Pesantren Nur Inka Nusantara Madani dan Komunitas “Virtual” Generasi Baru

oleh

Alhamdulillah kegiatan ini berlangsung lancar dan berhasil. Salah satu indikasi itu adalah betahnya santri-santriyah untuk tinggal di pesantren, mengikuti semua aturan. Termasuk di antaranya adalah berpisah dengan HP dan sosial media. Mereka hanya dimungkinkan untuk akses HP dan media sosial setengah hari di akhir pekan.  

Untuk itu dapat dikatakan bahwa kegiatan ini telah berusaha dan pada tataran tertentu berhasil untuk menanamkan kepada santri/santriyah urgensi lingkungan yang baik. Bahkan tidak sekedar memahami urgensi lingkungan yang baik. Mereka bahkan telah diarahkan untuk bisa menjadi agen perubahan lingkungan ke arah yang lebih baik. 

Pastinya selama kegiatan Pesantren Musim Panas ini telah dimaksimalkan transfer keilmuan. Ilmu akidah, ilmu fiqh, akhlak, sirah, dan lain-lain untuk menjadi bekal bagi mereka. Tidak saja untuk menjadi Muslim yang baik. Tapi juga dengan bekal ilmu-ilmu tersebut mereka akan merasakan tanggung jawab Dakwah di bagian bumi Allah ini. 

Selain lingkungan dan ilmu-ilmu Islam, hal yang tidak kalah pentingnya dari program ini adalah terbangunnya networking di antara santri-santriyah itu. Networking ini yang mungkin bahasa Al-Qurannya “Shoff” (shoffan kal bunyaan al-marshuush) akan menjadi cikal bakal terbentuknya “Komunitas” generasi Muslim masa depan. 

Hal ini adalah salah satunya yang saya tegaskan pada acara penutupan. Bahkan  secara khusus saya memotivasi mereka untuk membentuk “Komunitas virtual”(virtual community) di mana mereka akan melanjutkan komunikasi, silaturrahmi, dan tentunya saling sharing dalam kebaikan (tawashow bil haq).

 Sesuatu yang tentunya sangat penting dan relevan. Maklum Komunitas masa depan akan didominasi oleh Komunitas yang berkarakter dunia maya (virtual). 

Tentu hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa dunia kita yang saat ini dilanda Covid 19 mengalami pergeseran/perubahan yang dahsyat. Dunia yang sangat berbeda dari dua-tiga tahun lalu. Dunia yang lebih dikenal dengan katakter “normal yang baru” (new normal). 

Karenanya silaturrahmi misalnya yang selama ini kita kenal dengan saling mengunjungi secara fisik telah mengalami pergeseran dengan silaturrahim virtual. Dan karenanya sadar atau tidak, komunitas generasi baru juga akan terinovasi dengan bentuk baru. Itulah sesungguhnya yang saya istilahkan dengan “Virtual Community”. 

No More Posts Available.

No more pages to load.