Bagi orang-orang yang merasa, bahkan memandang agama penting, terjadi sikap sekuler dengan memahami agama secara terbatas pada aspek-aspek ritual ubudiyah. Mereka begitu ketat dengan urusan agama ketika bersentuhan dengan urusan ritual keagamaan. Bahkan merasa paling beragama (paling sunnah). Tapi agama tidak menjadi perhatian dalam kehidupan dunianya. Termasuk ketika melakukan transaksi dan interaksi dengan sesama manusia sekitarnya.
Orang agamis yang berkarakter sekuler ini biasanya memiliki karakter ganda atau “doble personalities” (kepribadian ganda). Ketika di masjid atau di majelis dzikir mereka nampak sangat religious. Tapi ketika bersentuhan dengan dunia nyata mereka menjadi sangat berbeda. Satu di antaranya tidak malu-malu menipu, memfitnah, menggibah, bahkan menampilkan kerakusan dunia walau berbungkus agama.
Tanpa mereka sadari mereka terjatuh ke dalam sesuatu yang mungkin saja bukan paham (isme atau keyakinan) karena memang tidak paham. Tapi sikap atau perilaku yang justeru menjadi perilaku dan karakter sekularis. Agama seolah-olah disempitkan atau dibatasi dengan hal-hal yang bersifat vertikal (ritual) semata).
Di pihak lain ada kalangan yang memang mungkin saja masih melihat urgensi agama. Tapi agama dibatasi secara ketat pada hal-hal yang juga ritual (itupun secara personal) semata. Agama dibatasi, bahkan diharamkan, untuk hadir dalam kehidupan sosial/duniawi dan kehidupan publik manusia. Agama terpenjarakan di antara dinding-dinding rumah ibadah yang sempit.
Kedua kelompok manusia itu sama dalam pandangan sekulerisme. Walaupun mereka yang sekuler agamis atau agamis sekuler itu mengaku beragama bahkan paling beragama.














