Pertama, fase kelahiran (Milad) hingga pengangkatan (bi’tsah).
Seringkali fase ini tidak menjadi perhatian Umat. Seolah fase ini tidak memiliki makna dalam sejarah Perjalanan Umat ini. Padahal fase ini adalah fase persiapan dan pemantapan baginda Rasul, khususnya dalam membangun karakter pribadi yang unggul.
Bukankah pada fase ini begitu banyak bukti-bukti agung bagaimana Allah mempersiapkan Beliau untuk menjadi “Lentera alam semesta”? Di fase inilah misalnya Beliau dikenal telah menjadi individu yang al-Amin (trustworthy). Di fase ini Beliau memperlihatkan keunggulan kepemimpinan yang menyatukan (kisah Hajar Aswad). Di fase ini Beliau memperlihatkan heroisme (kepahlawanan) yang tinggi (kisah perang fijar).
Fase ini mengajarkan kepada Umat, khususnya kepada para du’at dan Ulama bahwa untuk mencapai “maqam” (posisi) sebagai da’i dan Ulama bukan dengan cara instant. Memerlukan persiapan yang matang. Teristimewa dalam hal persiapan karakter dan integritas. Karena ilmu tanpa karakter dan integritas bagaikan pohon liar yang tiada buah.
Kedua, fase al-bi’tsah (pengangkatan) hingga Al-Isra wal mi’raj.
Pada fase ini sesungguhnya sudah memasuki pembangunan. Bukan lagi persiapan. Kalau sekiranya perjuangan itu bangunan pada fase ini fondasi bangunan itu mulai dipasang.
Fondasi Umat tentunya adalah akidah Tauhid. Dan inilah yang Rasulullah SAW lakukan di Makkah: “quuluu laa ilaaha illa Allah”. Mengajak manusia pada akidah Tauhid sebagai asas kehidupannya.
Puncak penguatan fase ini terjadi justru ketika rintangan perjuangan itu memuncak. Di tahun yang sangat sulit itu yang dikenal dengan “aamul huzni” (tahun kesedihan) justru Allah mengangkat RasulNya ke Sidratul Muntaha melalui proses perjalan suci dari masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha.
Esensi dari perjalanan ini sesungguhnya adalah penguatan akidah dan spiritualitas umat. Karenanya perjalanan ini menjadi ujian iman. Tapi sekaligus menjadi jalan bagi turunnya perintah sholat yang merupakan energi spiritulitas Mukmin. Fase ini adalah fase kebangkitan Umat secara spiritualitas (ruhiyah) dan pribadi (fardi).













