Ahmad Basho Launching Buku “Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama” Usai Pembukaan Muktamar ke-34

oleh

Dua Pengertian

Sementara, dalam salah satu kesimpulan dan temuannya, Ahmad Basho dalam bukunya, menyuguhkan dua alternatif pengertian khittah. Yakni yang khash (far’i-juz’i) dan yang ‘am-kulli. Yang khash (spesifik dan partikular) adalah naskah Khittah NU hasil rumusan Komisi Khittah yang disahkan dalam Muktamar Situbondo.

 Yang ‘am-kulli (universal, holistik) adalah segenap himmah, cita-cita dan pedoman perjuangan NU bagi agama dan bangsa dari masa berdirinya hingga kini, termasuk pelajaran yang ditimba dari jaman Wali Songo hingga kiprah ulama sebelum NU berdiri. Hasil-hasil Muktamar Situbondo tentang Khittah, dari Komisi 1 hingga 4, adalah bagian dari totalitas makna Khittah NU yang ‘am-kulli ini.

Basho juga mengajak masyarakat khususnya generasi muda NU untuk dapat memahami lebih dalam mengenai khittah dan politik NU, dengan pemahaman yang komprehensif. Karena, masalah Khittah NU harus dilihat baik dalam konteks politik nasional maupun konteks politik global. Dimana selalu ada kekuatan di luar NU yang akan membuat NU terpolitisasi dan  terfaksionalisasi, dan di-depolitisasi.

Daripada NU dijadikan maf’ulun bih dari permainan pihak luar, maka para ulama-kiai NU harus tampil berpolitik serta memberikan makna politik dalam konteks kebangsaan-kenegaraan dimana NU hadir sebagai fa’ilun, seperti yang pernah ditorehkan berdasarkan fakta sejarah bangsa ini. 

Ia juga berharap bahwa lahirnya buku ini, dapat memberikan pemahaman juga mengenai slogan yang kerap digaungkan, “Kembali ke Khittah 1926”. Karena selama ini, slogan tersebut hanya tampil sebagai pertarungan antar personal, yang mana tidak menggambarkan sebagai suatu paradigma berpolitik NU, dalam konteks nasional maupun global. 

Maka dari itu, perlu adanya perumusan kembali perihal makna politik dan berpolitik NU di perkembangan zaman saat ini. (gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.