SURABAYA|DutaIndonesia.com – Pemkot Madiun segera membuat program terobosan. Walikota Madiun H Maidi berencana mengirim anak-anak dari keluarga tidak mampu yang berprestasi untuk kuliah di luar negeri. Tujuannya agar para putra terbaik itu bila kelak lulus dari perguruan tinggi di luar negeri saat pulang kampung bisa membanggakan keluarga sekaligus membangun daerahnya agar lebih maju.
“Anak-anak pintar dari keluarga tidak mampu akan kita sekolahkan ke luar negeri, seperti Swiss, Rumania, China, Amsterdam (Belanda) dan Praha (Ceko). Kalau MoU sudah ada, anak pintar yang masih berada di kampus disiapkan belajar bahasa negara setempat,” kata Maidi.
Setelah lulus S2 di negara tujuan, kata Walikota Madiun, pulang akan menjadi tenaga kerja yang mahal. Sehingga mereka mampu mengangkat derajat keluarganya. Untuk yang bekerja akan memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Sehingga kemiskinan akan hilang. “Kalau sistem seperti ini diterapkan, kemiskinan akan hilang. Sistem ini satu-satunya di Indonesia yang dilakukan oleh Kota Madiun,” katanya.

Sama dengan Pemkot Madiun, Pemkab Pamekasan sebenarnya sudah mengirim putra terbaiknya untuk kuliah di luar negeri. Namun Pamekasan tidak secara khusus membuat program beasiswa keluar negeri tapi bekerja sama dengan asosiasi pemda se-Indonesia untuk mengirimkan mahasiswa kuliah ke Tiongkok.
Sebanyak 4 mahasiswa mendapat beasiswa kuliah program studi teknologi di sebuah universitas di negeri Tirai Bambu tersebut. “Yang beasiswa itu tahun 2022, semoga saja bisa berlanjut. Ini program Bapak Bupati Baddrut Tamam bekerja sama dengan bupati lain. Biaya kuliah dan hidup mereka ditanggung Pemkab,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pamekasan, Akhmad Zaini M.Pd, kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu kemarin.

Pemkab Pamekasan juga memberikan beasiswa kepada warga tak mampu yang berprestasi atau santri ponpes untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Unair Surabaya sejak tahun 2021 hingga sekolah kedinasan.
Sebelumnya 5 mahasiswa asal Pamekasan juga sudah kuliah di Tiongkok. Mereka adalah Tika Putri Laksmi, Anggita Salsabila Noeraliza, Ilham Tri Kusnadi, Putri Dewi Candra Kirana, dan Lailal Muna Firdaus. Tika Putri Laksmi, Ilham Tri Kusnadi, dan Anggita Salsabila Noeraliza kuliah di Hubei University of Science and Technology. Sedang lainnya belajar di Xinjiang Medical University China. Mereka sempat dipulangkan ke Pamekasan karena Covid-19 melanda China.
Pemda–baik pemkot,pemkab, maupun pemprov–semakin meningkatkan dunia pendidikan untuk kemajuan daerahnya. Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Malang (Unisma) Prof H M. Mas’ud Said MM., Ph.D, pun menyambut positif Pemda yang memiliki program beasiswa bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu yang berprestasi untuk kuliah ke luar negeri tersebut.
“Saya kira Walikota sudah punya gambaran dan jalur serta mekanisme bagaimana beasiswa itu diberikan, bagaimana kader-kader terbaiknya diseleksi, mana saja kampus luar negeri yang diajak kerjasama. Apa kampus di kawasan Amerika, Eropa, Australia, atau kawasan Asia. Bisa juga di Mesir meniru seperti yang Ibu Khofifah (Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Red.) lagi galang kerjasamanya. Jadi nanti pasti juga membuat MoU dengan beberapa kampus melalui Kedubes Indonesia di negara asing dan juga beberapa ahli pendidikan dan alumninya. Jadi terbuka lebar, namun pertanggungjawaban keuangannya juga harus beres,” kata Prof Mas’ud Said kepada DutaIndonesia.com dan Global News, Rabu (15/2/2023).
Prof Mas’ud Said yang juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim ini menegaskan bahwa pendidikan adalah ranah yang sangat urgen dalam pembangunan dan pemerintahan daerah. Karena itu Kementerian Keuangan melalui Kemenristek-Dikti mengalokasikan sangat banyak dana untuk akses dunia pendidikan termasuk beasiswa-beasiswa kuliah dalam negeri dan luar negeri. “Misalnya LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan),” ujarnya.
Sejumlah daerah, baik Kota, Kabupaten dan Provinsi, juga mengalokasikannya untuk pendidikan sekolah baik SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Salah satunya sudah dilakukan Pemprov Jatim.
“Tinggal bagaimana perencanaan dan kaitan dengan target sesuai visi misi dan program utama kepala daerah. Mekanismenya pun harus tuntas sehingga masih dalam koridor tata pemerintahan yang baik,” katanya.
Sebelumnya Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa melepas 30 santri penerima beasiswa S1 Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, di Gedung Negara Grahadi, Selasa (4/1/2022) malam lalu. Para santri tersebut diberangkatkan menuju Mesir Rabu 6 Januari 2022. Pemprov Jatim sudah menyiapkan seluruh biaya perjalanan, pendidikan selama delapan semester serta tempat tinggal sementara.
Bukan hanya itu, saat melakukan kunjungan kerja ke Mesir, Gubernur Khofifah bertemu dengan Syaikh Ahmad At-Thayeb Grand Syaikh Al-Azhar University. Dalam pertemuan itu, Gubernur juga membahas tentang kuota tambahan beasiswa untuk berkuliah di Al-Azhar University bagi mahasiswa Jatim.
“Saat ini kuota mahasiswa beasiswa dari Pemprov Jatim sebanyak 30. Kita berharap kuota ini bisa ditambahkan. Khususnya untuk bidang ilmu eksak dan applied science,” kata Khofifah dalam keterangannya, Jumat (25/11/2022). Yang menarik, saat Gubernur Khofifah berkunjung ke Al Azhar pada bulan November 2022 dia diberi tahu jika alumni pertama dari Indonesia yang belajar di Universitas Al-Azhar ternyata dari Pacitan.
Bukan hanya Mesir, kampus di Tiongkok juga menarik perhatian warga Jatim. Hal ini karena sejumlah lulusan perguruaan tinggi di Tiongkok pada kenyataannya banyak terserap di berbagai sektor di dalam negeri. Ini membuktikan bahwa kemajuan negara Tirai Bambu tersebut membawa dampak positif.
“Sejumlah santri yang telah melanjutkan studinya ke Tiongkok, setelah selesai studinya, mendapat tempat yang bagus di sejumlah perusahaan hingga BUMN. Mereka itu bekerja di sektor keuangan hingga teknologi,” kata KH Imron Rosyadi, Wasekjen PBNU, kepada Global News di sela-sela peluncuran dan bedah buku “Santri Indonesia di Tiongkok” di Auditorium FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya.
Dia mengatakan, beberapa tahun terakhir ini, minat untuk melanjutkan pendidikan ke Tiongkok terus meningkat. Terutama dari kalangan santri. Karena itulah, ini harus menjadi perhatian kita semua. Apalagi kemajuan di Tiongkok tak dapat dipungkiri. Kemajuan sektor ekonomi dan teknologi Tiongkok belakangan mencengangkan dunia.
M. Fathoni Hakim peneliti Pusat Kajian Indonesia-Tiongkok (PUSKIT) FISIP UINSA menaruh harapan besar terhadap eksistensi PCINU Tiongkok ke depan, pasalnya dengan jumlah anggota lebih dari 500 santri yang sedang menempuh studi di Tiongkok dengan berbagai disiplin ilmu, PCINU bukan hanya berpeluang dalam peningkatan hubungan antar warga Indonesia-Tiongkok yang lebih bersifat sosial-budaya. Namun diharapkan para santri di Tiongkok bisa menjadi fasilitator dalam peningkatan ekonomi dan Pendidikan di kedua negara.
Isu industri halal (halal food, halal tourism, halal pharmaceutical, halal standard and certification) bisa menjadi konsentrasi kedepan. Investasi Tiongkok di Indonesia yang mayoritas di aspek energi dan sumber daya alam juga menarik diperhatikan, lebih-lebih tempat investasi tersebut berada di basis NU. “Maka peran fasilitator bisa diambil oleh PCINU ke depan,” katanya. (her/mas/gas/fan)














