Disambut Ramah
Saya pun terbang ke India. Saat tiba di Indira Gandhi International Airport, New Delhi, saya dijemput langsung keluarga Malhotra. Ada Deepak, kakak, dan ibunya di sana. Dengan senyum mengembang. Kami bertemu untuk pertama kalinya dengan perasaan yang sangat haru.
Lalu kami pun meluncur ke Amritsar. Saat bertemu langsung untuk pertama kalinya dengan Deepak, saya lega. Dia pria yang sama dengan sosok yang selama ini saya lihat di webcam. Raut wajahnya yang bagi saya mirip bintang film Bollywood. Cara bicaranya. Semua sama dengan Deepak di dunia daring. Saya semakin lega sebab keluarganya menyambut kedatangan saya dengan ramah.
Semua anggota keluarga baik. Bahkan tetangga juga membicarakan kehadiran seorang perempuan Indonesia yang akan menjadi menantu keluarga Malhotra. Saya dengan mereka pun bertegur sapa dengan senyuman yang ramah. Namun demikian, kadang, ada pula rasa takut sebab saya sudah pergi sangat jauh. Bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Tradisi budaya karakter orangnya juga berbeda. Belum lagi soal makanan yang juga pasti berbeda. Apa saya bisa bertahan? Ada rasa deg-degan. Ada rasa tidak percaya. Bagaimana mungkin, saya sampai negeri ini. Sendiri!?
Namun, saya tidak tahu bila keluarga Malhotra bergerak cepat untuk sebuah acara pernikahan. Selang enam hari kemudian, kami pun menikah. Ya, 4 Oktober 2009. Itu hari di mana saya menemukan takdir menjadi menantu India. Menjadi bagian keluarga Malhotra.
Namun kami menikah secara tradisional adat masyarakat India. Setelah itu mendaftarkan pernikahan kami di High Court. Karena kami beda agama, saya muslimah suami Hindu. Jadi, kami special marriage. Aturan dan syaratnya paaanjang banget, sehingga karena sudah saling suka, kami harus menikah secara tradisional dulu, baru disahkan di High Court. Setelah keluar suratnya, kami daftarkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi.
Lautan Perbedaan

Begitulah jodoh. Saya harus melalui semua ini. Harus mengarungi lautan perbedaan. Mulai cuaca, adat istiadat, bahasa, agama, hingga makanan. Awalnya, sangat susah. Tapi, bagaimana lagi. Saya harus bisa mengatasinya. Dan suami, juga keluarga mertua, mengerti kondisi saya. Itu yang membuat saya bisa bertahan.
Saat saya datang pada akhir September, India mulai memasuki musim dingin. Bisa dibayangkan, saya yang biasa hidup di iklim tropis, apalagi di Riau yang sangat panas, sekarang harus hidup di negeri yang segera turun salju. Oktober sudah dingin. Dan Desember pun membeku. Suhunya sampai di bawah 0 derajat celcius.
Saya harus bisa mengatasinya. Saya memakai baju berlapis-lapis. Empat lapis bahkan lebih. Tapi tetap saja. Sempat demam. Saya pun sakit. Namun, karena sudah memutuskan, saya segera beradaptasi. Karena itu, sekarang sudah terbiasa hidup di negeri yang memiliki musim dingin ini. Lagi-lagi saya bertanya dalam hati, bagaimana mungkin Ana yang saat kecil ingin sekali bermain salju, seperti terlihat di film-film, sekarang hidup di negeri bersalju.
Bukan hanya soal bertahan di suhu super dingin, yang juga susah untuk mengatasinya itu ketika harus makan. Mengapa? Nanti saya ceritakan lagi soal bagaimana makanan India itu tidak cocok dengan lidah dan perut orang Indonesia. (Bersambung)











