang ingin memiliki anak. Pemerintah Jepang telah pula memberikan insentif kepada perusahaan yang memberikan dukungan pada karyawan yang ingin memiliki anak, seperti memberikan cuti untuk perawatan anak dan memberikan fasilitas perawatan anak di tempat kerja.
Bahkan memperbaiki kebijakan imigrasi untuk menarik pendatang baru. Misalnya memberikan visa kerja yang lebih mudah dan meningkatkan kesempatan untuk menjadi warga negara Jepang.
Pemerintah Jepang juga telah mempromosikan program-program yang mendorong perubahan budaya dan pola pikir masyarakat tentang pentingnya memiliki anak dan keluarga besar. Lalu meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi dan pendidikan seks. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kesehatan reproduksi dan merencanakan keluarga.
Memberikan dukungan pada pasangan muda yang ingin menikah dan memiliki anak. Salah satunya memberikan bantuan finansial dan program pelatihan untuk membantu pasangan muda mempersiapkan pernikahan dan keluarga.
Upaya-upaya ini terus dilakukan secara konsisten dan terpadu oleh pemerintah Jepang agar dapat meningkatkan pertumbuhan penduduknya. Selain itu, peran masyarakat juga sangat penting dalam mempromosikan pentingnya memiliki anak dan keluarga besar sebagai bagian dari budaya dan nilai-nilai Jepang yang dihargai.
Menghargai Pilihan
Saat ini fenomena childfree sudah merambah Indonesia. Terdapat beberapa alasan mengapa generasi muda Indonesia memilih untuk tidak memiliki anak. Pertama, terkait karier dan pendidikan. Banyak generasi muda Indonesia lebih fokus pada karier dan pendidikan, dan menganggap bahwa memiliki anak akan menghambat kesempatan mereka untuk berkembang secara profesional dan akademik.
Kedua, masalah finansial. Biaya hidup yang semakin tinggi dan tingginya biaya pendidikan membuat banyak orang enggan untuk memiliki anak karena merasa tidak mampu untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anak mereka. Apalagi bagi mereka yang masuk kategori sandwich generation, menanggung kebutuhan hidup orang tua, mertua, pasangan, saudara, sehingga akan kewalahan jika harus ada biaya untuk anak.
Ketiga, keterbatasan waktu. Gaya hidup yang semakin sibuk dan padat membuat banyak orang merasa sulit untuk merawat anak. Keempat, soal kebebasan dan fleksibilitas: Banyak orang merasa bahwa tidak memiliki anak memberi mereka kebebasan dan fleksibilitas yang lebih besar dalam menjalani hidup mereka.
Namun, bagi mereka yang memilih untuk tidak memiliki anak, penting untuk dihormati dan diakui bahwa keputusan tersebut adalah hak mereka sebagai individu. Hanya saja bagi mereka yang ingin memiliki anak, tetapi menghadapi tantangan finansial atau waktu, mungkin perlu mempertimbangkan solusi alternatif seperti mengadopsi atau memiliki anak pada usia yang lebih matang.
Sebagai masyarakat, kita perlu lebih memahami dan menerima pilihan individu dalam hal memiliki anak. Kita juga dapat membantu dengan mendukung program-program yang membantu orang yang ingin memiliki anak tetapi menghadapi tantangan finansial atau medis, serta mengadakan kampanye yang lebih positif dan inklusif mengenai pengasuhan anak. Dengan cara ini, kita dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi semua individu, tanpa memandang pilihan mereka untuk memiliki atau tidak memiliki anak. (*)













