MOJOKERTO| DutaIndonesia.com – “Bentengi dirimu dan keluargamu dari penyakit (sakit yang diderita) dan bala’ bencana” . Tegas Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA, Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, di depan ratusan santri Madrasah Aliyah Amanatul Ummah, di halaman sekolah, Kamis (2/3/2023).
Hal tersebut dijelaskan Kiai Asep ketika menterjemahkan kitab kuning berjudul “Mukhtaro A’ Hadist”. Sementara para santri menyimak dan menandai penjelasan kitab kuning yang dipegang masing-masing.
Dilanjutkan oleh Kiai Asep, benteng utamanya bagi ummat muslim adalah melakukan sedekah dan do’a. “Waspada selalu dengan membentengi dan mengobati dengan sedekah dan sakit yang sedang atau akan diderita,” katanya.
“Yang dimaksud di sini bukan sedekah zakat, tapi sedekah selain zakat. Meski zakat merupakan bagian dari sedekah,” kata Kiai Asep.
“Sedekah itu bisa dengan senyum, dengan ringan tangan menolong, bisa dengan memberikan makanan atau minuman, bisa dengan barang. Jadi tak ada alasan seorang muslim tak bisa bersedekah,” katanya.
“Sedang do’a tolak balak itu banyak. Do’a yang diajarkan langsung oleh Allah SWT, do’a yang diajarkan oleh para Nabi dan Rosul, do’a yang diajarkan oleh para alim ulama, bahkan do’a yang diucapkan sesuai selera hati dengan bahasa masing-masing,” jelas Kiai Asep.
Ada hadis yang memperkuat hal tersebut. Yakni Hadis riwayat Baihaqi dan Thabrani, Rasulullah bersabda;
”Bersegeralah untuk bersedekah sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitan yang kamu lalui dengan sedekah. Bersedekah itu merupakan sesuatu yang ajaib. Sedekah juga menolak hingga 70 macam bala bencana dan yang paling ringan adalah menolak penyakit sopak dan kusta.”
Ada juga satu hadis yang menguatkan pernyataan bahwa sedekah dapat menolak bala. Hadis tersebut adalah hadis riwayat Ibnul Qayyim yang berbunyi sebagai berikut:
“Dengan bersedekah kita dapat memiliki pengaruh yang ajaib untuk mencegah bala walaupun sedekah tersebut dari seorang yang ahli maksiat, zalim atau bahkan kafir sekalipun. Karena Allah mencegah bala dengan berbagai sedekah. Hal ini diketahui oleh orang baik yang awam maupun tidak. Penduduk bumi sendiri juga mengakuinya karena mereka sendiri telah membuktikannya.”
Hadis yang mashur dalam hal ini, “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah.”
Makna Bala’
Ada empat istilah yang sering kita dengar atau pakai. Yakni, bala’, musibah, fitnah dan azab. Masing-masing memiliki arti dan makna berbeda.
Dalam Ilmu Tafsir Al Qur’an, bala’ atau ibtilaa ada yang berbentuk kebaikan dan keburukan. Namun bala dalam bahasa Indonesia, makna konotasinya adalah malapetaka, atau sesuatu yang tidak menyenangkan.
Namun, di dalam Al Quran, makna bala bisa dalam bentuk kebaikan dan keburukan, sebagaimana firman Allah SWT: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS al-Anbiya ayat 35).
Misalnya Nabi Sulaiman, yang ketika diberi berbagai macam nikmat, maka itu menjadi ujian baginya apakah akan menjadi orang yang bersyukur atau kufur atas nikmat tersebut.
Kedua; istilah musibah, sebuah istilah yang cukup popular. Allah SWT berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS al-Baqarah ayat 156).
Musibah itu pada dasarnya adalah sesuatu yang menimpa sehingga bisa berarti baik dan juga bisa berarti buruk.
Namun, dalam Al Quran, kata ‘musibah’ konotasinya lebih kepada sesuatu yang menyakitkan, yang menimbulkan bahaya bagi manusia dan lingkungan.
Karakter musibah, yaitu terjadi atas kehendak dan atas izin Allah SWT.
Kata ketiga adalah fitnah. Dimana akar katanya ialah fatana atau fatina. Fitnah memiliki arti menempa sesuatu agar tampak aslinya. Misalnya, emas ditempa dengan api supaya kelihatan kadar yang sesungguhnya. Karena itu, fitnah adalah sesuatu yang terjadi untuk mengungkap hakikat sesuatu atau keadaan seseorang.
Dengan fitnah, seseorang akan dilihat apakah dia akan menjadi orang baik atau tidak.
Sedang kata azab, berkonotasi mendalam, lebih kepada siksaan buat orang-orang yang melakukan kesalahan dan kufur. Dan ini ada yang bersifat duniawi, ada yang bersifat ukhrawi. (Moch. Nuruddin Ali)














