Karena itu, melonjaknya kasus Covid-19 ini ada hikmahnya juga. Sebab, warga mulai memahami adanya ancaman wabah yang mematikan tersebut. Apalagi ada imbauan dari Pemerintah agar menerapkan prokes. Warga pun mulai mematuhinya. Misalnya, sekarang tidak ada lagi kerumunan. Saat ini sudah tidak ada lagi orang mengadakan hajatan dengan banyak tamu undangan. “Ada imbauan bupati,” katanya.
Bilal pun bersyukur ada hasil. Misalnya di Desa Tengket mulai melandai. Sedang desa-desa lain masih belum pulih benar. “Jadi, sebenarnya sudah ada edukasi, tapi sebagian warga abai tentang prokes. Apalagi mereka memang tidak memiliki gejala,atau tidak sakit. Kini lain, ada warga yang sakit. Bahkan jadi pasien di rumah sakit,” katanya.
Aktivis pemerhati COVID-19 di Bangkalan, Irham Lira, juga menyebut senada. Banyak warga di beberapa desa Kabupaten Bangkalan mengalami gangguan pada indera penciuman, termasuk batuk, pilek, hingga demam tinggi. Hal itu merata di Desa Kampak, Banyoneng Dajah, Bayoneng Laok, Kecamatan Geger. Begitu pula di Desa Klapayan dan Desa Sereh, Kecamatan Sepuluh.
“Saya sendiri di Banyoneng Dajah hampir masyarakat semuanya sakit. Sakitnya rata-rata panas, demam tinggi, batuk, pilek, flu, radang tenggorokan. Tiap rumah itu, hampir semuanya mengalami itu. Otomatis gajala (COVID-19) mereka juga kehilangan indra penciuman dan pembauan,” kata tokoh masyarakat dan aktivis pemerhati COVID-19 di Bangkalan, Irham Lira Rabu (16/6/2021), seperti dikutip dari detik.com.
Irham mengaku tidak bisa memastikan apakah gejala tersebut dirasakan warga di semua desa di Bangkalan. Namun dia memastikan, banyak warga di 4 kecamatan yang menjadi episentrum COVID-19 merasakan sederet gejala Covid-19 tersebut. Misalnya di Kecamatan Bangkalan, Arosbaya, Klampis, dan Geger.
Menurutnya, biasanya gejala seperti itu tidak berlangsung lama, paling sekitar 3-5 hari saja. Namun kali ini sampai 10 hari. “Sejak 10 hari ini. Gejala sudah menuju ke arah COVID, kalau tidak ada tes massal ya nggak tahu. Yang pasti hampir semua merasakan gejala itu. Dulu sebelum ada COVID biasanya 3-5 hari sudah sembuh, sekarang ini nggak, dokter juga tutup, masyarakat tidak tahu harus bagaimana. Saya mengedukasi, saya suruh makan bawang putih, obat-obatan tradisional seperti mengkudu saya suruh jus, sereh, jahe,” jelasnya.












