NEW YORK|DutaIndonesia.com – Sebanyak 7 designers Indonesia, 2 designers diaspora Indonesia di America dan 1 designer dari Italia memeriahkan acara International Fashion and Arts season 11 yang diproduksi oleh seorang diaspora Indonesia di New York, Vanny Tousignant, dengan nama NEW YORK INDONESIA FASHION WEEK (NYIFW). Acara New York Indonesia Fashion Week berlangsung setiap bulan Februari dan September setiap tahunnya.
Nama New York Indonesia Fashion Week tercetus ketika adanya kolaborasi International Fashion and Arts Week dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York pada bulan September tahun 2021 ketika pada saat itu Konsul Jenderalnya adalah Dr Arifi Saiman MA.
Dari hasil kolaborasi itulah tercetus ide untuk disahkan nama New York Indonesia Fashion Week sebagai Produksi untuk fashion, culture, dan art di New York. Sebelum September 2021, surat pengesahan New York Indonesia Fashion Week sudah terbit dan dikeluarkan oleh State of New York dengan nama New York Indonesia Fashion Week LLC.
Untuk seorang Vanny, dunia fashion bukanlah suatu hal yang baru. Perempuan energik asal Maluku dan besar di Jakarta ini sudah malang melintang di dunia fashion internasional cukup lama. Bukan hanya di Amerika Serikat, tapi juga di Eropa.
“Saya besar dengan lingkungan Arts, Music, dan Fashion. Tenun dan Batik adalah seragam saya ketika saya teenager di Jakarta, tahun 80-an,” kata Vanny Tousignant kepada DutaIndonesia.com, Rabu (28/9/2022).
Balik ke New York Indonesia Fashion Week kemarin, yang digelar di 48 Wall Street, New York 10043 pada tanggal 11 September 2022 . Acara ini sangat sukses. Karena itu Vanny menerima banyak ucapan congratulations dari dunia fashion baik dari Tanah Air maupun dari Eropa dan Amerika sendiri.
“Kesuksesan buat saya adalah ketika designers kami merasa nyaman, senang dengan service kami dan juga dapat menjual hasil design mereka di sini. Sejak 2017, saya sudah membawa mungkin 50 designers dari around the world untuk mengikuti acara fashion kami di New York City,” katanya.
Untuk September 2022 ini Vanny bersama NYIFW kembali memboyong designers Tanah Air seperti Zuebarqa by Benz, Popong Sopia keduanya dari Bandung. Ariez dengan Sulam Jelujur dan Batik Siger keduanya dari Lampung. Sugeng Waskito dan Tari Made dari Yogyakarta. “Lalu, Michelle Hadip designer termuda kami dari Jakarta, berumur 13 tahun,” ujarnya.
Bukan hanya itu, dari Italia, Zigrida Sulaj Berhoni dan diaspora Indonesia di Amerika Dewi Maya dan Merry Salmeri.
“Untuk Lampung sendiri, ini pertama kalinya saya dapat membawa langsung dari Lampung. Saya senang sekali karena selama ini saya belum pernah ada designers yang dari Lampung. Saya kenal dengan Ibu Una dari Batik Siger cukup lama melalui media Facebook, kita sering bersapa di Facebook tetapi akhirnya kami dapat bertemu langsung di New York di dalam acara fashion show kami,” katanya.
Batik Siger adalah brand Ibu Una yang mana motifnya sangat khas dari Lampung, dan ini juga Batik Tulis, bukan Batik Print.
Untuk Kalimantan, Vanny juga membawa designer Zuebarqa by Benz. Yang menarik, walaupun Benz sendiri menetap di Bandung, tetapi karya yang dibawakannya ke Amerika memakai Tenun Batik dari Kalimantan Timur.
“New York Indonesia Fashion Week benar-benar membawa UMKM dari Indonesia untuk dapat membranding brand mereka di New York dengan harga yang sangat terjangkau. Kita tidak perlu mengeluarkan puluhan ribu dollar hanya untuk membranding di New York. Dengan harga yang terjangkau dan service yang tidak kalah dengan produksi high-end fashion di New York, designers Tanah Air pun dapat menikmati suasana Fashion selama New York Fashion Week,” jelasnya.
Vanny dan NYIFW pun membranding para designers tidak hanya di Stage atau Runway gelaran fashion show, tetapi juga mempromosikan mereka di BILLBOARD TIMES SQUARE dan di majalah fashion produksinya di New York.
“Untuk melihat suasana fashion show kami, cukup dengan meng-Google nama New York Indonesia Fashion Week maka semua akan terlihat dengan jelas, atau ke website kami Newyorkindonesiafashionweek.com. Kami berani bertarung di dalam service , market dan network di New York, karena kami akan selalu memberikan yang terbaik untuk designers kami, apalagi kami pun dapat membantu menjual koleksi-koleksi mereka di Rumah Singgah kami di New Jersey. Yang paling penting untuk kami designers kami senang, dan mereka pulang ke tanah air dengan koper kosong bukan kantong kosong,” katanya. (gas)

















