SURABAYA| DutaIndonesia.com – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Jawa Timur (Jatim) secara umum berjalan lancar. Namun demikian, tanggapan siswa peserta TKA beragam. Sejumlah siswa mengeluh banyak materi soal TKA tidak sama dengan yang dipelajari siswa.
“Banyak materi tidak muncul dari yang saya pelajari pada mata pelajaran selama ini,” kata Ailen, siswi SMA Negeri 15 Surabaya, Selasa (4/11/2025).
Untuk itu, kata Ailen, akhirnya dia mengerjakan soal TKA sebisanya saja. “Saya kerjakan sebisanya. Semoga hasil nilainya nanti memuaskan,” katanya.
Ailen mengambil konsentrasi bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolahnya. Dia mengaku menyempatkan waktu khusus untuk belajar jelang pelaksanaan TKA.
“Seperti biasa, menjelang ujian saya menambah waktu khusus untuk belajar,” jelasnya. Dia sudah punya rencana untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi usai lulus SMA. “Saya harap bisa di perguruan tinggi negeri jurusan Sastra Inggris,” ucapnya.
Terpisah, Ardiansyah Putra mengaku soal TKA yang dikerjakan lumayan sulit. “Ada materi yang saya pelajari di sekolah tidak muncul saat TKA,” katanya. Namun, dia mengaku tidak ambil pusing dengan hasil TKA, karena dia tidak punya rencana kuliah usai lulus SMA. “Rencana saya langsung kerja untuk membantu orangtua. Tidak ada rencana kuliah,” terangnya.
Di Jawa Timur, terdapat 4.323 satuan pendidikan pelaksana TKA dengan total peserta 390.186 siswa. Terdiri dari 171.502 siswa SMA, 218.401 siswa SMK, 283 siswa SLB, dan 16.326 peserta Paket C. Dalam pelaksanaan TKA, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib yang harus dikerjakan semua siswa. Sementara mata pelajaran pilihannya yaitu Matematika lanjutan, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, Pendidikan Pancasila/PPKn, Projek Kreatif dan KWU, Bahasa Indonesia Lanjutan, Bahasa Inggris Lanjutan, serta Antropologi.
Kepala Pusat Standar Kebijakan Pendidikan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Irsyad Zamjani, usai meninjau pelaksanaan TKA di Surabaya memastikan bahwa seluruh pelaksanaan TKA di dua sekolah di Kota Pahlawan berjalan lancar. “Saya melihat langsung pelaksanaan TKA di SMA dan SMK secara keseluruhan berjalan dengan lancar. Pihak sekolah sudah mempersiapkan dengan baik infrastrukturnya, dan berkoordinasi dengan lintas lembaga seperti PLN agar dalam pelaksanaan tidak ada pemadaman listrik, dan siswa juga dipersiapkan dengan baik melalui pelatihan yang digelar oleh sekolah,” tutur Irsyad usai meninjau TKA di SMA Trimurti dan SMKN 5 Surabaya, Selasa (4/11/2025).
Salah satu peserta, Salwa, siswa kelas XIII SMK Negeri 5 Surabaya, mengaku awalnya gugup mengikuti TKA. “Alhamdulillah, saya dapat mengerjakan soal dengan baik. Saya berharap yang saya kerjakan mendapatkan hasil terbaik,” ujarnya.
Sementara Vina, rekan sekelas Salwa, menyampaikan rasa percaya diri meski sempat gelisah sebelum ujian. “Saat berangkat ke sekolah saya agak gelisah takut soalnya susah, tetapi ya saya percaya diri saja, karena pelatihan yang diberikan oleh sekolah sudah beberapa kali dilakukan. Alhamdulillah, saya dapat mengerjakan soalnya. Semoga saja mendapatkan nilai yang baik,” katanya.
Bukan hanya gelisah, siswa di Jakarta sempat stres. Guru-guru di SMAN 14 Jakarta mengakui tingkat stres siswa meningkat jelang pelaksanaan TKA.
“Jadi memang tingkat stresnya itu luar biasa,” ungkap Nataniel Roy, guru Bahasa Jepang SMAN 14 Jakarta.
Nataniel menyampaikan, para siswa sering kedapatan menangis seminggu sebelum ujian. Hal ini lantaran tak sedikit dari mereka yang khawatir akan masa depan.
“Jadi seminggu sebelum hari ini, begitu habis latihan, nangis. Ada yang memikirkan masa depannya. Karena ini kan takutnya buat masuk SNBP dan sebagainya,” ungkapnya.
Sebagai salah satu SMA favorit di Jakarta, Nataniel mengatakan siswa di SMAN 14 Jakarta tergolong sebagai siswa yang pintar. Para siswa sering kali memikirkan cara untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
“Mereka berpikir bagaimana bisa mendapatkan TKA yang dapat hasil nilai yang terbaik, yang tertinggi,” tuturnya. “Tetapi jadi kekhawatiran mereka kalau TKA-nya nggak bagus. Makanya sering suka nangis, suka sedih,” imbuhnya.
Selain untuk memetakan pemahaman siswa, TKA juga dapat menjadi validator nilai rapor. “Nilai TKA ini sebagai validator. Apakah di rapor nilai bahasa Indonesia 91 nilai TKA-nya kan gak jauh dari situ. Mereka tuh khawatirnya gitu ternyata nilai TKA kita tuh gak sesuai sama nilai di rapor,” ungkap Rachma, guru kimia di SMA tersebut.
“Takut karena sebagai validator nilai SNBP. Mereka khawatir seperti itu. Takutnya kalau nilai TKA di bawah dari nilai rapor, peluang mereka semakin kecil,” imbuhnya.
Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, saat meninjau hari pertama proses TKA di SMAN 6 Surabaya, Senin (3/11/2025), menyebut TKA hasilnya nanti bisa menjadi dasar bagi anak-anak masuk perguruan tinggi. Khofifah juga menekankan pentingnya kesiapan mental siswa. Dia berpesan supaya para siswa mengerjakan tes dengan jujur dan percaya diri.
TKA diatur dalam Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025. TKA bersifat opsional dengan tujuan mengukur capaian akademik peserta didik, menjadi referensi seleksi akademik, sekaligus menjadi salah satu bahan pertimbangan masuk perguruan tinggi khususnya jalur prestasi. Pelaksanaan TKA berlangsung dalam tiga gelombang, yaitu gelombang pertama 3 November untuk mata pelajaran (mapel) wajib dan 4 November untuk mapel pilihan. Sedang gelombang kedua diselenggarakan pada tanggal 5 November untuk mapel wajib dan 6 November untuk mapel pilihan. Selanjutnya gelombang khusus pada tanggal 8–9 November untuk peserta jalur pendidikan nonformal seperti Paket C.
TKA sempat diwarnai isu soal ujian bocor dan siswa live Tiktok. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Aries Agung Paewai memastikan tidak ada siswa di Jatim yang bermain media sosial apalagi sampai melakukan siaran langsung atau live di media sosial saat menjalani TKA. “Kalau sampai ada yang bermain medsos saat TKA pasti disanksi sesuai ketentuan,” katanya, Selasa (4/11/2025).
Menurutnya, larangan memanfaatkan perangkat media sosial sudah diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 95/M/2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. “Ada aturan tegas dilarang membawa dan menggunakan catatan dan/atau perangkat komunikasi elektronik, alat atau piranti komunikasi dan optik, kamera, kalkulator, dan sejenisnya ke dalam ruang TKA,” ujarnya.
Dalam aturan tersebut, menurutnya, juga ditegaskan terkait sanksi. “Sanksi bisa pembatalan ujian pada mata pelajaran bersangkutan atau dikeluarkan dari ruangan dan dinyatakan mendapat nilai 0 untuk mata pelajaran terkait,” ujarnya. Seperti diketahui, pelaksanaan TKA pada hari pertama Senin (3/11/2025) diwarnai dugaan tindak kecurangan. Dugaan tersebut ramai dibicarakan di media sosial X setelah diunggah oleh salah satu pengguna akun pada Senin siang. * kcm/det













