OKLAHOMA | DutaInonesia.com – Dr Natarianto Indrawan, ahli energi baru terbarukan asal Indonesia di Amerika Serikat (AS), menyambut positif terobosan peneliti Korea Selatan (Korsel) terkait baterai silikon yang mampu menggerakkan mobil listrik dengan jarak tempuh hingga 1.000 km sekali isi. Hal itu jelas menjawab salah satu kelemahan utama mobil listrik berbasis baterai (BEV), yaitu range anxiety. Dan jika berhasil dikomersialkan secara luas, inovasi ini akan mempercepat pergeseran dari mobil bensin ke mobil listrik.
“Namun, soal klaim bahwa terobosan itu mengakhiri era mobil BBM (bensin), hal itu belum tentu berarti satu solusi tunggal, karena di sisi lain mobil hidrogen justru sejak awal tidak memiliki masalah jarak tempuh,” kata Natarianto kepada DutaIndonesia.com.
Selain peneliti di bidang energi, Natarianto juga pengusaha energi hidrogen, yang saat ini tengah membangun kilang di Negeri Paman Sam. Natarianto Indrawan merupakan Founder dan CEO FlexiH, Inc,– sebuah perusahaan rintisan dalam mendukung pengembangan Hidrogen Hub atau H2Hub) di AS.
Diaspora Indonesia asal Belitung itu lalu memberikan perbandingan langsung antara mobil listrik termasuk berbaterai silikon dengan mobil hidrogen.
Pertama soal jarak tempuh & waktu pengisian. Menurut Natarianto, mobil listrik baterai silikon dengan jarak tempuh ±1.000 km tetapi tetap membutuhkan waktu pengisian puluhan menit hingga jam, tergantung daya charger. Sementara mobil hidrogen dengan jarak tempuh 600–800 km tapi waktu pengisian 3–5 menit. “Itu setara mengisi bensin,”ujarnya.
Artinya, kata dia, keunggulan hidrogen tetap ada untuk pengguna yang membutuhkan fast turnaround.
Kedua, soal berat & skala kendaraan. Natarianto menjelaskan, bahwa baterai berkapasitas sangat besar (meski silikon lebih efisien) tetap menambah berat signifikan pada kendaraan, kurang ideal untuk truk berat, bus jarak jauh, dan kendaraan industri. Sedangkan hidrogen jauh lebih unggul untuk heavy-duty transport, logistik, dan armada komersial.
Ketiga terkait rantai pasok & material.
“Baterai silikon masih bergantung pada lithium, manufaktur elektrokimia kompleks, dan degradasi jangka panjang.
Sedang Hidrogen justru membuka jalur energi baru—terutama hidrogen rendah karbon—yang tidak bergantung pada mineral baterai kritis,” katanya.
Keempat, soal sistem energi, bukan sekadar kendaraan.
Mobil listrik terbatas solusi soal kendaraan. Sementara hidrogen bisa menjadi solusi sistem energi, mulai transportasi, listrik cadangan, industri, hingga penyimpanan energi skala besar.
Kesimpulan strategis, kata dia, terobosan baterai silikon tidak menyingkirkan mobil hidrogen, melainkan BEV (dengan baterai silikon) akan dominan untuk kendaraan penumpang perkotaan dan jarak menengah.
“Sementara FCEV (hidrogen) akan tetap unggul untuk jarak jauh, kendaraan berat, dan ekosistem energi terintegrasi,” katanya.
RI Bisa Meniru
Seperti diberitakan sebelumnya, Indonesia perlu meniru Korea Selatan (Korsel) dalam pengembangan energi, khususnya untuk industri otomotif. Paling mutakhir peneliti Korsel berhasil mengembangkan mobil listrik dengan baterai berbahan silikon yang diramal bakal mengubah total industri otomotif dunia.
Dimas Harris Sean Keefe, akademisi muda asal Indonesia yang juga menjabat sebagai dosen di Graduate School of International Studies (GSIS), Pusan National University, Korea Selatan, menilai, terobosan baterai silikon dari Korea Selatan menunjukkan bahwa inovasi energi hanya bisa berdampak besar jika didukung ekosistem yang utuh serta riset yang terarah, kebijakan pemerintah yang konsisten, serta kesiapan industri dan rantai pasok. Di Korea, kendaraan listrik didorong lewat insentif pajak dan infrastruktur yang jelas, sehingga inovasi cepat bergerak ke tahap komersialisasi.
Bagi Indonesia, pelajarannya bukan hanya soal teknologi, tetapi strategi. Indonesia memiliki keunggulan sumber daya seperti nikel, namun nilai tambah akan maksimal jika riset, industri, dan kebijakan perdagangan terintegrasi. Tanpa itu, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok bahan baku dalam global supply chain, bukan pemain utama dalam industri kendaraan listrik dunia.
Baterai berbahan silikon membuat kendaraan dapat melaju hingga 1.000 km dalam sekali pengisian daya. Dengan temuan ini, era mobil bermesin cetus api yang ditenagai BBM berpotensi diakhiri.
Pasalnya, salah satu hambatan utama dalam transisi dari kendaraan bermotor berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik selama ini disebabkan oleh persoalan jarak tempuh. Keterbatasan kapasitas baterai membuat peralihan dari BBM masih dihindari oleh konsumen.
Fokus penelitian para ahli dari Pohang University of Science and Technology di Korea Selatan adalah material silikon.
Material silikon banyak diteliti untuk digunakan dalam pembuatan baterai karena tersedia melimpah berbagai belahan dunia. Namun, silikon juga punya karakter yang membuatnya bermasalah.
Ukuran elemen silikon bisa bertambah besar hingga tiga kali saat dicas, kemudian menyusut kembali. Karena itu, kebanyakan penelitian mencoba membuat baterai dengan material silikon berbentuk partikel nano yang ukurannya sangat kecil.
Permasalahannya, ongkos untuk memproduksi partikel nano sangat mahal dan prosesnya sangat kompleks.
Peneliti dari Pohang punya pendekatannya yang berbeda. Mereka justru menggunakan partikel silikon berkurang 1.000 kali lebih besar, yaitu dalam skala mikro. Elemen ukuran ini lebih mudah dan murah untuk diproduksi dengan densitas energi yang lebih lega.
Peneliti kemudian mencari solusi dari masalah kembang-kempis partikel silikon. Mereka menggunakan gel polimer elektrolit yang bentuknya berubah ketika elemen silikon berubah bentuk. Gel ini kemudian diikat secara kimia dengan radiasi lewat tembakan elektron. Hasilnya, adalah ikatan yang stabil meskipun partikel silikon kembang-kempis.
Bahkan, kestabilan baterai silikon buatan para peneliti setara dengan baterai lithium-ion standar, dengan densitas energi 40 persen lebih besar.
“Kami menggunakan anoda mikro-silikon, hasilnya tetap baterai yang stabil. Riset ini membawa kita lebih dekat ke sistem baterai lithium-ion densitas-energi-tinggi,” kata Park Soojin dari Pohang University.
Para peneliti menyatakan baterai rancangan mereka bisa dengan mudah diaplikasikan. (gas)
TONTON VIDEO NATARIANTO INDRAWAN INI:











