Oleh: Ulul Albab
Akademisi, Ketua ICMI Jawa Timur
Rektor Unitomo 2007-2013
PERGURUAN tinggi Indonesia hari ini tampak sangat maju. Gelar doktor bertambah. Profesor meningkat. Publikasi internasional melonjak. Seminar akademik nyaris tanpa jeda.
Kampus dipenuhi istilah-istilah prestisius: Scopus, sitasi, H-index, indeksasi global, reputasi internasional.
Namun di tengah gegap gempita akademik itu, muncul pertanyaan publik yang sebenarnya terasa menampar, yaitu: Mengapa masyarakat tetap merasa kampus semakin jauh dari kehidupan nyata? Inilah paradoks pendidikan tinggi kita.
Kampus kita hari ini tampak semakin sibuk, tetapi sering tidak terasa kehadirannya dalam dunia nyata, kurang gregetnya dalam kontribusinya menyelesaikan persoalan kehidupan sosial. Akademisi kita sangat produktif menulis jurnal, tetapi tidak selalu produktif menyelesaikan persoalan sosial. Banyak riset berhenti sebagai dokumen ilmiah yang rapi di repositori digital, tanpa pernah benar-benar menyentuh kehidupan rakyat.
Yang lebih ironis adalah, sistem pendidikan tinggi kita justru ikut mendorong keadaan itu. Dosen hari ini perlahan dipaksa hidup dalam logika angka: berapa publikasi Scopus, berapa sitasi, berapa jurnal internasional, berapa poin kum, dan berapa tunjangan yang bisa diamankan.
Akibatnya, publikasi sering berubah fungsi: bukan lagi instrumen pencerahan sosial, tetapi hanya berfungsi sebagai syarat administratif untuk bertahan dan naik kelas dalam birokrasi akademik.
Kampus akhirnya melahirkan perlombaan simbolik yang melelahkan. Gelar menjadi semakin panjang, tetapi kontribusi sosial justru semakin pendek. Akademisi berlomba dikenal di database internasional, tetapi sering asing terhadap problem masyarakat di sekelilingnya.
Padahal bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah intelektual yang mau benar-benar berjibaku mengambil peran untuk memberikan Solusi bagi berbagai persoalan sosial, ekonomi, juga politik dan lainya.
Kita terlalu banyak menghasilkan artikel ilmiah, tetapi terlalu sedikit solusi nyata. Terlalu banyak diskusi akademik, tetapi terlalu sedikit keberanian turun tangan. Kampus ramai membahas kemiskinan dalam seminar ber-AC, tetapi sepi ketika kemiskinan benar-benar terjadi di depan mata.
Di level ini, kritik paling keras sebenarnya bukan hanya tertuju kepada dosen atau profesor semata, tetapi juga tertuju kepada arah besar pendidikan tinggi kita yang, perlahan namun pasti, menjadikan akademisi sebagai “mesin publikasi”.
Scopus tentu penting. Publikasi internasional tetap diperlukan. Dunia akademik memang membutuhkan tradisi riset yang kuat. Tetapi ketika ukuran keberhasilan kampus hanya ditentukan oleh angka-angka bibliometrik, maka jangan heran kalau perguruan tinggi kita akan berisiko kehilangan ruh pengabdiannya. Ilmu akhirnya sibuk mengejar pengakuan global, tetapi gagal memberi dampak lokal.
Kita membutuhkan kampus yang kembali relevan dengan problem rakyat. Universitas tidak boleh hanya menjadi menara akademik yang megah, tetapi dingin terhadap realitas sosial. Dosen jangan hanya hadir di ruang seminar dan jurnal internasional, tetapi juga ikut terjun di ruang-ruang problem masyarakat.
Dan ini yang perlu dicamkan. Bahwa ukuran tertinggi ilmu bukan sekedar diukur dari seberapa banyak “karyanya” dikutip, tetapi seberapa besar manfaat karya tersebut dirasakan masyarakat.
Mungkin inilah saatnya kita semua, terutama pengelola perguruan tinggi melakukan refleksi mendalam: apakah kampus kita sedang membangun peradaban, atau sekadar memproduksi angka-angka akademik? (*)











