NEW YORK|DutaIndonesia.com – Sosok Vanny Tousignant dikenal sebagai satu-satunya diaspora Indonesia yang sukses menjadi produser fashion di Amerika Serikat. Vanny sukses menggelar berbagai event fashion show dengan brand New York Indonesia Fashion Week (NYIFW). Setiap tahun NYIFW setidaknya menggelar International Fashion & Arts sebanyak dua kali, yakni pada bulan Februari dan September.
Vanny pun gencar mempromosikan sekaligus memasarkan wastra Nusantara, khususnya Batik, karya desainer dan UMKM Indonesia di Amerika Serikat. Upaya Vanny ini pun disambut antusias para desainer dan UMKM Indonesia.
Vanny ternyata sejak kecil sudah menggeluti dunia seni. Termasuk fashion. Wanita energik ini juga lama berteman sejumlah artis saat masih tinggal di Jakarta.
“Saya menghabiskan masa kecil saya di Jakarta. Sejak SD sampai lulus SMA, semua di daerah Jakarta Selatan. Ketika saya SD saya suka menyanyi dan pernah manggung di panggung sekolah sendiri menyanyi diiringi guitar oleh guru kelas saya. Saya juga ikut menari, saya kurang ingat saat itu acara apa. Tapi sering sekali ikut tampil di pentas seni,” katanya kepada DutaIndonesia.com.
Saat SMP, Vanny masih suka menyanyi sebatas ikut paduan suara di gereja. Ketika di SMP itu dia memang lebih aktif di kegiatan olah raga. Sejumlah prestasi diraihnya saat itu.
“Running di SMP adalah specialty saya, 3 besar dari seluruh SMP 13, angkatannya Firda Razak, artis Indonesia dan Nani Sugianto penyanyi Indonesia. Mereka berdua teman dekat saya, tapi hanya Firda Razak yang masih berkomunikasi dengan saya sampai hari ini,” katanya.
Baca Berita Terkait:
Seperti diketahui Firda Razak terkenal lewat perannya sebagai Lulu, adik Lupus dalam film seri tokoh idola remaja Lupus I hingga Lupus V. Dia juga dikenal sebagai penyanyi di era 1990-an dan pemain sinetron serta pengusaha garmen. Saat Vanny menggelar International Fashion & Arts Week 11 September 2022 lalu, Firda Razak mengucapkan selamat atas suksesnya event tersebut. Sama-sama berkecimpung di dunia seni membuat keduanya akrab.
Vanny sendiri mulai mendesain baju sejak SMA. “Ketika SMA saya ikut kegiatan seni dan sudah mulai mendesign baju untuk group dance kami, masih sebatas acara sekolah semua. Tahun 1983/1984 saya berkecimpung di dunia theater di Bulungan, Jakarta Selatan. Pada saat itu suka nongkrong bareng beberapa artis, salah satunya Neno Warisman. Dia jauh di atas saya, pada saat itu Mbak Neno masih kuliah di Universitas Indonesia kalau nggak salah ngambil jurusan Sastra Prancis, tetapi tidak lama kami sekeluarga hijrah ke Amerika karena kami mendapatkan lottery Green Card yang pada saat itu dibuka oleh pemerintah Amerika dan Indonesia adalah salah satu negara yang juga qualified,” katanya.
Baca Berita Terkait:
Vanny tertarik dengan fashion sejak kecil karena kakaknya seorang desainer. Dia suka memperhatikan sang kakak kala membuat baju untuk pengantin pesanan para pelanggannya.
“Fashion yang saya maksud ketika kecil karena kakak saya yang paling besar adalah designers untuk baju pengantin dan dialah yang selalu saya perhatikan walaupun saya sendiri kala itu belum tergerak untuk dunia fashion,” ujarnya.
Akrab dengan dunia fashion membuat Vanny suka berpenampilan modis. Bahkan kadang eksentrik. Tidak heran jika dia mengagumi artis Reni Djajusman yang suka berbusana unik eksentrik.
“Yang saya ingat, saya selalu tampil beda di antara kawan-kawan saya. Contoh saya selalu memakai bandana, gelang dan kalung etnik, serta tas rotan dan baju tenun. Semua adalah kreatifitas saya sendiri. Saya juga pengagum Reni Djajusman, salah satu penyanyi kondang tahun 80-an, jadi saya suka dengan stylenya,” katanya.
Baca Berita Terkait:
Maka, wajar bila Vanny terjun total hingga sukses mendulang keberhasilan sebagai desainer dan produser fashion. Semuanya dilakukan secara otodidak. Belajar dari alam. Berguru pada lingkungan, sehingga karakternya sangat kuat, untuk mewujudkan keinginan memajukan seni-budaya dan fashion Indonesia di Amerika.
“Saya otodidak, tidak belajar di sekolah, tetapi belajar dari alam dan lingkungan. Keinginan dan kerja keras yang membuat saya sangat ingin memajukan seni dan fashion Indonesia di Amerika,” katanya.
Disahkan State of New York
Pada International Fashion & Arts Week 11 September 2022 lalu, Vanny bersama NYIFW menampilkan 7 designers Indonesia, 2 designers diaspora Indonesia di America dan 1 designer dari Italia. International Fashion and Arts season 11 yang diproduksi oleh Vanny Tousignant bersama NEW YORK INDONESIA FASHION WEEK (NYIFW) ini dinilai sukses baik saat pertunjukan maupun dalam penjualan produknya setelah fashion show.
Nama New York Indonesia Fashion Week tercetus ketika adanya kolaborasi International Fashion and Arts Week dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York pada bulan September tahun 2021 ketika pada saat itu Konsul Jenderalnya dijabat Dr Arifi Saiman MA.
Baca Berita Terkait:
Dari hasil kolaborasi itulah tercetus ide untuk mengesahkan nama New York Indonesia Fashion Week sebagai produksi untuk fashion, culture, dan art di New York.
Sebelum September 2021, surat pengesahan New York Indonesia Fashion Week sudah terbit dan dikeluarkan oleh State of New York dengan nama New York Indonesia Fashion Week LLC.
Perempuan energik asal Maluku dan besar di Jakarta ini memang sudah lama malang melintang di dunia fashion internasional. Bukan hanya di Amerika Serikat, tapi juga di Eropa. Vanny kini mempersiapkan fashion show di Eropa tahun 2023. “Saya baru pulang dari Amsterdam (Negeri Belanda) melihat calon venue fashion show tahun depan,” katanya, Senin (3/10/2022).
“Saya memang besar dengan lingkungan Arts, Music, dan Fashion. Tenun dan Batik adalah seragam saya ketika saya teenager di Jakarta, tahun 80-an,” kata Vanny Tousignant menambahkan.
Soal New York Indonesia Fashion Week yang digelar di 48 Wall Street, New York 10043 pada tanggal 11 September 2022, acara ini dinilai sangat sukses. Karena itu Vanny menerima banyak ucapan congratulations dari dunia fashion baik dari Tanah Air maupun dari Eropa dan Amerika sendiri.
“Kesuksesan buat saya adalah ketika designers kami merasa nyaman, senang dengan service kami dan juga dapat menjual hasil design mereka di sini. Sejak 2017, saya sudah membawa mungkin 50 designers dari around the world untuk mengikuti acara fashion kami di New York City,” katanya.
Pulang Koper Kosong
Untuk September 2022 ini Vanny bersama NYIFW kembali memboyong designers Tanah Air seperti Zuebarqa by Benz, Popong Sopia keduanya dari Bandung. Lalu Ariez dengan Sulam Jelujur dan Batik Siger keduanya dari Lampung. Sugeng Waskito dan Tari Made dari Yogyakarta. “Lalu, Michelle Hadip designer termuda kami dari Jakarta, berumur 13 tahun,” ujarnya.
Bukan hanya itu, ada pula dari Italia, Zigrida Sulaj Berhoni dan diaspora Indonesia di Amerika Dewi Maya dan Merry Salmeri.
“Untuk Lampung sendiri, ini pertama kalinya saya dapat membawa langsung dari Lampung. Saya senang sekali karena selama ini saya belum pernah ada designers yang dari Lampung. Saya kenal dengan Ibu Una dari Batik Siger cukup lama melalui media Facebook, kita sering bersapa di Facebook tetapi akhirnya kami dapat bertemu langsung di New York di dalam acara fashion show kami,” katanya.
Batik Siger adalah brand Ibu Una yang mana motifnya sangat khas dari Lampung, dan ini juga Batik Tulis, bukan Batik Print.
Untuk Kalimantan, Vanny juga membawa designer Zuebarqa by Benz. Yang menarik, walaupun Benz sendiri menetap di Bandung, tetapi karya yang dibawakannya ke Amerika memakai Tenun Batik dari Kalimantan Timur.
“New York Indonesia Fashion Week benar-benar membawa UMKM dari Indonesia untuk dapat membranding brand mereka di New York dengan harga yang sangat terjangkau. Kita tidak perlu mengeluarkan puluhan ribu dollar hanya untuk membranding di New York. Dengan harga yang terjangkau dan service yang tidak kalah dengan produksi high-end fashion di New York, designers Tanah Air pun dapat menikmati suasana Fashion selama New York Fashion Week,” jelasnya.
Vanny dan NYIFW pun membranding para designers tidak hanya di Stage atau Runway gelaran fashion show, tetapi juga mempromosikan mereka di BILLBOARD TIMES SQUARE dan di majalah fashion produksinya sendiri di New York.
“Untuk melihat suasana fashion show kami, cukup dengan meng-google nama New York Indonesia Fashion Week maka semua akan terlihat dengan jelas, atau ke website kami Newyorkindonesiafashionweek.com. Kami berani bertarung di dalam service, market dan network di New York, karena kami akan selalu memberikan yang terbaik untuk designers kami, apalagi kami pun dapat membantu menjual koleksi-koleksi mereka di Rumah Singgah kami di New Jersey. Yang paling penting untuk kami designers kami senang, dan mereka pulang ke tanah air dengan koper kosong, bukan kantong kosong,” katanya. (gas)
















