Saat Turun Salju Memang Indah, Tapi Saat Badai Kami Lelah dan Sakit

oleh
syarif pak tani salju
Syarif Syaifulloh di tengah hamparan salju Kota Philadelphia.

Warga wilayah tengah dan pantai timur Amerika Serikat (AS) hingga sekarang masih menghadapi badai salju. Termasuk di Kota Philadelphia, Negara Bagian Pensylvania. Salah seorang diaspora Indonesia di Kota Philadelphia, Syarif Syaifulloh, yang akrab disapa Pak Tani Philadelphia, merasakan dahsyatnya cuaca ekstrem yang memicu badai salju hingga merenggut nyawa 38 orang di 14 negara bagian AS–data sampai Selasa, 27 Januari 2026.

Oleh Gatot Susanto

SUDAH dua minggu ini Syarif Syaifulloh dan warga kota Philadelphia harus sibuk membersihkan salju. Meski saat ini kondisinya berangsur normal, tapi salju masih menghampar di mana-mana. Petugas dari Pemkot juga masih sibuk mengangkut tumpukan salju untuk dibuang ke suatu tempat.

“Badai salju tahun ini termasuk parah, di mana sudah dua minggu salju masih belum mencair. Ini akibat suhu udara terus menerus dingin, sampai di bawah Celsius, suhu terendah adalah 1 Fahrenheit atau kisaran minus 17 Celsius. Bahkan sungai yakni Schuylkill River saat ini beku,” kata Syarif kepada DutaIndonesia.com, Selasa (10/2/2026).

Sebelumnya kondisi di South Philadelphia cukup parah. Setelah badai salju melandai semua jadi beku dan mengeras. Bahkan untuk membersihkan tumpukan es, orang Amerika harus memakai hammer. “Pakai palu untuk memecahkan salju supaya mobil bisa dikeluar,” katanya.

Aktivitas warga terganggu. Sekolah libur. Toko-toko banyak yang tutup sebab badai salju tebal. Sebagian warga panik khawatir badai salju berkepanjangan sehingga memborong bahan makanan. “Kami sendiri tidak sampai panik dan memborong bahan makanan. Tetap prepare persiapan, tapi hanya sesuai kebutuhan saja. Terutama air minum dan power station serta lampu senter,” katanya.

Syarif belum tahu kapan musim salju ekstrem ini akan berakhir. Karena prakiraan cuaca minggu depan masih dingin dan turun salju lagi meski tidak besar. “Kalau sesuai musim normal, Maret sudah hangat,” ujarnya.
Saat ditanya apa tumpukan es, di mana tingginya ada yang hampir setinggi rumah itu, kalau mencair tidak menyebabkan banjir? Syarif mengatakan, tidak sampai membuat banjir sebab setiap hari petugas bekerja keras mengangkut salju itu untuk dibuang ke tempat lain.

“Tidak akan banjir. Semua salju di Kota Philadelphia, khususnya di jalan utama, sudah dikeruk dan dipindahkan pakai truk besar. Hanya di daerah perumahan-perumahan masih banyak salju. Terutama di South Philadelphia, di sana di sana banyak diaspora Indonesia,” kata pria yang beberapa kali menerima penghargaan dari Pemerintah Daerah Philadelpia, antara lain Fatherhood Award atau Bapak Teladan dari Meternity Care Coalition Philadelphia USA tahun 2013 ini.

syarif pak tani
Syarif dan Haikal–putranya– sedang beraktivitas di Haikal’s Garden, dalam sebuah lukisan mural (pojok kanan atas) yang dipampang dalam acara Peresmian Mural Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” di Kota Philadelphia.

Lahan Haikal’s Garden sendiri yang semula banyak tanaman sayuran organik kini tertutup salju. Pak Tani juga belum bisa beraktivitas di lahan pertanian yang ada di sekitar rumahnya itu. “Sudah dua minggu ini vakum. Insya Allah pertengahan Maret akan beraktivitas lagi di Haikal’s Garden,” katanya.

Saat ini Syarif bekerja di CHOP – Children Hospital Of Philadelphia–sebagai cook. Meski badai salju melanda, rumah sakit tetap buka. Hanya saja, banyak karyawannya yang tidak masuk kerja.

“Kalau saya masih tetap kerja, karena jarak rumah sakit ke rumah saya hanya 5 menit membawa mobil. Lokasinya dekat. Nama rumah sakitnya Children Hospital of Philadelphia,” katanya.

Meski parah, tapi korban tidak sebesar badai salju sebelumnya. Hal ini, kata Syarif, karena sudah ada persiapan masyarakat menghadapi musim dingin ekstrem tersebut. “Saya belum tahu soal adanya korban, tapi tidak seperti badai salju sebelumnya,” kata Syarif yang asal Depok, Jawa Barat ini.

Banyak orang Indonesia suka dengan salju, tapi bagaimana bila salju itu dibawa sang badai? “Hahaha, betul. Saat turun salju memang bagus, memang indah, tapi setelah itulah kami lelah. Karena, saya banyak kerokin (mengeruk) salju. Plus sangat dingin, seperti beberapa hari lalu, suhu minus Celsius. Keluar 5 menit saja nggak pakai sarung tangan sudah nggak kuat. Tangan sakit dan kram,” katanya.

Seperti diketahui sedikitnya 38 orang di 14 negara bagian Amerika Serikat (AS) dilaporkan meninggal dunia hingga Selasa, 27 Januari 2026 akibat badai musim dingin besar yang melanda wilayah tengah dan timur negara itu. Badai tersebut membawa salju lebat, hujan es, serta suhu di bawah titik beku. Dilansir dari TRT World, badai mulai terbentuk pada Jumat dan memuncak sepanjang akhir pekan, menurunkan salju di wilayah yang sangat luas.

Kondisi tersebut mengacaukan lalu lintas darat, memicu pembatalan massal penerbangan di sejumlah kota, serta menyebabkan pemadaman listrik sebelum intensitas badai mereda pada Senin lalu. Meski demikian, suhu dingin ekstrem diperkirakan masih akan bertahan hingga beberapa hari ke depan.

Di New York City, sepuluh korban jiwa tercatat akibat badai tersebut. Wali Kota Zohran Mamdani mengatakan suhu di kota itu mencapai titik terendah dalam delapan tahun terakhir, yakni 8 derajat Fahrenheit, saat ia berbicara dalam konferensi pers pada Selasa pekan lalu. Mamdani menjelaskan bahwa seluruh korban meninggal ditemukan di luar ruangan, namun belum dapat dipastikan apakah mereka merupakan tunawisma. Lalu di Nashville, Tennessee, kota berpenduduk sekitar 680.000 jiwa, lebih dari 135.000 rumah dan tempat usaha masih tanpa listrik. Suhu diperkirakan turun hingga 6 derajat Fahrenheit pada Rabu pagi, dengan sensasi angin di bawah nol.

“Ini harus dijelaskan apa adanya,” ujar Wali Kota Nashville Freddie O’Connell dalam konferensi pers Selasa. “Ini adalah badai es yang bersejarah.”

Pejabat setempat menyebut sekitar 1.400 tunawisma telah memenuhi tiga tempat penampungan utama kota serta dua penampungan tambahan. Polisi, pemadam kebakaran, dan petugas darurat bekerja lembur untuk memantau kondisi di jalanan.

Nashville Rescue Mission, lembaga amal yang menyediakan makanan, pakaian, dan tempat tinggal sepanjang tahun, biasanya menampung sekitar 400 orang per malam. Namun selama gelombang dingin ini, jumlah tersebut melonjak hingga sekitar 7.000 orang.  (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.