KUALALUMPUR| DutaIndonesia.com – Ketua Bidang Pendidikan PCI Muslimat NU Malaysia, Nur Afni Hidayati, resmi menyelesaikan pendidikan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) pada 29 September 2026. Menariknya, pendidikan tersebut berhasil dituntaskan hanya dalam waktu satu tahun dengan raihan IPK 3,89.
Nur Afni menempuh pendidikan pada Fakultas Ekonomi Bisnis dan Teknologi Digital melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) secara online. Di usianya yang telah menginjak 45 tahun, ia tetap berkomitmen untuk menyelesaikan pendidikan di tengah tanggung jawab pekerjaan, rumah tangga, dan aktivitas organisasi.
“Perasaan setelah lulus sangat lega, sebab sudah selesai melaksanakan tanggung jawab sebagai mahasiswa di UNUSA,” ungkap Nur Afni.
Menurutnya, salah satu tantangan terberat selama menjalani perkuliahan adalah menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan dalam waktu yang relatif singkat. Kondisi tersebut harus dijalani bersamaan dengan tanggung jawab pekerjaan dan mengurus rumah tangga.
“Tantangan terberat selama menjadi mahasiswa UNUSA adalah mengerjakan tugas yang diberikan dan harus dikerjakan dalam waktu yang singkat, sedangkan saya harus menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan dan mengurus rumah tangga. Tapi saya tetap berusaha semaksimal mungkin untuk mengerjakannya, hingga akhirnya selesai juga. Alhamdulillah,” tuturnya.
Untuk menghadapi berbagai tuntutan tersebut, Nur Afni mengandalkan semangat belajar dan keyakinan bahwa setiap tugas dapat diselesaikan.
“Strategi menyelesaikan tugas kuliah adalah dengan semangat belajar dan yakin bisa mengerjakannya. Alhamdulillah semua selesai tepat pada waktunya,” jelasnya.
Selain menyelesaikan perkuliahan, Nur Afni juga menghasilkan karya ilmiah dengan judul “Pengaruh Beban Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Guru melalui Stres Kerja.”
Aktivitas akademik tersebut tidak membuatnya meninggalkan kegiatan organisasi. Sebagai Ketua Bidang Pendidikan PCI Muslimat NU Malaysia, ia tetap menjalankan berbagai aktivitas Muslimat NU dengan mengatur waktu antara kuliah dan kegiatan organisasi.
“Cara saya menyeimbangkan antara kuliah dan kegiatan Muslimat adalah dengan cara membagi waktu. Kuliah saya biasanya sore atau malam, kalau kegiatan Muslimat ini biasanya dilaksanakan pada pagi atau siang hari,” katanya.
Penyelesaian pendidikan Nur Afni menjadi salah satu contoh bahwa aktivitas akademik, pekerjaan, keluarga, dan organisasi tetap dapat berjalan beriringan ketika dikelola dengan baik. Terlebih, capaian tersebut diraih pada usia 45 tahun dengan masa studi yang relatif singkat.
Merespons prestasi ini, Ketua Umum PCI Muslimat NU Malaysia, Dra. Mimin Mintarsih, yang berkesempatan hadir dalam wisuda Nur Afni di UNUSA Surabaya, menyatakan rasa bangga. “Saya sebagai Ketua PCI Muslimat NU Malaysia merasa bangga karena meski sibuk dan usia juga tidak lagi muda, Mbak Afni masih semangat untuk mencari ilmu,” tuturnya.
Bagi PCI Muslimat NU Malaysia, capaian tersebut juga menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengurus, khususnya dalam mendukung kiprah organisasi di bidang pendidikan. (Mimin/Aziz)












