Ghufron Ahmad Yani, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Pertanian dan Peternakan Nahdlatul Ulama (LPPNU) Jawa Timur, saat ini tengah berada di Turki. Bersama sekitar 92 jamaah Umrah lain yang diberangkatkan PT Labbaika Cipta Imani, Yani yang menjadi tour leader hendak menunaikan ibadah Umrah di Tanah Suci tapi mampir dulu di negeri yang pernah terpuruk hingga mendapat Julukan The Sick Man of Europe itu.
[ngg src=”galleries” ids=”50″ display=”basic_slideshow”]SEBELUM Umrah, Ghufron Ahmad Yani bersama jamaah lain singgah di Turki mengunjungi sejumlah destinasi wisata yang sangat terkenal seperti Hagia Spohia dan Blue Mosque serta Istana Topkapi di Istanbul. Lalu ke Gunung Uludag di Bursa yang memiliki kereta gantung serta Masjid Agung. Tapi rencana ini dialihkan ke Gunung Erciyes. “Kami hendak Umrah, saat ini mampir ke Turki, main salju di Gunung Erciyes dan besok ke Masjid Abu Ayyub Ansor,” katanya kepada DutaIndonesia.com.
Selain itu juga mengunjungi Ephesus Ancient City, Hierapolis & Cotton Castle, Museum Mevlana, Sultanhani Caravanserai, Dervent Valley, Uchisar Castle & Pigeon Valley, Musoleum Of Ataturuk, dan Salt lake. Tapi seperti wisatawan Indonesia lain, mereka terpesona dengan Gunung Erciyes, yang berselimut salju dan juga berkeliling Selat Bosphorus yang super sibuk dan sangat terkenal itu guna melihat Masjid Abu Ayyub Ansor, Rabu (1/2/2023).
Saat berpesiar dengan kapal mengelilingi Selat Bosphorus pada Rabu (1/2/2023) para jamaah mengunjungi Masjid Abu Ayyub Ansor dan menyelami sekaligus mengagumi jejak sejarahnya. Selain itu juga melihat Grand Bazaar.
Masjid Sultan Ayyub sendiri merupakan masjid pertama yang berdiri di Istanbul. Sebuah kompleks masjid yang terletak di luar dinding-dinding kota, condong ke sudut Eropa dari Istanbul. Masjid Sultan Ayyub terletak di dekat Tanduk Emas, dan selalu ramai tiap Jumat dan bulan Ramadhan, terutama saat senja ketika makanan gratis disajikan untuk berbuka.
Masjid ini menjadi tempat yang bersejarah dan sakral. Di masjid inilah dahulu sultan-sultan yang hendak mendapat tampuk kekuasaan disahkan dengan pedang milik Usman. Upacara penobatan sultan baru berlangsung di sana. Para penguasa Ottoman dahulu begitu ingin dikuburkan di area masjid ini. Area Masjid Sultan Ayyub memang memiliki kompleks permakaman tempat orang-orang terpandang, seperti perdana menteri, anggota dewan, petinggi militer, serta cendekiawan Muslim.
Halaman masjid biasanya menjadi tempat diadakannya tradisi pernikahan Muslim Turki. Mengunjungi masjid ini dipercaya dapat membawa berkah bagi pernikahan. Selain itu, para orang tua pun biasanya membawa anak-anak mereka yang hendak disunat mengunjungi masjid ini.
Bagian dalam masjid yang menjadi makam salah seorang sahabat Rasulullah, Abu Ayyub al-Anshari, tersebut memiliki desain indah. Karpet-karpet tebal, lampu gantung, dan kubah arsitektur khas Turki menghiasi bangunan berusia ratusan tahun tersebut. Namun, selain shalat di masjid ini, pengunjung tentu tidak boleh melewatkan kesempatan berziarah ke makam Abu Ayyub yang berada di halaman dalam masjid.
Di sana, biasanya banyak pengunjung berkumpul untuk melihat makam sahabat Rasulullah tersebut dari kaca. Bangunan makam Abu Ayyub sendiri sangat kontras dengan masjid, di mana bangunan itu penuh dengan keramik beraneka warna.
Abu Ayyub Al-Anshari RA terkenal kisahnya karena rumahnya pernah digunakan oleh Nabi Muhammad SAW menginap. Abu Ayyub juga mengikuti Perang Badar, Perang Khandak, Perang Fathu Makkah dan lain sebagainya. Sepeninggal Rasulullah SAW, dia tetap tinggal di Madinah sampai masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (Khalifah ke-4 Khulafaur Rasyidun).
Pada masa Ali bin Abi Thalib, Abu Ayyub bergabung dengan pasukan Ali dalam perang Shiffin guna memerangi kaum Khawarij yang mengklaim paling Islami. Pun ketika kekuasaan Islam beralih ke keluarga Umayyah, Muawiyyah bin Abi Shufyan, dia tetap setia berperang untuk pasukan Islam.
Abu Ayyub al-Anshari ikut pengepungan Konstantinopel yang merupakan wilayah kerajaan Romawi di Turki pada masa Khalifah Muawiyyah. Saat itu sudah tua renta tetap memaksakan diri untuk ikut, bahkan beliau meninggal dunia pada pengepungan tahun 674-678 M.
Abu Ayyub wafat dan dimakamkan sejauh pasukan Islam merangsek masuk ke wilayah sebagai bukti kecintaannya berjuang untuk Islam. Semangat yang dimiliki oleh Abu Ayyub al-Anshari itu kemudian menjadi inspirasi Sultan Muhammad/ Mahmud II saat mengepung dan menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M.
“Sebelumnya, Senin (30/1/2023), rombongan kami ke Gunung Erciyes. Semula kami akan berwisata ke Uludag, tapi di Gunung Uludag saljunya ternyata tipis sehingga kami beralih ke Gunung Eciyes yang saljunya sangat tebal. Kami 7 hari di Turki. Kami 92 jamaah terbagi menjadi tiga rombongan bus yang nyaman. Kapasitas bus 40 seat. Yang bersama saya 40 orang, bus kedua 27 orang, dan bus ketiga 25 orang,” kata Ghufron Ahmad Yani.
Saat di Gunung Erciyes yang memutih, Yani bersama jamaah lain tampak asyik bermain salju. Tak ketinggalan, dia melakukan aksi foto dalam berbagai gaya dengan latar belakang salju yang cukup tebal. Dia juga mengenakan baju berlapis yang tebal karena suhu udara sangat dingin.
Selain memainkan salju, dia juga meloncat. Dan jepret. Ghufron Ahmad Yani terlihat seperti hendak terbang di atas salju seperti dalam foto yang dikirimkan ke Redaksi DutaIndonesia.com.
Gunung Erciyes yang berlokasi di kota Kayseri, Cappadocia, merupakan gunung tertinggi di Provinsi Anatolia Tengah, dengan ketinggian puncak 3.346 meter di atas permukaan laut. Gunung yang bersalju merupakan salah satu alasan wisatawan Indonesia mengunjungi Turki pada musim dingin pada bulan Desember hingga awal Maret seperti sekarang ini.
Selama ini wisatawan asal Indonesia lebih mengenal Gunung Uludag yang berada di Kota Bursa dengan ketinggian 2.453 meter di atas permukaan laut.
Erciyes dan Uludag kedua gunung ini juga dilengkapi fasilitas ski resort, mulai dari resort area terdapat cafe dan restoran, persewaan alat olahraga musim dingin, terdapat Teleferik atau Gondola untuk menikmati gunung dari ketinggian. Erciyes memiliki fasilitas yang lebih lengkap karena terdapat beberapa hotel di kawasan ski resort.
Berbeda dengan Uludag yang banyak ditumbuhi pohon pinus dan hutannya masih terasa sangat lebat, Erciyes tidak terdapat banyak pepohonan. Erciyes lebih mirip gunung-gunung di kawasan Eropa lain, seperti di Swiss, dengan hamparan salju yang luas dan tinggi menjulang. Hamparan salju terlihat sangat luas tanpa ditutupi pepohonan.
Ketimbang Uludag, Gunung Erciyes juga lebih cepat bersalju. Salju yang sekarang menimbun gunung itu sudah ada sejak pertengahan Desember 2022 lalu. Yang menarik, saat musim dingin usai, Gunung Erciyes masih bersalju. Mungkin karena posisi Erciyes jauh lebih tinggi ketimbang Uludag. Karena itu wisatawan lebih leluasa bermain salju di gunung ini. Selain itu wisatawan juga mengunjungi masjid besar di Erciyes untuk ibadah salat.
Menuju Erciyes juga lebih mudah dibanding menuju Uludag. Khususnya bila kondisi Gondola sedang tidak beroperasi. Dengan menggunakan bus saat menuju Uludag jalannya sangat berkelok kelok, sementara jalan di Erciyes terbilang jauh lebih nyaman. (Gatot Susanto)













