Meneladani Ibrahim AS dalam Pengabdian dan Kepemimpinan**

oleh
Imam Shamsi Ali

Ujian dan kematangan hidup

Ketauldanan kedua dari Ibrahim AS adalah bahwa hidup ini merupakan perjalanan dari satu titik ke titik yang sama. Bagaikan tawaf, berputar berkeliling dengan irama dan tujuan yang sama. Namun perlu diingat, Ka’bah harus selalu menjadi sentra perputaran itu. 

Allah harus menjadi pusat perputaran hidup manusia. Kaya atau miskin Allah menjadi pusat kehidupan. Kuat atau lemah Allah menjadi pusat kehidupan. Merasakan kemudahan atau kesulitan hidup Allah tetap menjadi pusat kehidupan.

Ibrahim AS sendiri menegaskan bahwa dirinya terus bergerak menuju kepada Allah: 

اني ذاهب الي ربي

“Sesungguhnya aku berjalan menuju Tuhanku”

Realita hidup yang demikian menuntut kematangan atau kedewasaan dalam menjalaninya. Tanpa kedewasaan manusia akan menjadi “cengeng” dan lemah. 

Untuk menumbuhkan kematangan dan kedewasaan hidup itulah manusia akan ditempa dengan berbagai ujian. 

Di sinilah Ibrahim AS tampil sebagai sosok tauladan yang sangat luar biasa. Ibrahim AS mengalami tempaan itu dari awal perjalanan hidupnya hingga mencapai puncak kematangannya. 

Ragam bentuk ujian yang Allah SWT berikan kepada Ibrahim AS itu bukan karena ketidak sukaan. Tapi karena kecintaanNya kepadanya. Ibrahim AS sendiri adalah sosok hambaNya yang “khalilullah” (kekasih Allah). 

Dari ujian keluarga, ke sahabat, hingga ujian publik dan kekuasaan. Ujian yang bersifat emosional, spiritual keimanan, hingga kepada yang bersifat fisikal dan material. 

Cobaan besar pertama yang Ibrahim harus lalui adalah ketika menyampaikan kebenaran kepada masyarakatnya.  Dengan caranya Ibrahim berjuang menegakkan “Kalimah Tauhid”, beliau ditangkap bahkan dieksekusi dengan hukuman mati.

Tapi kematangan mentalitas dalam keimanan yang  solid itu tidak menjadikannya gentar sedikitpun. Di saat tawaran bantuan para malaikat silih berganti,  semuanya ditampik dengan keyakinan penuh bahwa hanya Allah yang punya kuasa sejati. 

Dengan keyakinan inilah Allah memerintahkan api yang menggunung itu menjadi dingin bahkan  menyenangkan bagi Ibrahim: 

“يا نار كوني بردا و سلاما علي ابراهيم 

(Wahai api, dinginlah dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim). 

Kuasa Allah berlaku. Api yang panas menjadi dingin bahkan menyenangkan Ibrahim dengan kuasaNya. Sebuah peristiwa yang melampaui daya nalar manusia yang kerap dibatasi oleh segala keterbatasaannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.