Perjuangan Relawan Mengedukasi Warga Bangkalan: Hadapi Keyakinan ‘Kalau Sudah Waktunya Mati Ya Mati’!

oleh

Ia berinisiatif untuk mengedukasi masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan dan pencegahannya. Namun saat mengedukasi masyarakat, dia justru harus menghadapi amarah warga yang kurang paham akan pandemi COVID-19.

“Nggak ada yang berani. Karena tokoh masyarakat di situ juga hati-hati dalam memberikan edukasi. Karena bisa jadi kita yang maksud kita baik, tapi tanggapan mereka masih tidak begitu paham tentang swab, kita malah nanti disalahkan. Saya juga perlu hati-hati ketika memberikan edukasi,” ujarnya.

Ketika di-swab mereka tidak mau diisolasi di RS. Tes swab seperti menjadi kengerian tersendiri melebihi Corona. Mereka lebih memilih isolasi mandiri. “Yang penting ada edukasi dan isolasi. Masyarakat masih belum paham dan ngeh tentang swab dan isolasi di RS. Masih susah,” tambahnya.

Untuk swab massal, dia baru mengetahui dilakukan pada Selasa (15/6) di Kecamatan Sepuluh. Meski begitu, ia dan karang taruna juga terus mengedukasi akan penerapan protokol kesehatan.

“Jadi masyarakat belum banyak yang paham tentang protokol 5M. Kemarin-kemarin masih banyak yang tidak pakai masker. Jadi kendalanya, kurangnya edukasi yang menyebabkan masyarakat kurang percaya. Kenapa masyarakat kurang percaya? Karena indikasi-indikasi permainan yang mungkin menjadi stigma di masyarakat,” lanjut Irham.

“Saya dari ponpes dari segala kekuatan dan kemampuan yang ada mencoba memberikan pemahaman-pemahaman itu. Walaupun sebenarnya mereka kurang percaya, tapi alhamdulillah ketika sudah seperti ini kesadaran dan kemauan untuk menerapkan prokes lambat laun sudah mereka patuhi,” pungkas Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Bangkalan ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.