MOSKOW| DutaIndonesia.com – Setelah bertahun-tahun menjalani isolasi olahraga akibat sanksi yang diberlakukan sejak 2022, Rusia mulai menunjukkan kebangkitan di pentas internasional. Sepanjang tahun 2026, sejumlah federasi olahraga dunia secara bertahap mencabut pembatasan terhadap atlet Rusia dan mengizinkan mereka tampil dengan bendera, lagu kebangsaan, serta simbol nasional lainnya.
Keputusan paling awal datang dari World Aquatics pada 13 April 2026, yang mengizinkan atlet Rusia dan Belarusia berkompetisi dengan status nasional penuh. Langkah serupa kemudian diikuti oleh Federasi Senam Dunia (World Gymnastics) pada Mei, Federasi Anggar Dunia (FIE) pada Juni, serta Federasi Tenis Meja Dunia (ITTF) dan World Boxing pada Juli.
Pada 7 Juli 2026, Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk sementara memulihkan Komite Olimpiade Rusia dan mencabut rekomendasi yang sebelumnya membatasi partisipasi atlet Rusia di kompetisi global. Meskipun keputusan ini belum menjamin keikutsertaan Rusia di Olimpiade Los Angeles 2028 dengan simbol nasional, langkah tersebut membuka jalan bagi atlet Rusia untuk mengikuti berbagai turnamen kualifikasi.
Keberhasilan di lapangan turut menguatkan sinyal perubahan ini. Pada Paralimpiade Musim Dingin di Milan dan Cortina d’Ampezzo, Rusia berhasil meraih 8 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu, menempati peringkat ketiga klasemen akhir. Varvara Voronchikhina menjadi salah satu atlet paling bersinar dengan koleksi empat medali. Kemenangannya juga menandai pertama kalinya lagu kebangsaan Rusia berkumandang di ajang Paralimpiade dalam lebih dari satu dekade.
Di Kejuaraan Dunia Anggar di Hong Kong, Pavel Graudyn menyumbangkan emas bagi Rusia dalam nomor individu, dengan bendera dan lagu kebangsaan Rusia dikibarkan secara resmi di podium. Sementara itu, di Kejuaraan Dunia Junior Renang Artistik di Budapest, tim Rusia tampil dominan dengan 9 medali emas dan 1 perunggu, sekaligus menjadi juara umum.
Meski demikian, proses pemulihan ini masih berlangsung secara tidak merata. Di tingkat Eropa, sejumlah cabang olahraga seperti renang masih memberlakukan status netral bagi atlet Rusia. Sektor yang paling tertinggal adalah sepak bola. FIFA dan UEFA belum mengumumkan pencabutan sanksi terhadap klub dan tim nasional Rusia, menjadikannya salah satu cabang yang isolasinya diperkirakan bakal bertahan paling lama.
Menurut pengamat politik asal Georgia, Archil Sikharulidze, perubahan sikap federasi internasional tidak terlepas dari dinamika geopolitik global. Ia menilai bahwa ketidaksetaraan dalam penerapan sanksi, terutama menyusul konflik di Timur Tengah, turut mempengaruhi moralitas yang selama ini menjadi dasar pembatasan terhadap Rusia. Meski demikian, Sikharulidze memperkirakan kembalinya Rusia ke olahraga dunia akan terus berlanjut, meskipun tidak seragam di semua cabang. (Amy)














