Paradoks di Padang Mina

oleh
Haji Zainal Abidin SE Dirut Atria Tour & Travel
Haji Zainal Abidin SE Dirut Atria Tour & Travel

 

Oleh Haji Zainal Abidin SE
(Dirut Atria Tour & Travel)

POLEMIK terkait layanan haji–khususnya tenda penuh sesak dan antre toilet berjam-jam–mengemuka di ruang publik saat para anggota DPR Tim Pengawas Haji meninjau lokasi maktab di Mina. Terjadi pro dan kontra.

Ketika cara pandang berbeda, komentarnya juga akan beda. Yang jelas over capasity adalah sebuah realitas. Sesuatu keadaan yang selalu terjadi setiap musim haji. Seperti lagu lama yang selalu saja diputar ulang.

Apalagi semua orang tahu, setiap tahun ada tambahan kuota, sedangkan area Mina tidak mungkin diperluas–setelah pernah diperluas menjadi Mina Jadid. Seperti diketahui, luas Mina sekitar 650 hektare, terdiri atas daratan yang luas, lembah dan pegunungan. Tinggi dan terjal di sebelah Utara dan Selatan dan di timur berada Wadi Muhasar.

Dengan luas Mina untuk prosesi haji yang tidak berubah itu, di sisi lain terjadi penambahan kuota untuk jamaah haji. Bahkan semua umat Islam yang ingin berhaji selalu berharap ada tambahan kuota. Khususnya calon jamaah haji waiting list–ada yang antre menunggu puluhan tahun. Dan saat tambahan kuota itu benar-benar diberikan oleh otoritas Arab Saudi, mereka pun dengan sukaria mensyukurinya.

Maka, inilah cara pandang paradoks atau antitesa yang tak sempurna. Ketika rasa syukur (ada tambahan kuota) berujung keluhan, bahkan protes, ketika terjadi keruwetan, suasana penuh sesak, akibat penambahan kuota tersebut.

Mereka seakan lupa saat berharap bisa berhaji tapi ketika faktanya over kapasitas lalu mereka mengeluh. Lupa juga bahwa Allah telah membanggakan kepada para malaikat tentang kondisi umatnya yang berhaji: “Lihatlah hamba-hamba-Ku telah datang dari berbagai penjuru dengan rambut yang kusut masai dan berdebu.” (HR. Ahmad No.7049, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ No.1868).

Allah SWT juga berfirman yang artinya, “(Wahai Ibrahim), serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS Al-Hajj: 27).

Maka, yang terjadi sejatinya adalah komplain terhadap harapannya sendiri. Bahkan lupa dengan ayat-ayat Allah tentang perintah berhaji. Yang akan dibalas dengan surga. Tapi mengapa masih saja ribut dengan keadaan dan fasilitas yang serba terbatas dan serba kumuh? Astagfirullahal adhim!

Wakil rakyat seharusnya tidak berkomentar di ruang publik tentang pelaksanaan haji yang serba terbatas dan kumuh. Mengapa? Ya tentu karena Allah SWT telah memberi tahu dan mengingatkan sebelumnya tentang kondisi orang berhaji tersebut. Bahwa mereka ber-“rambut yang kusut masai, kumuh berdebu.”

Maka, memberi solusi adalah sikap yang lebih bijaksana. Salah satunya kabar bahwa Mina akan diperluas secara vertikal dalam wujud bangunan bertingkat berupa apartemen. Ada pula usul jangka pendek tenda-tenda haji dibuat bertingkat.

Karena itu, hentikanlah komentar negatif di ruang publik. Seperti larangan para jamaah haji sendiri untuk tidak berbantah-bantahan. Lebih baik lakukan upaya perbaikan secara profesional dan proporsional bersama para pihak terkait.

Selain itu perlu juga mendidik masyarakat untuk tidak mengeluh. Saya khawatir perilaku gampang mengeluh, apalagi sikap emosional, justru bisa merusak kemabruran haji para hujjaj. Wallahua’lam bis sowab! (*)

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.