SURABAYA | DutaIndonesia.com – “Sesungguhnya, Allah Ta’ala tak rela pada hambanya yang muslim, yang ketika dia ditinggal orang yang sangat dikasihinya dari penduduk bumi, asal ia bersabar, maka imbalannya tak lain hanya surga,” kata Prof. DR. KH. Asep Syaifuddin Chalim MA, Pendiri dan Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, di Pondok Amanatul Ummah Siwalankerto, Wonocolo, Surabaya, Rabu (16/9/2026).
“Sesungguhnya Allah tidak akan mendzolimi hambanya sedikit pun. Bahkan kasih sayangnya, rohman rahimnnya, sangatlah luas dan agung,” tegas Kiai Asep lagi.
Penjelasan Kiai Asep bersumber dari hadist yang diriwayatkan Bukhari, yang menyatakan Allah Ta’ala berfirman: ”Tidak ada balasan yang sesuai di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang mukmin, jika Aku mencabut nyawa kekasihnya (orang yang dicintainya) dari penduduk dunia, kemudian ia bersabar dengan mengharap pahala dari-Ku, melainkan baginya adalah surga.”
Hadist yang disampaikan Kiai Asep, adalah hadis qudsi mengenai besarnya pahala kesabaran saat kehilangan orang yang dicintai.
Hal ini menunjukkan bahwa, Allah amat sangat memperhatikan kepada para hambanya, yang mengalami sedih dan duka akibat kehilangan orang yang dicintai. Dan Allah memperhitungkan setiap kesedihan dan kedukaan yang dialami hambanya dengan penuh kesabaran, karena mengharap Ridha Allah.
Kehilangan orang yang sangat disayangi (anak, pasangan, orang tua, atau sahabat) adalah salah satu ujian terberat di dunia. “Selalu teringat kebaikannya, selalu teringat kasih sayangnya. Bahkan semakin lama, semakin kangen. Sebuah penderitaan yang tak berujung,” kata Kiai Asep.
Namun bagi seorang muslim, sabar dan ihtisab (Ikhlas serta mengharapkan pahala hanya dari Allah) merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki, agar mendapatkan janji Allah, yakni surga. Bukan menangisi setiap rasa kangen itu muncul, meratapi setiap bayangannya muncul, bahkan protes atas takdir Allah.
Dengan kemurahan Allah, Allah akan mengganti kepedihan yang luar biasa di dunia dengan kenikmatan abadi di akhirat.
UNTUK ALMARHUM
Hal senada juga dialami oleh almarhum yang meninggalkannya. Ia juga dijanjikan surga Allah manakala ketika sakit, ia jalani dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.
Bahkan, sebagian ulama mengatakan, sakit itu ujian. Dan setiap rasa sakit yang mendera, dan dirasakan dengan sabar, maka semua dosa si penderita akan rontok. Bahkan lebih ekstrim lagi, dikatakan sakit itu sebuah proses pensucian dosa.
Kecuali mengeluhnya karena menahan sakit yang tak terkira. Itupun sebaiknya menyebut asma Allah, menyebut asma Rasulullah.
Maka hamba yang sabar dan Ikhlas menerima sakitnya, tak ada yang lain kecuali surga sebagai ganjarannya.
Namun sebaliknya, bagi hamba Allah yang ketika sakit selalu sambat, mengeluh, meronta-ronta, protes atas takdir yang dialami.
“Jadi sesungguhnya Allah itu tidak akan mendzolimi hambanya sedikit pun. Apapun yang dirasakan oleh hambanya yang muslim, yang diterima dengan sabar, Ikhlas bahkan rasa syukur, akan diperhitungkan oleh Allah sebagai pahala,” kata Kiai Asep.
KEBAIKAN ORANG KAFIR:
Pernyataan bahwa Allah tidak mendzolimi hambanya, juga berlaku pada hambanya yang kafir. Dalam hal ini, setiap (perbuatan) kebaikan, yang dilakukan oleh orang kafir, tetap diperhitungkan Allah, dan mendapatkan balasan (pahala).
Hanya saja, balasan atau pahalanya, diberikan langsung di dunia hingga lunas, namun tidak di akherat. Amal kebaikan seperti sedekah, membantu sesama, atau menolong orang lain akan dibalas oleh Allah SWT di dunia. Bentuk balasannya berupa kelancaran rezeki, kesehatan, keselamatan, atau kemudahan urusan dunia, kenyamanan hidup, kerukunan rumah tangga, kebahagiaan, dan lain sebagainya.
Bagi orang kafir, tidak ada pahala di akhirat. Di akhirat, amal kebaikan tersebut tidak bernilai pahala atau tidak mendatangkan kebaikan. Karena syarat utama diterimanya amal untuk urusan akhirat adalah iman dan tauhid kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa orang kafir diberi makan dan balasan atas kebaikan yang ia lakukan di dunia, namun ketika tiba di akhirat, ia tidak memiliki lagi kebaikan atau balasan tersebut.
Al-Qur’an (Surat Al-Furqan ayat 23): Allah SWT berfirman bahwa Dia akan memperlihatkan segala amal yang mereka kerjakan di dunia, lalu menjadikan amal itu sia-sia bagaikan debu yang berterbangan karena tidak dilandasi keimanan. (Moch. Nuruddin)












