Laporan dari Malaysia: Sulit Melanjutkan Sekolah, Anak PMI di Malaysia Dikirim ke Malang

oleh
Mimin Mintarsih dan Anak PMI Malaysia
Mimin Mintarsih bersama anak-anak PMI Malaysia yang sekarang sekolah di Malang.
YouTube player
Video wawancara khusus dengan Dra. Hj. Mimin Mintarsih.

KUALA LUMPUR| DutaIndonesia.com – Anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri banyak mengalami kesulitan saat hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Pasalnya, status kewarganegaraan mereka di negeri orang tidak jelas lantaran perkawinan orang tuanya dilakukan secara siri.

Ratusan bahkan ribuan anak-anak PMI ini perlu diselamatkan masa depannya dengan memberikan pendidikan yang layak di Tanah Air. Selain dialami anak-anak PMI di Taiwan dan Hongkong, putra-putri PMI di negeri jiran Malaysia juga menghadapi masalah yang sama.

Untuk itu pendiri sekolah non-formal Sanggar Bimbingan Sungai Mulia (SBSM) 5 Gombak Kuala Lumpur, yang juga Ketua Pengurus Cabang Istimewa Muslimat Nahdlatul Ulama (PCI MNU) Malaysia, Dra Hj Mimin Mintarsih, membuat terobosan mengirim sejumlah siswa SBSM 5 Gombak Kuala Lumpur untuk menempuh pendidikan lanjutan di sekolah  formal di Tanah Air.  Enam siswa SBSM 5 Gombak mulai Senin (28/8/2023) melanjutkan sekolah SMP di lingkungan Pondok Pesantren An-Nashr, Wajak, Kab. Malang.

“Semoga anak-anakku tetap semangat. Yang sabar, walaupun kalian jauh dengan orang tua tapi demi masa depan yang lebih baik, kejarlah cita-cita kalian sampai tercapai. Semoga Allah memudahkan semua urusan kalian. Aamiin,” kata Mimin Mintarsih saat mengantar anak-anak PMI tersebut mendaftar di Ponpes An-Nashr Malang.

Saat dihubungi DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (6/9/2023), Mimin Mintarsih dan rombongan sudah tiba kembali di Kuala Lumpur. Dia bersyukur proses pendaftaran anak didiknya di sekolah formal di Indonesia berjalan lancar. Selain  sekolah di Ponpes An-Nashr Malang, sejumlah siswa SBSM 5 Gombak Kuala Lumpur yang lain juga ada yang melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren di Sumatera Utara.

Mimin yang alumni Ponpes Seblak, Kabupaten Jombang, mengatakan, anak-anak PMI itu tidak menghadapi masalah ekonomi selama hidupnya di Malaysia sebab penghasilan orang tuanya cukup untuk membiayai pendidikannya. Bahkan sampai di perguruan tinggi.

Hanya saja, mereka menghadapi kendala statusnya bukan warga negara Malaysia dan juga bukan warga negara Indonesia.  Karena itu, setelah kelas 5 di sekolah non-formal SBSM 5 Gombak Kuala Lumpur, mereka kesulitan saat ada ujian negara. Apalagi untuk melanjutkan ke SMP. Karena itu, Mimin pun mencarikan mereka jalan keluar dengan bersekolah di Indonesia.

Dia bersyukur saat menghadiri peringatan Satu Abad NU di Sidoarjo sempat bertemu dengan seseorang yang kemudian menunjukkan Ponpes An-Nashr di Malang itu. Bahkan mengantarkan bertemu dengan pengurus lembaga pendidikan di ponpes tersebut.

Beruntung pula Atase Pendidikan KBRI Kuala Lumpur membantu anak-anak PMI ini agar memiliki kejelasan status sebagai warga negara Indonesia. Saat berangkat ke Indonesia, staf KBRI Kuala Lumpur juga mengantarnya ke Imigrasi di Bandara Kuala Lumpur sehingga perjalanan mereka pun lancar sampai di Bandara Juanda Surabaya.

“Terima kasih untuk KBRI Kuala Lumpur yang telah membantu kami, antara lain dengan menerbitkan   Surat Perjalanan Laksana Paspor Republik Indonesia untuk anak-anak tersebut. Juga para relawan yang telah membantu kami,” katanya.

Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) adalah dokumen pengganti paspor yang diberikan dalam keadaan tertentu yang berlaku selama jangka waktu tertentu. SPLP untuk warga Negara Indonesia berlaku untuk perjalanan keluar masuk wilayah Indonesia.

Selama ini Mimin dikenal getol memperjuangkan pendidikan anak PMI. Salah satunya dengan mendirikan  SBSM 5 Gombak Kuala Lumpur. Siswanya semula hanya 50 anak, tapi sekarang sudah mencapai ratusan siswa. Untuk tempat belajar, Mimin menyewa satu rumah dan berencana pula membuka pesantren di Malaysia.

“Tapi syaratnya sangat berat di Malaysia kalau untuk mendirikan lembaga pendidikan,” katanya.  Kegigihan Mimin memperjuangkan nasib anak-anak PMI itu akhirnya membuahkan hasil. Dia mendapat anugerah Hasan Wirajuda Award dari Kementerian Luar Negeri sebagai satu-satunya aktivis yang peduli terhadap masa depan anak-anak PMI.

Selama ini, kata dia, kendala pendidikan anak-anak PMI justru ada apa orang tuanya sendiri. Sebagian di antara orang tua mereka ada yang tidak ingin anaknya sekolah.

“Maklum mereka hanya memikirkan kerja mencari uang. Tapi saya terus berusaha mengedukasi mereka agar anak-anak bisa sekolah. Mereka ini full day, jadi sekolah sampai sore saat pulang baru dijemput orang tuanya,” katanya. (gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.