Sidang AHWA Pilih KH Miftachul Akhyar Jabat Rais Aam PBNU, Siapa Ketumnya?

oleh
KH Miftachul Akhyar
YouTube player

LAMPUNG|DutaIndonesia.com – KH Miftachul Akhyar akhirnya terpilih sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022 -2026 melalui sidang Ahlul Halli wal-Aqdi (AHWA) yang berlangsung Kamis 23 Desember 2021 tengah malam hingga Jumat dini hari.

Sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang terpilih di Muktamar ke-34 NU, bersidang di gedung serba guna kampus Universitas Lampung. Anggota Ahwa terpilih itu berasal dari usulan seluruh muktamirin (peserta muktamar), baik dari PWNU, PCNU, dan PCINU ketika melakukan registrasi peserta.

Sembilan ulama tersebut masing-masing KH Dimyati Rois yang mendapat  503 suara. Selanjutnya KH Ahmad Mustofa Bisri dengan perolehan 494 suara, KH Ma’ruf Amin dengan perolehan 458 suara,  KH Anwar Manshur dengan perolehan  408 suara,  TGH Turmudzi Badaruddin dengan perolehan  403 suara, KH Miftachul Akhyar (Kiai Mif) dengan perolehan  395 suara, KH Nurul Huda Jazuli dengan perolehan 385 suara, KH Ali Akbar Marbun dengan perolehan 309 suara,  dan KH Zainal Abidin dengan perolehan 272 suara.

“Ini hasil tabulasi terakhir.  Kami yakin insya Allah beliau-beliau berkenan untuk menjadi Ahwa,” kata Ketua SC Muktamar ke-34 NU Lampung, Muhammad Nuh.

Sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) ini dipilih  untuk menunjuk Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui musyawarah mufakat. Hal tersebut berdasarkan Anggaran Rumah Tangga Pasal 40 Ayat 1 Hasil Muktamar Ke-33 NU Tahun 2015 di Jombang.

 “Para ulama anggota Ahwa yang jumlahnya sembilan itu akan rapat sendiri.  Beliau akan rapat di belakang kita siapkan fasilitas TV dan zoom apabila beliau-beliau tidak bisa hadir rapat Ahwa dalam rangka menetapkan Rais Aam berikutnya,” katanya.

Para ulama AHWA akhirnya sepakat memilih KH. Miftachul Akhyar. Kiai Mif–panggilan Beliau– sendiri sebelumnya juga menjabat Rais Aam PBNU dan Ketua MUI Pusat.

Kiai Mif  lahir pada tahun 1953. Beliau merupakan putra kesembilan dari tiga belas bersaudara, dari KH. Abdul Ghoni, seorang pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. Ayah KH. Miftachul Akhyar merupakan karib KH. M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada KH. Romli di Rejoso, Jombang.

Kiai Miftach mondok di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Pondok Pesantren Rejoso, Jombang, Jawa Timur, Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, Pondok Pesantren Lasem, Jawa Tengah, Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

KH. Miftachul Akhyar adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya, sebuah paku bumi bagi kota Surabaya, ibukota Jawa Timur dengan penduduk yang mayoritas nahdliyin.

Sementara itu, anggota AHWA lain adalah  KH Dimyati Rois.

Mengutip ngopibareng.id, KH. Dimyati Rois atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abah Dim lahir pada 5 juni 1945 di Tegal Glagah Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara yaitu dari pasangan KH. Rois dan Nyai Djusminah.

Setelah selesai pendidikan formal, kemudian pada sekitar tahun 1956 beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal yang diasuh oleh KH. Ahmad Ru’yat. Beliau mondok di Pondok Pesantren APIK selama kurang lebih 14-15 tahun. KH Dimyati Rois saat ini menjadi Pengasuh Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

 Selanjutnya adalah KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).

KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus, lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Beliau lahir dari seorang ibu yang bernama Nyai Marafah Cholil dan seorang ayah yang hebat bernama KH. Bisri Mustofa sang pengarang Kitab Tafsir Al Ibriz li Ma’rifah.

Selain itu, Kakeknya, KH. Zaenal Mustofa adalah seorang saudagar ternama yang dikenal sangat menyayangi ulama. Pada tahun 1955, KH. Zaenal bersama keluarganya mendirikan Taman Pelajar Islam (Roudlotut Tholibin). Pondok pesantren tersebut kini diasuh oleh Gus Mus.

Alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Cairo (Mesir, 1964-1970) untuk studi islam dan bahasa arab ini, sebelumnya menempuh pendidikan di SR 6 tahun (Rembang, 1950-1956), Pesantren Lirboyo (kediri, 1956-1958), Pesantren Krapyak (Yogyakarta, 1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang, 1962-1964).

Selain itu  KH Ma’ruf Amin. 

Prof Dr (HC) KH Ma’ruf Amin adalah Wapres RI. Beliau  lahir di Kresek, Tangerang, pada 11 Maret 1943. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten. Ayahnya, Mohamad Amin dan kakeknya merupakan seorang kiai. Sebelum masuk pesantren Ma’ruf Amin sempat menempuh pendidikan dasarnya di sekolah rakyat di Kecamatan Kresek.

 Kiai Ma’ruf Amin kemudian melanjutkan pendidikannya di pesantren berpengaruh yang didirikan oleh pendiri NU, Hasyim Asy’ari. Ma’ruf Amin kemudian meraih gelar sarjana di bidang Filsafat Islam dari Universitas Ibnu Khaldun di Bogor, Jawa Barat. Sebelum menjabat sebagai wakil presiden RI, Ma’ruf Amin memiliki pengalaman legislatif sejak 1971 hingga 1999.

Kemudian  KH Anwar Manshur.

KH. M. Anwar Manshur atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah War lahir di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Manshur Jombang dengan Nyai Salamah, putri ketiga pendiri Pesantren Lirboyo KH. Abdul Karim.

Sejak kecil, KH M. Anwar Manshur diasuh di Lirboyo. Riwayat pendidikannya dimulai dengan menimba ilmu di Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang (pondok ayahnya sendiri). setelah itu, menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng sampai tingkat tsanawiyah dan untuk selanjutnya meneruskan pendidikannya ke Pesantren Lirboyo, kota Kediri. Saat ini KH Anwar Manshur merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo.

 Selanjutnya TGH Turmudzi Badaruddin.

Tuan Guru Bagu atau yang kerap disapa dengan panggilan Tuan Guru Haji (TGH) Turmudzi Badaruddin lahir pada hari Rabu, 1 April 1936 M atau bertepatan dengan 9 Muharram 1355 H di Bagu. Beliau merupakan putra dari pasangan Tuan Guru Haji Raden Badaruddin dengan Hj. Aminah binti Haji Ridwan.

Setelah selesai belajar dengan ayahnya, beliau kemudian berguru agama pada seorang tuan guru legendaris di Pulau Lombok, yakni Tuan Guru Shaleh Hambali Bengkel, pendiri Ponpes Darul Qur’an. Di sana, Turmuzi Badaruddin muda menimba ilmu selama 14 tahun sejak 1944-1958. TGH Turmudzi Badaruddin saat ini menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu, Lombok Tengah, NTB.

Kemudian KH Nurul Huda Jazuli.

KH Nurul Huda Jazuli merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli yang merupakan muassis Pondok Al-Falah Ploso. KH Nurul Huda Jazuli selalu berpesan tentang pentingnya memondokkan anak di pondok pesantren. Kiai Nurul Huda Jazuli juga kerapkali berpesan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan pesantren besar sehingga tidak ada alasan bagi para santri untuk tidak menjaga dan mengurus NU.

Jatim Pilih Kiai Mif – Gus Yahya

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam sidang Kamis siang peserta sidang sepakat menerima LPj pengurus dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Tidak hanya itu, mayoritas PWNU juga sepakat untuk mengusulkan kepada (AHWA) agar KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan mengusulkan kepada muktamirin agar  nama KH Yahya Cholil Staquf menjadi Ketua Umum PBNU periode 2021-2026. Tidak tanggung-tanggung total ada 25 PWNU dengan tegas menyampaikan duet Kiai Mif dan Gus Yahya dalam pandangannya.

“Logikanya begitu, Rais Aam PBNU mendatang ya.. Kiai Mif. Ketum Tanfidziyah PBNU, Gus Yahya. Ini kalau mengacu kepada pandangan umum muktamirin,” demikian dikatakan salah seorang Ketua PCNU dari Jawa Timur, Kamis 23 Desember 2021 sekitar pukul 13.00 WIB.

 Katib Syuriah PWNU Jatim KH Safruddin Syarif sendiri, saat membacakan pandangan umum di GSG Kompleks UIN Raden Intan Lampung, juga menyebut hal yang sama.

“Menyepakati untuk mengusulkan kepada AHWA ( ahlul Halli wal aqdi) bahwa nama KH Miftachul Achyar sebagai Calon Rais Aam dan kepada muktamirin nama KH Yahya Cholil Staquf sebagai Calon Ketua Umum PBNU,” kata Kiai Safruddin.

Masih menurut Kiai Syafruddin, sosok KH Mif dan Gus Yahya tepat untuk menahkodai PBNU lima tahun mendatang. Keduanya dianggap pasangan yang tepat untuk memajukan NU menghadapi tantangan dunia yang kian kompleks ini. Apalagi kiprah NU untuk memajukan peradaban ini juga kian tak ringan seiring pesatnya perubahan teknologi maupun tantangan persoalan zaman yang kian beragam.

“Kami akan terus mengawal hingga sidang pemilihan nanti. Tentu dukungan ini sangat memungkinkan akan terus bertambah melihat dinamika di muktamar,” katanya. (adi)

No More Posts Available.

No more pages to load.